Ibrah Kehidupan #27: Bilal Bin Rabah (-3)

0
138
Foto Bilal bin Rabah mengumandangkam adzan diambil dari kisah teladan

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad.

Kebersamaannya dengan Rasulullah saw ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah saw selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muadzin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alalfalaahi” Lalu, ketika Rasulullah saw keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi (Raja Habasyah) menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah saw.

maka Rasulullah saw mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Bahkan catatan sejarah ketika dilaksanakannya shalat ‘Idain (idul Fthri dan idul Adh-ha) dan sholat Istisqo’ atau shalat-shalat lain di luar masjid, Bilal menancapkan tombak pendeknya itu di depan Rasulullah saw (sebagai sutrah).
Bilal selalu menyertai Nabi saw dalam berbagai peperangan melawan orang-orang kafir.

Ketika Bilal mengikuti perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah swt memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dahulu. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah saw menaklukkan kota Makkah (fat-hu Makkah), beliau berjalan di depan “pasukan hijau” nya bersama Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah (pembawa kunci Ka’bah), Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah.Waktu shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah saw, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, dalam suasana yang Agung nan bahagia, Rasulullah saw memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid (adzan) dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul saw dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat adzan yang dikumandangkannya.

Waktu pun terus berlalu Bersama dakwah Rasulullah saw disertai para sahabatnya yang setia termasuk Bilal bin Rabah, sampai saat ketika Rasulullah saw dipanggil menghadap Allah ‘Azza Wajalla. Sesaat setelah Rasulullah saw wafat, waktu shalat tiba. Bilal-pun berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah saw masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah saw, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Ibrah dari Kisah ini:
Sebegitu dekatnya Bilal bin Rabah dengan baginda Rasulullah saw padahal sebelumnya Bilal “bukanlah apa-apa”. Lantaran kedekatannya kepada Nabi saw Bilal mendapat ilmu dan hikmah dari Nabi saw sehingga memunculkan aura kecemerlangan, keshalihan, dan kewibawaan.

Dalam bahasa kita sehari-hari seorang “kader kintilan” sering kali kemudian menjadi kader sesungguhnya, dan memiliki kepribadian serta kewibawaan seperti tokoh yang dia kintili (ikuti). Demikian ini adalah sunnatullah. Siapa yang ingin bersinar maka dekatilah cahaya. Siapa yang ingin memiliki aura keshalihan maka selalulah berkumpul dengan orang shalih. Dan … Bilal bin Rabah telah membuktikannya. Pun kita sebagai kader 1912, harus menyiapkan para calon kader kintilan.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here