Ibrah Kehidupan #172: Umar Bin Abdul Aziz, Terobosan Kebijakan Politik yang Mengagumkan (-4)

0
151
Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Di antara kebijakan-kebijakan politik Umar Bin Abdul Aziz, antara lain:

Pertama, Menolak fasilitas kekhalifahan untuk dirinya yang dianggapnya berlebihan. Para petugas kekhalifahan yang hendak mengawalnya dengan kendaraan khusus mendapatkan sesuatu yang di luar dugaan. Umar menolak kendaraan dinas, dan meminta kepada salah seorang di antara mereka untuk menyiapkan binatang tunggangan milik pribadinya.
Umar bin Abdul Aziz akan menyalakan lampu milik umum jika pekerjaannya berhubungan dengan kepentingan kaum Muslimin. Ketika urusan kaum Muslimin selesai, maka dia akan memadamkannya dan segera menyalakan lampu milik pribadinya sendiri.

Kedua, Menerapkan pola hidup sederhana. Kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz dalam kehidupan benar-benar diilhami oleh perilaku hidup sederhana Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Beliau sangat sederhana dalam berpakaian.

Ketiga, Menghapuskan hak-hak istimewa yang diberikan kepada keluarganya.

Keempat, Menolak suap dalam bentuk apa pun.

Kelima, Menolak sistem kekhalifahan yang diwariskan secara turun-temurun.

Keenam, Menghapuskan budaya materialistik di kalangan pejabat.

Ketujuh, Melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara bijaksana. Suatu ketika Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz, salah seorang putra Umar, menemui ayahnya, dan berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, jawaban apa yang engkau persiapkan di hadapan Allah Swt. di hari Kiamat nanti, seandainya Allah menanyakan kepadamu, ’Mengapa engkau melihat bid’ah, tapi engkau tidak membasminya, dan engkau melihat Sunnah, tapi engkau tidak menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat?’”
Umar menjawab, Wahai anakku, sesungguhnya kaummu melakukan perbuatan dalam agama ini sedikit demi sedikit. Jika aku melakukan pembasmian terhadap apa yang mereka lakukan secara frontal, maka aku tidak merasa aman bahwa tindakanku itu akan menimbulkan bencana dan pertumpahan darah, serta mereka akan menghujatku.

Kedelapan, Menegakkan keadilan dan mengabdikan diri untuk menyejahterakan umat. Tekad Umar bin Abdul Aziz untuk menyejahterakan rakyatnya dan menegakkan keadilan adalah prioritas utama.

Suatu saat, istrinya pernah menemuinya sedang menangis di tempat shalatnya. Lalu istrinya berusaha membesarkan hatinya. Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Wahai istriku, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang-orang sakit dan tersia-siakan, orang-orang yang tak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan tertawan dalam perbudakan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, tapi hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri.

Saya tahu dan sadar bahwa Rabbku kelak akan menanyakan hal ini di hari Kiamat. Saya khawatir saat itu saya tidak memiliki alasan yang kuat di hadapan Rabbku. Itulah yang membuatku menangis.”

Kesembilan, Menolak nepotisme.

Kesepuluh, Menghukum orang sesuai dengan kesalahannya. Yahya al-Ghassani menceritakan, ketika masih menjabat sebagai gubernur, Umar bin Abdul Aziz pernah melarang Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik untuk membunuh orang-orang Haruri (kaum Khawarij yang bermarkas di Desa Haruri). Umar memberi saran kepada Khalifah, ”Penjarakan saja orang-orang itu hingga mereka bertaubat.”

IBRAH DARI KISAH INI :
Umar bin Abdul Aziz, sungguh telah melakukan berbagai terobosan kebijakan selama memerintah menjadi khalifah ke 8 dinasti Bani Umayyah. Berbagai perubahan secara radikal telah dilakukan sebagai bagian dari dinamisasi organisasi pemerintahannya.

Umar bin Abdul Aziz, telah melakukan pemberdayaan secara menyeluruh para pejabatnya, sehingga kinerja apparat pemerintah telah berubah dari “Status quo” menjadi pemerintahan yang dinamis, merakyat, dan bermartabat.

Berbagai terobosan kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, telah menyadarkan masyarakat akan arti penting sebuah tanggung jawab baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat yang dipimpin. Rakyat semakin memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik.

Para pegiat dakwah 1912, jika pemimpin benar-benar memegang dan melaksanakan amanah dengan baik, dan jika rakyat yang dipimpin memahami hak dan kewajibannya sebagai rakyat atau warga negara yang baik, maka dapat dipastikan kehidupan bermasyarakat akan aman dan damai, Makmur berkeadilan, adil berkemakmuran, kehidupan menjadi lebih berkah.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. Al-A’rof ayat 96).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here