Ibrah Kehidupan #31: Khalid bin Walid, Si Pedang Allah (-3 habis).

0
224
Foto Ilustrasi Pedang Khalid diambil dari Aliansi Nasional Anti Syiah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Khalid Bin Walid, dikenang nama harumnya sepanjang sejarah. Dalam 100 (seratus) kali pertempuran melawan Musyrikin yang diikutinya dan dibawah komandonya, belum pernah terkalahkan. Beliau adalah salah satu djenderal terbaik, ahli strategi perang, adil dan bijaksana, serta memiliki charisma dan kewibawaan yang luar biasa di hadapan para prajurit dan umat Islam pada umumnya.

Sewaktu Khalid meninggal dunia Umar bin Khattab menangis. Kemudian orang-orang mengetahui bahwa Umar menangis bukan hanya karena kehilangan Khalid semata, melainkan menangisi lenyapnya kesempatan untuk mengangkatnya kembali memegang pucuk pimpinan tentara Islam, sesudah berkurangnya kefanatikan manusia yang berlebih-lebihan kepadanya. Karena, sebetulnya cukup lama Umar bertekad memulihkan kepemimpinannya itu dan menjernihkan sebab-sebab pemberhentiannya, kalau tidaklah maut datang menjemput pahlawan besar itu untuk bersegera pulang ke tempat kembalinya di surga.

Ketika Khalid diberhentikan oleh Khalifah Umar bin Khattab dari jabatan panglima perang, para pemburu berita mewawancarai beliau: apa komentar anda pasca pemecatan ini? Khalid menjawab: No Coment! Saya berjihad bukan untuk Umar tetapi untuk Allah swt.

Pasca wafatnya Khalid, umat islam mafhum bahwa sudah saatnya ia beristirahat dari kesibukannya yang tiada henti. Khalid memiliki pribadi yang teguh, yakni pribadi yang sering dilukiskan oleh shahabat-shahabat maupun oleh musuh-musuhnya, dengan kata-kata, “Orang yang tidak pernah tidur dan tidak membiarkan orang lain tidur.”

Khalid pernah berkata, “Tidaklah suatu malam yang di dalamnya aku dihadiahi pengantin atau dikaruniai bayi itu lebih aku sukai daripada malam yang sangat menegangkan saat aku berada dalam ekspedisi tentara Muhajirin dan menemui pagi bersama mereka menggempur kaum musyrikin.”

Karena itulah, ada sesuatu yang merisaukan pikirannya, yaitu bila ia harus mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh umurnya di atas punggung kuda perangnya, dan di bawah kilatan pedangnya. Ia pernah berperang bersama Rasulullah. Ia telah menundukkan kaum murtad. Ia telah membumiratakan tahta Kerajaan Persia dan Romawi.

Ia yang telah melompat menjelajahi bumi di Iraq setapak demi setapak, hingga menaklukkannya demi Islam dan di Syria setapak demi setapak pula, sampai semuanya dipersembahkannya untuk kejayaan Islam.

Khalid pernah berkata di hadapan Umar bin Khattab sambil meneteskan air mata, “Aku telah ikut serta dalam pertempuran di mana-mana. Seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak, dan tancapan panah. Aku tidak ingin mati di atas ranjangku dalam keadaan terbujur laksana matinya seekor unta. Aku sangat sedih jika nanti aku harus mati di atas ranjang tempat tidurku”.

Ada satu kenangan khusus bagi Khalid. yaitu suatu barang yang dijaganya mati-matian. Barang itu berupa kopiah. Suatu ketika, kopiah itu terjatuh dalam Perang Yarmuk lalu ia dan orang lain harus bersusah payah untuk mencarinya. Ketika orang lain ada yang mencelanya karena pencarian tersebut, ia berkata, “Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rasulullah. Aku merasa optimis dan berharap kemenangan dengan (keberkahan)nya.”

Akhirnya jenazah pahlawan besar ini keluar dari rumahnya diusung oleh para shahabatnya. Ibu dari sang pahlawan memandangnya dengan kedua mata yang bercahaya memperlihatkan kekerasan hati, tetapi disaput awan duka cita, lalu melepasnya dengan kata-kata: Engkau lebih baik daripada jutaan orang. Karena engkau berhasil membuat wajah mereka tertunduk. Soal keberanian, engkau lebih berani daripada singa betina. Soal kedermawanan, engkau lebih dermawan daripada air yang mengalir deras yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.

Ibrah dari  kisah ini:
Khalid bin Walid. nama lengkapnya adalah : Abū Sulaymān Khālid ibn al-Walīd ibn al-Mughīrah al-Makhzūmī. Salah satu shahabat Nabi saw yang sangat dikenal keberanian, keperkasaan, kepahlawanan, serta kepribadiannya yang utuh.

Seorang Panglima yang berwatak keprajuritan, dan seorang prajurit yang berwatak Panglima. Seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat, dan seorang rakyat yang berwatak pemimpin.

Karakternya hampir sama dengan Umar bin Khattab, lugas tanpa basa-basi, tegas tanpa kompromi. Kedua shahabat ini punya cita-cita yang sama, yakni tidak ingin mati di atas ranjang. Ingin mati di medan perang.

Di zaman kita saat ini sedang berkecamuk “Perang ideologi”. Dan peperangan itu diwarnai dengan perang pemikiran (Ghozwul Fikri). Media-nya pun menggunakan Cyber. Jadi peperangan kita saat ini adalah perang Cyber. Kita membutuhkan banyak prajurit sekelas Khalid bin Walid. Prajurit yang siap menjadi panglima, dan Panglima yang dekat dengan prajurit. siap siaga di setiap lini kehidupan.

Maka hendaknya setiap pribadi kader 1912 berupaya mentauladani sifat dan sikap Si Pedang Allah.

 

*Ketua Pimpinan Daerah muhammadiyah kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here