Ibrah Kehidupan #20: Ali Bin Abi Thalib Menantu Cerdas dan Pemberani (-2)

0
127
Foto orang berkuda diambil dari Royal Indonesia Travel

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa suatu hari beliau masuk pasar sendirian, padahal posisi beliau seorang Khalifah. Beliau menunjuki jalan orang yang tersesat di pasar dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Sembari menyambangi para pedagang, beliau mengingatkan mereka akan firman Allah ta’ala, “Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (Al Qashas: 83). “Ayat ini,” jelas Ali, “turun berkenaan orang-orang yang berbuat adil dan tawadu’ (Tahdzib Bidayah wan Nihayah: 3: 282).
Khalifah Ali bin Abi Thalib, dikenal suka menyambangi rakyat kecil (blusukan beneran, bukan pencitraan). Lalu mengingatkan mereka tentang akhirat.

Karena kesejahteraan suatu negeri, tak hanya berporos pada hal-hal duniawi saja. Namun, hubungan rakyat dengan Sang Khalik adalah faktor utama kesejahteraan suatu bangsa. Dharar bin Dumrah menceritakan, saat diminta sahabat Muawiyah radhiyallahu’anhu untuk bercerita di hadapan beliau tentang kepribadian sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah orang yang visinya jauh ke depan, lelaki yang kuat, bicaranya jelas, keputusannya adil, menguasai banyak cabang ilmu, dan perkataannya bijak. Menjauh dari hingar-bingar dunia, bersahabat dengan sunyinya malam (untuk beribadah), mudah menangis (karena takut kepada Allah), suka pakaian pendek (sederhana), makanannya adalah makanan kelas rakyat kecil.

Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin yang memuliakan para alim ulama, tidak menjauh dari orang-orang miskin. Dalam kepemimpinan beliau, orang yang kuat tak bisa sekehendak melakukan kezaliman, dan orang yang lemah tidak khawatir akan keadilannya” (Al Khulafa ar Rasyidun: Ali bin Abi Thalib hal: 14-15).

Saat menjadi khalifah, keadilan benar-benar tersebar. Bahkan tak hanya kaum muslimin yang merasakan, orang-orang non muslim juga merasakan keadilan tersebut.

Pada saat Ali berada di Sifin, baju besi beliau diambil orang. Ternyata baju besi itu dibawa oleh seorang Nasrani. Lalu Ali mengajaknya mendatangi seorang hakim, untuk memutuskan kepemilikan baju besi tersebut. Hakim tersebut adalah utusan Ali untuk bertugas di daerah tersebut. Namanya Syuraih. Di hadapan sang hakim, orang Nasrani tetap tidak mengaku kalau baju besi itu milik Ali.

“Baju besi ini milikku. Amirul Mukminin sedang berdusta”. Lalu Syuraih bertanya kepada Ali radhiyallahu’anhu, “Apakah Anda memiliki bukti ya Amirul Mukminin?”
Ali pun tertawa senang, melihat sikap objektif yang dilakukan hakim ,”Kamu benar ya Syuraih. Saya tidak ada bukti.” kata Khalifah Ali radhiyallahu’anhu.
Akhirnya hakim memutuskan baju besi tersebut tetap menjadi milik orang Nasrani. Sidang pun usai. Setelah berjalan beberapa langkah, si Nasrani tadi berkata kepada Ali radhiyallahu’anhu, “Aku menyaksikan bahwa hukum yang ditegakkan ini adalah hukumnya para nabi. Seorang Amirul Mukminin (penguasa kaum mukmin), membawaku ke hakim utusannya. Lalu hakim tersebut memenangkanku! Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan baju besi ini, sejujurnya, milik Anda wahai amirul mukminin, sambal menyerahkan baju besi itu kepada-Nya.” Lalu Ali meng-hibahkan baju tersebut untuknya (Tahdzib Bidayah wan Nihayah: 3: 281-282).

Demikian sekelumit tentang kepribadian amirul mukminin; Ali bin Abi Thalib ketika dalam masa kepemimpinan beliau.

Ibrah dari kisah ini:
Betapa indahnya sebuah negeri dipimpin oleh pemimpin yang cerdas, pemberani, adil, bijaksana, dekat dengan rakyat, sederhana, tidak bermewah-mewah, dan peduli terhadap sesame. Selain itu tegas dalam menegakkan kebenaran.

Memang mencari sosok pemimpin yang demikian itu sulit, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Insyaallah masih ada kader-kader penerus perjuangan risalah Nabi yang memiliki keunggulan serta karakteristik pemimpin teladan seperti yang tersebut di atas. Khalifah Ali bin Abi Thalib, sangat pantas dijadikan rujukan bagi para kader Zaman now dalam memimpin persyarikatan dakwah amar makruf nahi munkar. Semoga menjadi pelajaran untuk kita bersama wa bil khusus kader 1912.

Foto Kyai Mahsusun Jayadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya diambil dari dokumen pribadi

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here