Ibrah Kehidupan #25:Bilal Bin Rabah (-1)

0
224
Foto Bilal bin Rabah mengumandangkam adzan diambil dari kisah teladan

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Seorang manusia biasa, bahkan awalnya adalah seorang budak, tetapi kepribadiannya, keteguhan imannya, keberaniannya berjihad menegakkan aqidah, terukir dengan tinta emas sepanjang sejarah umat Islam. Dia-lah Bilal Bin Rabah, juga dikenal “Bilal Mu’adz-dzin Rasul” yakni seorang sahabat yang senantiasa mendampingi Rasul khususnya menjadi mu’adz-dzin setiap kali shalat akan dilaksanakan.

Bilal lahir di daerah Al-Sarah yang terletak dipinggir Kota Mekah 43 tahun sebelum Hijrah. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya bernama Hamamah, seorang wanita berkulit hitam. Sebab itulah Bilal selalu disebut dan diejek dengan sebutan Ibnus-Sauda’ (Putera Wanita Hitam). Ibu bapaknya adalah budak dan Bilal dilahirkan sebagai seorang budak yang dimiliki oleh keluarga Bani Abdul Dar.

Kegetiran dan nestapa perjalanan hidup Bilal bermula sejak Ibu Bapaknya meninggalkan kampung halamannya Habasyah (Abbessinia), Afrika, merantau ke Makkah untuk mengadu nasib mencari penghidupan di negeri orang. Sesampai di Makkah beberapa saat kemudian suami isteri ini dirampok, dilucuti seluruh perbekalannya, dan dijual sebagai budak di pasar “Ukadz”. Lalu dibeli oleh keluarga Bani Abdul Dar. Dari sini mulailah derita demi derita terus dialaminya. Kerja paksa siang malam, pukulan bertubi-tubi. Pernah suatu ketika Hamamah mengambil sekeping sisa roti milik majikannya untuk disuapkan ke anaknya yang menangis kelaparan, ketika ketahuan sang majikan maka majikan-pun memaksa merebut dan mengeluarkan roti yang ada di mulut anak kecil itu untuk kemudian diberikan kepada anjing di jalanan. Rupanya Rabah dan Hamamah lebih hina dan lebih jijik dari seekor anjing.

Ketika Bilal dan kakaknya Sahib menjadi remaja, Kedua orang tuanya meninggal dunia, kedua kakak beradik inipun harus perpisah. Sahib dijual sebagai budak di Yaman, sedangkan Bilal juga menjadi budak yang dimiliki oleh Umaiyyah bin Khalaf.

Sebagai budak, Bilal menampakkan karakternya yakni jujur, disiplin dalam bekerja, selalu taat menjalankan perintah majikannya. Tanpa sepengetahuan majikannya Bilal telah masuk Islam mengagumi keindahan agama barunya serta menikmati manisnya iman. Dari sinilah awal perubahan kehidupan seorang Bilal yang nantinya akan menjadi pahlawan penegakan aqidah dalam panji Islam.
Tetapi ketika keislamannya diketahui oleh majikan, Bilal harus menghadapinya dengan berbagai siksaan, pukulan, dikeler keliling kota, dipaksa untuk kembali mengakui keyakinan lama yaitu percaya kepada Tuhan Lata dan ‘Uzza. Sungguh ajaib, semakin disiksa maka keimanan dan aqidah seorang Bilal justeru semakin kuat membaja. Semakin dipukul dan disiksa maka semakin nyaring pula kalimat yang keluar dari mulutnya, Allah, Allah, Allah. Ahad, Ahad, Ahad.

Penderitaan Bilal sampai ke telinga Abu Bakar Assiddiq, beliau menghampirinya dan menyatakan kepada sang majikan Umaiyyah bin Khalaf, “aku ingin membeli budakmu ini”, dan akan aku beli dengan harga 9 uqiyah emas. Umaiyyah bin Khalaf-pun menjawab: jangankan 9 uqiyah, kurang dari itu-pun aku berikan. Tetapi Abu Bakar tidak mau kalah menjaga Prestise atau harga dirinya dengan mengatakan “aku beli Bilal budakmu ini dengan harga 10 uqiyah emas”. Setelah Bilal menjadi milik Abu Bakar, maka Bilal-pun dimerdekakan. Jadilah Bilal sebagai hamba Allah yang merdeka berharkat dan bermartabat. Abu Bakar melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah saw dan Beliaupun ingin ikut andil memberikan sebagian dana memerdekakan bilal. Tetapi Abu Bakar cepat menjawab, semuanya sudah aku beresi secara pribadi, tenang jangan khawatir wahai Rasulullah saw.

Ibrah dari kisah ini:
Salah seorang sahabat Nabi yang berasal dari keluarga miskin, budak, manusia yang tidak punya harkat dan martabat, bahkan melalui perjalanan Panjang hidupnya dengan kegetiran dan penderitaan. Dengan modal karakter kejujuran, kedisiplinan dan kekuatan mentalnya, setelah bersentuhan dengan kalimat tauhid “Laa ilaaha illalloh”, maka jadilah seorang Bilal Bin Rabah menjadi muslim sejati, menjadi hamba Allah yang “Abid” taat beribadah, sahabat dekat Rasulullah saw, mu’adz-dzin Rasul, penegak aqidah, serta pengawal Dakwah Nabi saw. KADER 1912 mari kita contoh beliau

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here