Ibrah Kehidupan #171 : Umar Bin Abdul Aziz, Pidato Politik Kenegaraan di Hari Kedua Pasca Pelantikan (-3)

0
259
Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Di hari kedua pasca pelantikannya menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pidato politik umum. Di ujung pidatonya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi sesudah Muhammad saw dan tiada kitab suci sesudah al-Quran, aku bukan penentu hukum tetapi aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah tetapi aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu justeru aku orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah”.

Sehabis mengucapkan pidato politik yang pertama kali itu, Umar bin Abdul Aziz kemudian duduk dan menangis “Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku” sambung Umar bin Abdul Aziz. Amanah menjadi Khalifah bagiku adalah ujian berat, tidak main-main.
Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin.

Aku tahu mereka semua ini akan menuntutku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat menjawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah karena aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw’’. Mendengar jawaban suaminya itu, isterinya juga turut menitikkan air mata.
Aku harus bekerja keras menjaga dan melaksanakan amanah ini, sehingga punya bahan jawaban di akhirat kelak jika ada rakyatku yang menuntutku.
Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang sangat dihormati oleh rakyatnya. Beliau dikenang sebagai pemimpin yang berani menegakkan keadilan di masa pemerintahannya yang cenderung singkat yakni sekitar tiga tahunan . Beliau tercatat menjalani gaya hidup yang terbilang keras dan secara sukarela menyerahkan kekayaan pribadi keluarganya kepada rakyat, sehingga mampu mengembalikan kepercayaan rakyat kepada pimpinannya.
Reputasinya dikenang terutama di tengah masa dinasti Umayyah yang marak kasus korupsi dan oligarki (kecenderungan kekuasaan elit tertentu). Tak hanya itu, karena sifatnya yang amanah sebagai pemimpin beliau juga diberi gelar “Khalifah Kelima”. Gelar tersebut merujuk pada khulafaur rasyidin, yaitu empat khalifah di zaman setelah Nabi Muhammad saw.

Umar bin Abdul-Aziz, bergelar Umar II. Beliau adalah khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan merupakan keturunan dari khalifah sebelumnya, tetapi ditunjuk langsung oleh Sulaiman bin Abdul-Malik dan disetujui oleh seluruh umat Islam.
Umar bin Abdul Aziz, terpilih karena terlihat dengan jelas kualitas pribadinya, dan kualitas intelektualnya. Seorang yang alim, jujur, amanah, wara’, dan memahami ajaran agama Islam bukan hanya tekstual teoritis, tetapi kontekstual aplikatif.
Umar bin Abdul Aziz mengawali pemerintahannya dengan membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi, dimana keluhan-keluhan masyarakat dapat diselesaikan.
Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz melakukan gebrakan yang tidak diduga sebelumnya, terutama oleh keluarga, famili, dan orang-orang terdekatnya. Banyak orang yang tercengang melihat kebijakan-kebijakan beliau yang tidak biasa dilakukan oleh orang-orang yang tengah berkuasa, (baca pada seri berikutnya).

IBRAH DARI KISAH INI:

Sungguh, sungguh, Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok pemimpin yang fenomenal.
Hampir menjadi hal yang lumrah bahwa seseorang menginginkan jabatan ataupun kedudukan yang terhormat. Jika keinginan itu tercapai maka siapapun orangnya akan merasa bahagia dan bahkan harus mengeluarkan dana untuk syukuran sebagai tanda keberhasilan memperoleh jabatan atau kedudukan yang diidam-idamkan. Itu sudah menjadi rumus kehidupan.

Wahai aktifis 1912, Tetapi rumus itu tidak berlaku bagi Umar bin Abdul Aziz. menerima jabatan sebagai khalifah dinilainya sebagai ujian yang maha berat. Begitu selesai dilantik, Umar pulang sambil menangis memikirkan banyaknya masalah yang harus dihadapi, bahkan sampai beliau memikirkan bagaimana jika nanti di akherat di dituntut oleh rakyatnya karena dianggap tidak bisa melaksanakan amanah.

Dalam Bahasa al-Qur’an, orang yang tidak bisa menjaga dan melaksanakan amanah dianggap bodoh dan zhalim.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS. Al-Ahzab ayat 72).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here