Ibrah Kehidupan #203: Abu Ja’far Al-Mansur. Tokoh Kharismatik itu wafat di Perjalanan Menunaikan Ibadah haji ( Habis)

0
172
Foto diambil dari wikidata

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Abu Ja’far Al Mansyur tidak pernah lelah memimpin dan membangun negeri. Khalifah unik ini tidak pernah berhenti berinovasi mengembangkan kualitas pemerintahannya, dari yang bersekala besar maupun yang bersekala kecil, semua dilakukannya secara simultan.

Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur juga berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya melepaskan diri dari pemerintah pusat dan memantapkan keamanan daerah pembatasan. Di antara usaha-usahanya tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia maupun Eropa, kota Melatia, wilayah Coppadocia, dan Cicilia pada tahun 756-758 M. ke Utara, pasukan militernya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Byzantium membayar upeti tahunan. Pasukan militernya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oksus dan India.
Daulat Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad (750-1258 M).
Dalam masa permulaan pemerintah Abbasiyah, pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan cukup stabil dan menunjukan angka vertikal. Devisa negara penuh berlimpah-limpah. Khalifah Al-Mansur merupakan tokoh ekonom Abbasiyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang ekonomi dan keuangan negara.

Di sektor pertanian, daerah-daerah pertanian diperluas di segenap wilayah negara, bendungan-bendungan dibangun, dan kanal-kanal pun digali sehingga tidak ada daerah pertanian yang tidak terjangkau oleh irigasi.

Di sektor perdagangan, kota Bagdad di samping sebagai kota politik, agama dan kebudayaan, juga merupakan kota perdagangan yang terbesar di dunia pada saat itu. Sedangkan kota Damaskus merupakan kota kedua. Sungai Tigris dan Eufrat menjadi pelabuhan transmisi bagi kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia. Terjadinya kontak perdagangan tingkat internasional ini semenjak khalifah Al-Mansur.

Abu ja’far al-Mansur sangat sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan untuk sebuah peradaban. Beliau memahami bahwa sebuah kekuasaan tidak akan kokoh tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan, karena ilmu yang bermanfaat adalah pilar amal kebaikan serta sumber dari kehidupan yang bemakna.

Oleh sebab itu, dalam konteks inilah Al-Mansur seorang khilafah yang sangat memperhatikan ilmu agama dan dunia secara seimbang. Sangat tidak mengherankan jika al-Mansur sangat memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan agama dan keduniawian. Karena beliau adalah salah seorang yang sangat paham ilmu agama.

Suatu ketika, beliau pernah berkata kepada Imam Malik yang saat itu menjadi Imam penduduk Madinah: “Wahai Imam Malik, engkau sangat mengetahui bahwa saat ini tidak ada yang memahami ilmu agama dengan baik kecuali engkau dan aku. Engkau juga mengetahui betapa aku sibuk megurusi rakyat. Oleh sebab itu, aku sangat berharap jika engkau menulis sebuah buku yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan kriteria seperti ini. “lalu Imam Malik mengomentari perkataan al-Mansur: ”Sungguh beliau telah memberikan inspirasi padaku, bagaimana aku harus menulis.

Setelah Imam Malik selesai menulis buku tersebut, beliau menyampaikannya kepada al-Mansur. Saat itu, al-Mansur sangat menginginkan agar buku tersebut menjadi sumber undang-undang negara serta digunakan di lembaga-lembaga peradilan negara. Seandainya saat itu Imam Malik tidak menolaknya, maka niscaya buku itu telah menjadi undang-undang negara.
Al-Mansur meninggal pada 775 dalam perjalanannya ke Makkah untuk berhaji. Ia dimakamkan entah di mana di sepanjang jalan dalam salah satu ratusan nisan yang telah digali untuk menyembunyikan badannya dari orang-orang Umayyah. Ia digantikan putranya al-Mahdi.

IBRAH DARI KISAH INI :

Abu Ja’far Al-Mansur, khalifah kedua dari dinasti Bani Abbasiyah yang cukup fenomenal dan inspiratif. Hampir sepanjang hidupnya telah diabdikan untuk membangun fondasi sekaligus membangun system pemerintahan Bani Abbasiyah yang baru berdiri.
Para ahli sejarah menetapkan bahwa Al-Mansur merupakan pemimpin yang cerdas, kokoh pendirian, visioner, cermat, dam menguasai strategi politik pemerintahan secara mendalam.

Di bawah kepemimpinannya, mengantarkan Daulah Bani Abbasiyah sebagai imperium Islam yang berwibawa dan disegani baik teman maupun lawan. Beliau telah mampu menghadirkan sebuah atmosfir kehidupan bermasyarakat yang maju dan sejahtera. Seluruh infra struktur yang diperlukan oleh system pemerintahan telah “nyaris” terpenuhi. Hal ini turut mempercepat terjadinya akselerasi pembangunan di segala bidang.

Yang tak kalah pentingnya, Al-Mansur juga telah membuka “kran” bagi pengembangan ilmu pengetahuan, yang nantinya pada khalifah-khalifah penerusnya menjadi modal sosial yang sangat penting bagi pertumbuhan “peradaban Dunia Islam”. Al-Mansur telah begitu “focus” dalam kinerja kepemimpinannya. Di samping itu “kesungguhan” yang dilakukannya telah mengantarkan pada keberhasilan yang gemilang.

Dua kata kunci yang patut kita catat pada sesi ini, yakni Fokus dalam kinerja, dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan amanah. Al-mansur merupakan salah satu dari sedikit pemimpin yang berhasil melakukannya.
Baarokallohu fikum

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here