Ibrah Kehidupan #241: Abu Hurairah, Bapak-nya Kucing (-4 habis).

0
240
Foto ilustrasi diambil dai sahabatamrullah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai  Mahsun  Jayadi*

Dari sekian banyak penutur atau periwayat tentang Abu Hurairah, hampir semua umat Islam memaklumi kapasitas dan kapabilitas beliau sebagai seorang sahabat Nabi Muhammad saw, dan kesungguhannya dalam berjihad di jalan Allah swt.

Sungguh, masuknya Abu Hurairah ke kalangan para sahabat, memberinya keutamaan bertambah. Dia mendapatkan pahala sebagai sahabat Nabi, mendapatkan sifat ‘adalah (adil) yang menempel pada semua sahabat yang telah ditetapkan dalam ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mulia.

Barangsiapa yang menolaknya, berarti telah menolak Al Qur’an dan hadits shahih serta ijma’ generasi /pertama dari kaum muslimin.

Dia mendapatkan keutamaan atas do’a Rasulullah saw kepada kabilahnya, Daus, agar mendapat petunjuk. Juga mendapatkan keutamaan Negeri Yaman, karena ia sebagai orang Yaman. Demikian juga mendapatkan pahala hijrah kepada Allah dan RasulNya, karena hijrahnya sebelum penaklukan kota Mekkah dan mendapatkan keutamaan do’a Rasulullah kepadanya. Sekaligus mendapatkan keutamaan sebagai orang miskin dan Ahli Shuffah, pahala berjihad di bawah panji Rasulullah saw serta pahala menghafal hadits Rasulullah saw dan menyampaikannya.

Di antara keutamaan dan keistimewaan Abu Hurairah yang dituturkan para ahli sejarah Islam adalah sebagai berikut :

Pertama.Abu Hurairah sangat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketulusan cintanya diungkapkan dengan pernyataannya:

“Wahai, baginda Rasulullah. Ketika aku melihat engkau, bahagia kurasakan dalam diriku dan sejuk pandanganku”.

Kecintaan itu menanamkan perasaan mendalam terhadap nama Rasulullah saw, sampai-sampai ia tidak mampu menguasai dirinya, terisak menangis berkali-kali sampai pingsan.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad hasan (baik) sampai kepada Syafi’i Al Ashbahi tentang gambaran nyata cinta Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ketika kecintaannya itu sedang menguasai dirinya.

Ketika Syafi’i memasuki Madinah, tiba-tiba ada seseorang tengah dikelilingi banyak orang. Ia bertanya, ”Siapakah orang itu?” Mereka menjawab, ”Abu Hurairah.” Lalu aku mendekatinya hingga duduk di hadapannya, sedangkan ia sedang menyampaikan hadits kepada mereka. Ketika ia diam dan sendirian, aku bertanya kepadanya, Aku tegaskan dengan sebenar-benarnya, ketika anda menyampaikan kepadaku satu hadits yang anda dengar dari Rasulullah, anda faham dan ketahui.” Lalu Abu Hurairah menjawab,”Ya. Akan aku sampaikan kepadamu satu hadits yang telah disampaikan Rasulullah kepadaku, aku faham dan ketahui,” lalu Abu Hurairah tertegun sampai tercengang.

Kedua.Kesabaran dan keteguhan dalam menahan lapar. Abu Hurairah hidup pada zaman Rasulullah Saw di Shuffah dalam keadaan faqir, tidak memiliki harta, rumah dan mata pencaharian. Dia merasa cukup dengan kemudahan yang diberikan Allah kepadanya dan kepada para ahlus shuffah, yaitu berupa hadiah untuk mereka dan makanan yang dinikmati bersama dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia menyiapkan diri menemani dan mulazamah dengan Rasulullah saw semata, hanya karena ingin mendengarkan dan menghafal seluruh sabda Beliau Saw dengan tujuan untuk menyebarkannya. Juga untuk melihat perbuatan, keadaan, pergaulan dan keputusan hukum Beliau Saw.

Ketiga.Abu Hurairah pun tidak pernah tertinggal melaksanakan tugas suci membela agama dengan berperang di jalan Allah, sebagaimana nampak jelas keikut sertaannya dalam beberapa peperangan Nabi, diantaranya:

Keikutsertaannya dalam perang Khaibar dan perang di Wadi Al Qura’, Keikutsertaanya dalam Umratul Qadha (umrah pengganti), Keikutsertaan Abu Hurairah dalam perang Dzatur Riqa’, sebagaimana disampaikan Imam Al Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ”Aku shalat bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada peperangan yang kami mendapati shalat khauf (shalat karena takut).” Juga dikuatkan oleh kisah yang diriwayatakan Abu Dawud dari Urwah bin Zubair yang menceritakan dari Marwan bin Al Hakam, bahwa ia bertanya kepada Abu Hurairah : “Pernahkah anda shalat bersama Rasul Saw shalat khauf?” Abu Hurairah menjawab,”Pernah.” Marwan bertanya,”Kapan?” Abu Hurairah menjawab,”Tahun terjadinya perang Dzaturiqa.”

Keempat.Abu Hurairah, pencinta ilmu, pengajar al-Qur’an, penghafal hadits, hormat dan patuh kepada orang tuanya, mencintai Rasulullah saw dengan sepenuh hati.

Ketika berada di atas tempat tidur menghadapi kematian, ia menangis. Maka ditanyakan kepadanya: Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Hurairah?” Dia menjawab,”Aku sesungguhnya tidak menangisi dunia kalian ini. Namun aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan perbekalanku sedikit. Aku sekarang berada dalam tangga yang curam, antara surga dan neraka. Aku tidak tahu berjalan ke arah mana dari keduanya,”kemudian ia berwasiat,”Jika aku meninggal, janganlah kalian meratapiku; sebab Rasulullah  tidak pernah meratapi kematian.”

Ibrah dari Kisah Ini:
Abu Hurairah tetaplah Abu Hurairah seorang manusia biasa, anak perantau dari Yaman, miskin papa, kekurangan dalam dirinya sekaligus menjadi kekuatan kepribadiannya.

Apa yang sudah diyakininya pasti diperjuangkan dengan hati ikhlas dan mantap. Berjihad sepenuh hati membela panji Islam, sampai akhir hayat. Meskipun begitu Abu Hurairah masih merasa belum cukup bekal menghadapi kematian. Merasa belum ada apa-apanya dalam memperjuangkan Islam.bagaimana dengan kita wahai kader 1912?

Membakar: Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya Kyai Mahsun Jayadi ( berdiri) memberi energi kepada peserta Turba di Muhammadiyah Kenjeran (30/10). (Foto: Habibie)

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here