Ibrah Kehidupan #175: Abdurrahman ad-Dakhil, Rajawali dari Quraisy, Penakluk Cordoba (-1)

0
255
Foto monumen Abdurrahman Ad Dakhil diambil dari ricones de Granada

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan bin Al Hakkam bin Harb bin Umayyah. Beliau lahir pada tahun 110 H atau 728 M dari kalangan Bani Umayyah. Di kemudian hari dikenal dengan panggilan “Abdurrahman ad-Dakhil”.

Secara bahasa ad-Dakhil artinya “masuk”. Beliau seorang pangeran pelarian dari istana Bani Umayyah, yang lolos dari kejaran dinasti baru Bani Abbasyiyah. Berhasil masuk ke wilayah Andalusia (sebelum berubah menjadi Spanyol), dan akhirnya berhasil menjadi penguasa di Spanyol.

Abdurrahman ad-Dakhil dikenal sebagai sosok pemimpin yang cerdas, berani, tegar dan kuat, yang menjadi pelopor tegaknya peradaban Islam di Andalusia, Spanyol. Julukannya adalah Rajawali dari Quraisy.
Ia lahir dan melalui masa remajanya saat Daulah Bani Umayyah berada pada salah satu puncak kebesarannya di bawah kepemimpinan kakeknya, Hisyam, yang berkuasa selama lebih dari 20 tahun (724-743 M).

Abdurrahman ad-Dakhil menyaksikan bagaimana kakeknya memerintah dengan cakap dan sangat ahli dalam strategi militer. Dalam masa pemerintahannya yang cukup panjang, kakeknya berhasil mengatasi berbagai konflik yang terjadi di dalam wilayah kekuasaannya dan melebarkan kekuasaannya hingga ke belahan barat Prancis dan Sicilia Italia.
Selain itu, kestabilan dan kemakmuran pemerintahannya menjadikan setiap orang mampu menikmati kesejahteraan, yang akhirnya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kesusateraan di samping lalu lintas perdagangan yang ramai dan sibuk.
Saat berusia 19 tahun, Abdurrahman ad-Dakhil melarikan diri dari istana di Irak saat Dinasti Abbasiyah mulai berkuasa dan merebut tahta Dinasti Umayyah. Ad-Dakhil muda mengarungi gurun Syria menuju Palestina. Kemudian menyeberangi gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wilayah Afrika menuju Andalusia (Spanyol) yang telah ditaklukkan oleh nenek moyangnya dari Dinasti Umayyah.
Bersama pendamping setianya yang bernama Baddar, Abdurrahman ad-Dakhil menyusuri gurun menghindari kejaran pasukan Bani Abbasyiyah. Kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat (memprihatinkan) dibandingkan saat ia masih hidup di istana yang mewah dan senantiasa dilayani serta dihormati.

Kini hidupnya terlunta-lunta sebagai seorang pelarian dan nyawa senantiasa terancam oleh pihak-pihak yang mengejar dan mengetahui jejaknya. Tetapi sejarah mencatat, bayangan kemakmuran dan keagungan Bani Umayyah di masa kakeknya, Hisyam, berkuasa, senantiasa lekat dalam ingatan Abdurrahman dan selalu bergelora di dalam dadanya untuk kembali diwujudkannya.

Sedangkan penderitaan di masa pelarian dan pengejaran yang dialaminya, serta upaya penyusunan kembali kekuatan selama hampir enam tahun kemudian menjadi sekolah kepemimpinan terbaik dalam hidupnya.

Semua itu menempa kesabaran, kekuatan, ketegaran dan keberanian, serta jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Kelak, ketika impiannya terwujud di belahan dunia Islam lain yang terletak di Benua Eropa, Dia berhasil menjadi penakluk daratan eropa, bahkan kemudian menduduki kota penting Cordova yang di kemudian hari menjadi simbul peradaban islam di Eropa. jejak-jejak hasil tempaan di masa pelarian menjadi pondasi yang kokoh membangun Daulah Umayyah yang baru, yang tak kalah dengan yang dibangun kakek moyangnya.

IBRAH DARI KISAH INI :

Abdurrahman ad-Dakhil, anak muda pelarian, berasal dari keluarga dinasti Umayyah, lolos dari kejaran tentara dinasti baru Abbasyiyah. Melarikan diri menyusuri gurun siriya, gurun sinai, sampai wilayah Marokko (afrika utara). Dan akhirnya “masuk” ke wilayah Andalusia (di kemudian hari menjadi Spanyol). Dia benar-benar seorang pelarian yang kemudian menjadi penakluk Cordova (cordoba) kota yang amat terkenal dalam petadaban islam itu.

Berbekal keberanian, kecerdikan, kesabaran, dan keuletan serta talenta kemiliteran yang diwariskan oleh kakeknya Hisyam, menjadi modal social dan psikologi untuk membangun kekuatan. Dan akhirnya berhasil mendirikan kekhalifahan bani Umayyah di Spanyol, eropa.
Abdurrahman ad-Dakhil, memerintah dengan sangat focus dan menghasilkan pembangunan yang mengagumkan, salah satunya membangun kota Cordoba (cordova). Di kemudian hari Abdurrahman ad-Dakhil dikenal dengan julukan :Rajawali dari Quraisy, Penakluk Cordoba”.

Wahai kader 1912, memang benar sebuah pepatah mengatakan : sebuah cita-cita tidaklah mudah dapat diraih kecuali harus melalui berbagai cobaan, rintangan, dan halangan. Siapa yang ulet dan sabar maka cita-citapun akan tercapai. (Man Jadda wajada, Man Saaro washola / barang siapa bersungguh sungguh maka dia akan menemui hasilnya, barang siapa yang teguh berjalan menuju cita-citanya maka dia akan sampai juga).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here