Ibrah Kehidupan #210 : Al-Ma’mun. Sang Penerus Harun, Berdarah Campuran Arab-Persia

0
141
Foto diambil dari sakolaku

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya ialah : Abu al-Abbas Abdallah ibn Harun al-Rashid ( bahasa Arab : أبو العباس عبد الله بن هارون الرشيد , dilahirkan oleh Ibundanya “Murajil” salah satu isteri Harun Al-Rasyid keturunan Persia, pada tanggal 14 September 786 – 9 Agustus 833), lebih dikenal dengan rezimnya nama al-Ma’mun (bahasa Arab: المأمون). Masyarakat pun lebih popular memanggilnya Al-Ma’mun.

Al-Ma’mun adalah putera dari Khalifah Harun Ar-Rasyid dan saudara dari khalifah sebelumnya Al-Amin. Ibu dari al-Ma’mun adalah “Murajil” seorang bekas budak yang kemudian dinikahi ayahnya, dan dia meninggal hanya beberapa hari setelah melahirkan al-Ma’mun.

Al-Ma’mun merupakan orang kuat kedua yang berkuasa di keturunan Harun al-Rasyid, selain itu saudara-saudara lainnya adalah al-Amin dan al-Mu’tasim yang menjadi khalifah, sedangkan saudara lainnya adalah al-Qasim dan al-Mu’taman. Keturunan al-Ma’mun tidak ada yang meneruskan menjadi khalifah, kekuasaan diteruskan oleh keponakannya, anak dari al-Mu’tasim yang bernama al-Watsiq.
Al-Ma’mun adalah khalifah ketujuh dari dinasti Bani Abbasiyah, yang memerintah dari tahun 813 sampai kematiannya pada 833. Dia menggantikan saudara tirinya al-Amin.

Al-Ma’mun seorang terpelajar (berpendidikan tinggi) dan dengan minat yang besar pada program beasiswa, al-Ma’mun mempromosikan Gerakan Penerjemahan, perkembangan pembelajaran dan sains di Baghdad, dan penerbitan buku al-Khawarizmi yang sekarang dikenal sebagai “Aljabar”. Dia juga dikenal karena mendukung doktrin teologi Mu’tazilisme dan memenjarakan Imam Ahmad ibn Hanbal, karena dianggap tidak sejalan dengannya.

Dinasti Abbasiyah, pada masa kekuasaannya, yang paling jaya adalah periode Harun Al-Rasyid dan puteranya, Al-Ma’mun. Istana khalifah Harun Al-Rasyid yang identik dengan kemegahan dan penuh dengan kehadiran para pujangga, ilmuwan, dan tokoh-tokoh penting dunia. Pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid tercatat buku legendaris cerita 1001 malam.Di samping itu, berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geografi, astronomi, musik, kedokteran, dan kimia.

Kemajuan pemerintahan Al-Ma’mun itu paling tidak ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: Pertama, terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.

Kedua, Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat terutama di bidang pemerintahan. Di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Ketiga, Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Keempat, pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

IBRAH DARI KISAH INI :
Khalifah Al-Ma’mun, dalam catatan sejarah dikenal sebagai pribadi yang kuat dan cerdas, dan merupakan penerus dari sang Ayah (Khalifah Harun Al-Rasyid) dalam pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah.
Al-Ma’mun, merupakan anak Harun Al-Rasyid dari salah satu isterinya yang bernama Murajil yang diketahui masih keturunan Persia. Sehingga Al-Ma’mun secara biologis adalah anak blasteran Arab dan Persia.

Kondisi ini mempunyai dampak yang positive, yakni banyaknya masyarakat Persia yang masuk Islam antara lain karena factor biologis Sang Khalifah.
Jika Abul Abbas Assafah dikenal sebagai orang yang melakukan “babat alas” sehingga terbentuknya daulah Bani Abbasiyah. Al-Mansur dikenal sebagai peletak dasar-dasar system pemerintahan Bani Abbasiyah serta membangun infra struktur. Harun Al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang memulai dan melapangkan jalan bagi Daulah Abbasiyah memasuki era baru yakni era kemajuan ilmu pengetahuan.

Maka, Al-Ma’mun dikenal sebagai penyempurna estafet yang telah dipancangkan oleh Harun Al-Rasyid. Yakni dengan menyemarakkan proyek penterjemahan, pembukaan pusat-pusat studi dan pengembangan akademik. Hal inilah yang membawa dinasti Bani Abbasiyah mencapai puncak kejayaan Islam. Gaung kecemerlangan peradaban Islam ini bukan hanya dirasakan di kalangan negara-negara Islam, tetapi juga secara global/ mendunia.
Allahu A’lam

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here