Ibrah Kehidupan #30: Khalid Bin Walid, Si Pedang Allah (-2)

0
90
Foto Ilustrasi Pedang Khalid diambil dari Aliansi Nasional Anti Syiah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Jalan hidup Khalid memang menakjubkan. Sebelum memeluk Islam, ia seorang pembunuh kejam yang menggetarkan kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Setelah masuk Islam, ia berbalik menjadi pembunuh yang membinasakan musuh-musuh Islam pada hari-hari selanjutnya. Seandainya ia mampu, ia ingin sekali mengikis habis semua peristiwa dan kejadian masa lalu dalam sejarah hidupnya sebelum hari keislamannya itu.

Ketika hatinya tunduk kepada Allah, dan jiwanya menemukan sentuhan rahmat-Nya Yang Maha Pengasih.

Jiwanya memancarkan kerinduan kepada agama-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada keinginan meraih kesyahidan agung di jalan kebenaran, guna menebus dan membuang jauh-jauh semua dosa dan kekeliruannya pada masa yang lalu yang kelam.

Pasca keislamannya di hadapan Nabi, maka Rasulullah saw bersabda, ‘Sungguh, aku telah mengetahui bahwa engkau mempunyai akal sehat, dan aku berharap, akal sehat itu hanya akan menuntunmu ke jalan yang baik (Islam).’ Nabi Muhammad saw memberi julukan kepada Khalid yaitu Pedang Allah.

Keperkasaan dan kepahlawanan Khalid berkibar saat terjadi perang Mu’tah (peperangan melawan tantara romawi). Dalam peperangan ini panji perang sebagai tongkat komando dibawa berturut-turut tiga orang. tiga orang pahlawan Perang Mu’tah itu pada awalnya bahwa “Panji perang di tangan Zaid bin Haritsah. Ia bertempur sambil membawa panji perang hingga gugur. Kemudian panji tersebut diambil alih Ja’far yang bertempur sambil membawa panji perang hingga gugur pula. Kemudian giliran Abdullah bin Rawahah memegang panji tersebut sambil bertempur maju, hingga ia gugur sebagai syahid”.

Melihat kondisi demikian maka Tsabit bin Arqom bergegas mengambil panji (bendera) perang tersebut dan dikibarkan tinggi-tinggi agar pasukan tetap kompak dan bersemangat.

Kemudian Tsabit mengarahkan kudanya mendekati Khalid bin Walid. Tsabit berkata: wahai abu Sulayman (panggilan akrab Khalid bin Walid) peganglah panji ini. Khalid yang merasa sebagai prajurit biasa dan masih junior enggan menerima estafet komando itu. Tetapi Tsabit tetap menyodorkan panji kepadanya sambil berucap: engakau lebih faham medan dan strategi perang. Tsabit pun mengumumkan sebuah tawaran kepada khalayak angkatan perang: bagaimana pendapat kalian jika panji ini saya berikan kepada Khalid ? semuanya setuju. Maka Khalid-pun siap menerima estafet komando perang tersebut, dan dalam hitungan menit langsung membaca peta kekuatan lawan sehingga Khalid bersiasat mengarahkan prajuritnya untuk mundur sejenak sebagai strategi untuk kemudian maju dari arah kanan dan kiri dan membaginya dalam beberapa kelompok kesatuan yang masing-masingnya diberi panji komando di tiap battalion. Dengan begitu peperangan bisa berjalan dengan baik dan bisa mengendalikan gerakan musuh.
Kepiawaian dan keperkasaan si junior Khalid bin Walid atau sering dipanggil “Abu Sulayman” inilah yang menjadikan Rasulullah saw memberi julukan kepadanya “Si Pedang Allah yang Terhunus” (saifulloh al-maslul).

Ibrah dari kisah ini:
Khalid bin Walid, atau sering dipanggil “Abu Sulayman” (Bapaknya Sulaiman). Punya masa lalu yang kelam. Dia adalah pembunuh berdarah dingin yang kejam dan telah menghabisi banyak prajurit Islam. Ketika dia menemukan cahaya Islam, maka berbalik arah ingin mengabdikan diri dan mencurahkan seluruh apa yang ada pada dirinya untuk Izzul Islam wal muslimin.

Khalid awalnya adalah prajurit junior dalam perang Mu’tah. Tetapi ketika situasi sangat membutuhkan kehadiran serta perannya, dan Khalayah juga memang mengetahui potensi si junior ini, maka Khalid-pun siap memimpin dan memegang komando perang.

Aktualisasinya di zaman kita ini adalah, jangan remehkan anak muda. Merekalah yang akan menggantikan generasi tua. Di pundak merekalah tugas melanjutkan dakwah membangun peradaban masa depan. Jika potensi mereka diarahkan dengan baik dan diberi kesempatan, insyaallah perjuangan dakwah amar makruf nahi munkar semakin berkibar dan semakin mengarah kepada izzul islam wal muslimin. Khalid bin Walid telah membuktikan hal itu. Saat kita kita beri kesempatan untuk berkarya kepada generasi kader 1912 mewarnai dakwah di jaman milenial.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here