Ibrah Kehidupan #177: Abdurrahman ad-Dakhil, Spanyol berhasil menjadi Menara Peradaban Islam di Eropa (-3)

0
198
Foto monumen Abdurrahman Ad Dakhil diambil dari ricones de Granada

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Masa pemerintahan Abdurrahman ad-Dakhil dikenal oleh para ahli sejarah Islam dengan masa pembangunan besar-besaran. Dia membangun kota menjadi lebih indah, membuat pipa air agar masyarakat ibu kota memperoleh air bersih, kemudian mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Kordoba dan istana.
Abdurrahman ad-Dakhil juga membuat sebuah Plaza atau kawasan taman luas nan indah yang diberi nama “Al-Rusafah” di luar kawasan Kordoba, menjadikan Kordoba sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan yang paling menarik di kawasan Eropa, dan sebagai tandingan dari Baghdad yang berada di bagian Timur.
Kontribusi yang diberikan olehnya dalam bidang penulisan ilmu menarik orang-orang untuk belajar ke istananya. Selain itu, Abdurrahman ad-Dakhil juga mendirikan beberapa universitas, di antaranya Universitas Cordova, Universitas Toledo dan Universitas Sevilla, juga membangun masjid Kordoba yang megah (yang di kemudian hari pada tahun 1236 dirubah menjadi gereja oleh penguasa Kristen), dan kini dikenal dengan nama La Mazquita.
Tiga tahun sebelum meninggal dunia, Abdurrahman merenovasi dan memperluas bangunan Masjid Cordoba.

Atapnya disangga oleh tiang-tiang besar yang berjumlah 1293 tiang. Bangunan ini laksana Ka’bah kaum Muslimin di dunia Islam bagian barat. Hingga kini masjid itu masih berdiri megah. Ia termasuk tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Istana Al-Hamra, sebagai peninggalan sejarah yang menarik.
Abdurrahman ad-Dakhil membangun istana yang megah dan Masjid Agung yang terkenal di Kordoba, yaitu Masjid Al-Hambra seluas 17000 meter. Dibangun dengan biaya 800.000 dinar, masjid ini terbesar dan termegah melebihi keindahan masjid-masjid di Belahan Timur Dunia Islam, dengan menara yang tingginya 40 dzira’, kubahnya sebelah dalam terbuat dari kayu yang diukir indah. Tiangnya berjumlah 1093 yang dihiasi dengan batu marmer berwarna seperti catur. Di dalamnya terdapat 19 ruangan yang luas dan panjang dan terdapat 38 ruangan biasa.

Adapun kota Cordoba yang sangat strategis letaknya, yang dijadikan ibukota Andalusia oleh Abdurrahman ad-Dakhil dibangun dengan jalan-jalan yang lebar, drainase yang lancar, dan tata kota yang indah dan nyaman. Istananya dan seluruh penjuru kota dialiri air bersih dengan dibangunnya dinding batu mengitari kota dan istana, serta sebuah taman didirikan di luar kota dengan nama al-Rusafah. Taman tersebut dibangun menurut arsitek nenek moyang Damaskus. Di dalamnya terdapat berbagai macam pepohonan, buah-buahan yang berasal dari berbagai wilayah dunia Islam.

Abdurrahman Ad-Dakhil memerintah selama 32 tahun lamanya. Pada tahun 788 M ia wafat dalam usia 61 tahun. Dari seorang pelarian politik akhirnya ia menjadi seorang penguasa yang disegani dan dihormati baik kawan maupun lawan. Ia berhasil mengulang kembali kejayaan Bani Umayyah dan meninggalkan jejak besar bagi sejarah kekuasaan Islam di wilayah Andalusia. Sebuah perjalanan hidup yang berarti dan membanggakan. Abdurrahman Ad-Dakhil layak disebut Rajawali Quraiys, dari seorang pelarian politik menjadi penguasa Andalusia.

IBRAH DARI KISAH INI

Abdurrahman ad-Dakhil, profil pejuang dan pemimpin sejati. Sosok cerdas, pemberani, ulet, dan ahli strategi militer yang cukup disegani baik oleh kawan maupun lawan.
Abdurrahman ad-Dakhil, memiliki visi keislaman yang luar biasa menakjubkan, dia telah memproyeksikan Spanyol (Eropa) ke depan menjadi Menara peradaban Islam dunia. Dia ingin menjadikan Spanyol sebagai kiblat ilmu pengetahuan kelas dunia melalui beberapa perguruan tinggi yang didirikannya selama memimpin Spanyol.

Menara ilmu itu diibaratkan oleh Allah :
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ ٣٥-
Artinya : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).

Wahai aktifis pejuang Islam berkemajuan, perlu disadari bahwa salah satu karakteristik pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu menjadikan “tantangan” menjadi “peluang”. Mampu menjadikan keterpurukan menjadi “semangat” untuk bangun dan bangkit kembali.

Generasi yang sukses adalah generasi yang tidak suka berada di jalur “zona aman”, tetapi suka memasuki jalur “zona tantangan”. Abdurrahman ad-Dakhil adalah contoh riil.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here