Ibrah Kehidupan #180: Thariq bin Ziyad, Sang Penakluk Andalusia, Spanyol (-2)

0
145
Foto diambil dari kami-kamu

KLIKMU.CO- Salah satu rahasia mengapa agama Islam begitu mudah diterima di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya, karena umat Islam tidak memperbudak dan bukan bertujuan mengusai, akan tetapi tujuannya adalah membebaskan wilayah tersebut, membebaskan dari kezaliman penguasanya dan hukum-hukum yang tidak adil.

Oleh karena itu, sering kita jumpai wilayah-wilayah yang ditaklukkan umat Islam, penduduk pribuminya berbondong-bondong memeluk agama Islam.
Sebelum umat Islam menguasai Andalus, daratan Siberia itu dikuasai oleh seorang raja zalim yang dibenci oleh rakyatnya, yaitu Raja Roderick.

Di sisi lain, berita tentang keadilan umat Islam masyhur di masyarakat seberang Selat Gibraltar ini. Oleh karena itu, orang-orang Andalusia sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat Islam untuk menngulingkan Roderick dan membebaskan mereka dari kezalimannya.
Melihat keadaan itu, Thariq bin Ziyad langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan menuju Andalus. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik (Khalifah Bani Umayyah di Damaskus) dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukkan Andalus yang telah dirintis sebelumnya.

Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan dirasa cukup dan kepastian kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa pasukannya melintasi lautan menyebrangi selat Giblartar menuju Andalusia.

Selat Giblartar, sesungguhnya berasal dari literasi arab, dari kata “Jabal Thariq” atau Gunung Thariq. Disebut gunung atau bukit thariq, karena merupakan kenangan bersejarah ketika Thariq bin Ziyad memulai invasi dengan mengobarkan semangat jihad melewati perbukitan di pantai selat Marokko menuju daratan Andalusia, Eropa.
Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, bertemulah dua pasukan yang tidak berimbang ini di Medina Sidonia.

Perang yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum muslimin dengan jumlahnya yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick.
Keimanan dan janji kemenangan atau syahid di jalan Allah telah menjiwai para prajurit muslim anak buah Thariq bin Ziyad, bahkan telah memantapkan langkah kaki mereka dan menghilankan rasa takut dari dada-dada mereka.

Di hari kedelapan, Allah pun memenangkan umat Islam atas bangsa Visigoth dan berakhirlah kekuasaan Roderick di tanah Andalusia.

Setelah perang besar yang dikenal dengan Perang Sidonia ini, pasukan muslim dengan mudah menaklukkan sisa-sisa wilayah Andalusia lainnya. Musa bin Nushair bersama Thariq bin Ziyad berhasil membawa pasukannya hingga ke perbatasan di Selatan Andalusia.

IBRAH DARI KISAH INI:

Salah satu sebab mudahnya bangsa eropa menerima kedatangan agama Islam, adalah karena dalam Islam tidak ada perbudakan, dan eksploitasi manusia atas manusia. Hal itu sedang dialami oleh bangsa Eropa.

Thariq bin Ziyad sangat memahami hal ini, karena sejatinya Thariq pernah mengalami kepahitan hidup di masa lalunya sebagai budak, yang kemudian dimerdekakan dan menjadi manusia sempurna. Hal ini merupakan salah satu tujuan ajaran Islam yakni mengangkat harkat dan martabat manusia. Dengan kata lain “Memanusiakan manusia”.

Salah satu legenda perjuangan Thariq bin Ziyad adalah diabadikannya nama sebuah pantai selat menuju seberang daratan Eropa, yaitu selat Giblartar, yang sejatinya dari literasi arab “Jabal Thariq” atau bukit Thariq. Dari sini dikobarkannya semangat jihad, dan dari sini pula awal ditaklukkannya Andalusia/ Spanyol, Eropa.
Wahai kader pejuang Islam berkemajuan, perjuangan dakwah islam amar makruf nahi munkar tidak selalu mulus jalannya, bahkan seringkali harus menghadapi berbagai cobaan dan rintangan. Jadilah motor perjuangan dalam persyarikatan. Buatlah karya atau monument tertentu yang kaya makna, sehingga dikenang oleh generasi yang akan datang.

Tetapi jangan lupa, melakukan karya dan amal usaha harus dilandasi kesungguhan dan keikhlasan, jangan riya’ , apalagi sekedar pencitraan. Keberhasilan karya seorang pejuang bisa jadi tidak bisa dilihat hari ini, atau periode ini. Bisa jadi puluhan tahun, atau ratusan tahun kemudian baru bisa dilihat hasilnya. Maka salah satu kata kuncinya adalah ketabahan dan kesabaran dalam setiap perjuangan.
Semoga.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here