Ibrah Kehidupan #19: Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Menantu Cerdas dan Pemberani (-1)

0
99
Foto orang berkuda diambil dari Royal Indonesia Travel

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dari khulafaurrasyidin, adalah sepupu sekaligus *menantu* Rasulullah saw.
Ali bin Abi Thalib, pembawa paji kehormatan dari Nabi Muhammad saw pada saat perang Khaibar. Beliau adalah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga dari Rasulullah saw. Bahkan Nabi saw pernah bersabda tentang Ali ini sebagai berikut : *kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya tidak ada nabi setelah aku* (HR. Muslim, no. 4418).

Ali bin Abi Thalib, terdidik dengan sifat-sifat yang luhur dan mulia. Di bawah asuhan Rasulullah saw. Di antara sikap tersebut adalah rasa tanggung jawab atau amanah yang nantinya akan sangat berguna saat dia menjadi pemimpin.
Disebutkan dalam sejarah (tarikh al-khulafa:157), ketika Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali untuk mengembalikan barang-barang titipan kaum quraisy. Kebiasaan kaum quraisy sejak dulu kala mereka suka menitipkan barang berharga mereka kepada orang yang dipandang amanah. Nabi Muhammad saw orang yang dikenal amanah di kalangan mereka. Sampai mereka menjuluki beliau dengan *al-Amin* (orang yang dapat dipercaya).

Ali pun menjalankan pesan Rasulullah saw tersebut dengan baik, sesuai pesan Rasulullah saw.  Tekad beliau dalam membumikan tauhid di muka bumi amat tinggi. Lihatlah bagaimana perjuangan beliau saat hari-hari peperangan khaibar. Beliau membulatkan tekad untuk tetap ikut dalam barisan Rasulullah saw menuju khaibar. Padahal saat itu mata beliau sedang sakit parah. Bukan perjuangan ringan saat harus berhadapan hembusan debu sahara dan jauhnya perjalanan.
Salamah bin al-Akwa’ menceritakan tentang kegigihan Ali bin Abi Thalib ketika itu. Awalnya beliau berkeinginan untuk tidak ikut perang ke khaibar karena sakit yang dideritanya sangat parah. Ali mengatakan : tidak, saya tidak ikut serta bersama Rasulullah saw.

Tetapi, akhirnya Ali memutuskan untuk tetap bergabung dalam barisan Rasulullah saw . Kemudian di saat senja di hari-hari perang khaibar, yang esok harinya dibukalah kota khaibar. Nabi muhammad saw bersabda: esok hari bendera ini akan saya berikan kepada seorang yang dicintai Allah dan Rasulnya. Atau beliau bersabda: ia cinta kepada Allah dan Rasulnya.

Ternyata Ali lah orang yang beruntung mendapatkan bendera tersebut. Lalu Nabi Muhammad saw memberikan bendera tersebut kepada Ali. (Shahih bukhari kitab al-maghozi 3:137).

Beliau sosok pemimpin sederhana, dekat dengan rakyat kecil. Kedudukannya sebagai khalifah tak menghalanginya untuk berbaur dengan masyarakat. Pernah suatu ketika dikisahkan beliau memasuki sebuah pasar, dengan mengenakan pakaian sederhana sembari menyampirkan selendangnya. Beliau mengingatkan para pedagang supaya bertaqwa kepada Allah swt dan jujur dalam bertransaksi. Beliau menasihatkan: adillah dalam hal takaran dan timbangan. (Syi’ar al-alam 28: 235).

*Ibrah dari kisah ini:
Ali bin Abi Thalib, sosok pribadi unggul. Bukan hanya kecerdasan dan keberaniannya dalam membela agama Allah. Beliau juga dikenal memiliki sensifitas dan kelembutan hati yang luar biasa, memiliki nilai spiritualitas yang tinggi yang dibalut oleh akhlaqul karimah, yang terbentuk sejak kecil dalam asuhan Rasulullah saw.

Kharisma dan Kewibawaannya terpancar dari jiwa yang memang suci nan luhur, serta ketaqwaannya kepada Allah swt.
Inilah modal utama seorang pemimpin.
Alangkah indahnya jika sebuah organisasi dakwah islam anar makruf nahi munkar, yang para pegiatnya adalah kader-kader 1912 unggul seperti keteladanan Ali bin Abi Thalib.

Foto Kyai Mahsusun Jayadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya diambil dari dokumen pribadi

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here