Ibrah Kehidupan #32: Usamah Bin Zaid, Jenderal Termuda (-1).

0
102
Foto ilustrasi Pemuda Islam berkuda diambil dari bina amal

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi

Nama lengkapnya, adalah: Usamah Bin Zaid Bin Haritsah. Nabi saw memberinya laqob (julukan): Al-Hibb wa Ibnil-Hibb (Kesayangan dari anak Kesayangan). Hal ini dimaklumi karena Bapaknya Usamah yakni Zaid adalah anak angkat sekaligus kesayangan Rasulullah saw. Dalam satu riwayat bahkan pernah nama Zaid dipanggil dengan panggilan “Zaid Bin Muhammad saw”.

Usamah Bin Zaid adalah jenderal termuda yang pernah memimpin peperangan yang ketika itu masih berusia 18 tahun. Penunjukannya sebagai Jenderal datang langsung dari Rasulullah saw. Ia adalah putra dari Zaid bin Haritsah.

Usamah lahir di Makkah tahun ke 7 sebelum hijrah. Ketika berita kelahiran Usamah sampai kepada Nabi saw, maka wajah Rasulullah saw langsung berseri.
Usamah bin Zaid adalah anak dari seorang sahabat dan merupakan anak angkat Rasulullah saw (sebelum Islam masuk dan menghapus hukum anak angkat), yaitu Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman pengasuh Rasulullah saw ketika kecil. Dalam suatu riwayat Rasulullah saw berkata: “Ummu Aiman adalah ibuku satu-satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu satunya keluargaku yang masih ada”. Riwayat lain bahkan mengatakan Ummu Aiman juga pemah menyusui anak Rasullulah saw.

Adapun Zaid bin Haritsah adalah sahabat kesayangan Rasullulah saw dan anak angkat, yang menyebabkan Zaid sempat dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad, tetapi kemudian dihapus oleh hukum Islam. Dimana nama anak harus dinasabkan kepada orang tua kandungnya.
Usamah tumbuh sebagai pribadi yang besar; cerdik dan pintar, berani luar biasa, bijaksana, pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya, tahu menjaga kehormatan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela, pengasih dan (sebaliknya) dikasihi banyak orang, taqwa, wara’ (berhati-hati), dan mencintai Allah SWT.

Waktu terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah saw. beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut serta berjihad fi sabilillah.

Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid teramasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu, Usama pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah saw.

Dalam Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang lagi bersama kawan-kawan remaja, putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang.

Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun.

Ketika terjadi Perang Hunain, tentara muslimin terdesak oleh musuh sehingga barisannya menjadi kacau balau. Tetapi, Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama dengan ‘Abbas (paman Rasulullah), Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengah kelompok kecil ini, Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelematkan kaum muslimin yang lari dari kejaran kaum musyrikin.

Dalam Perang Mu’tah, Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Ketika itu umurnya kira-kira delapan belas tahun. Usamah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi, Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan, dia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid. Kemudian, komando dipegang oleh Khalid bin Walid.

Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum.

Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah SWT. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (SYiria) dengan mengenang segala kebaikan almarhum.
Dengan semua kelebihan Usamah, Rasul saw menugaskannya sebagai Jendral (panglima perang) Pasukan Kaum Muslimin yang akan berhadapan dengan Pasukan Romawi. Dalam salah satu riwayat menyatakan usia Usamah saat itu baru 17 tahun.

Dalam pasukannya, terdapat nama- nama sahabat besar, Abu Bakar Shidiq, Urnar bin Khatab, Sa’ad bin Abi Waqqas. Abu Ubaidah bin Jarrah, dan para sahabat senior lainya.

Pengangkatan ini sempat menimbulkan desas desus yang menyebabkan kegusaran Rasulullah saw. Beliau lalu pergi ke mesjid Nabawi dan berkata: “Jika kalian mencemoohkan kepernimpinannya, maka kalian dulu juga mencemoohkan kepemimpinan ayahnya.

Demi Allah. dia layak untuk jabatan pimpinan. Dan dia adalah orang yang paling aku cintai sesudah ayahnya”.
Usamah kemudian berangkat sebagai jendral muda, dan saat itu Rasul saw telah wafat. Meski demikian sebagian sahabat Anshar sempat meminta Usamah diganti karena faktor usia, tetapi Khalifah Islam pertama saat itu, Abu Bakar As-Shiddiq tetap berpegang teguh pada keputusan Rasulullah saw. Bahkan Umar bin Khatab selaku utusan para sahabat mendapatkan kemarahan Abu Bakar atas usulan tersebut.

Usamah dan pasukannya terus bergerak dengan cepat meninggalkan Madinah. Setelah melewati beberapa daearah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka tiba di Wadilqura. Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah bernama Huraits. Ia maju meninggalkan pasukan hingga tiba di Ubna, tempat yang mereka tuju. Setelah berhasil mendapatkan berita tentang keadaan daerah itu, dengan cepat ia kembali menemui Usamah. Huraits menyampaikan informasi bahwa penduduk Ubna belum mengetahui kedatangan mereka dan tidak bersiap-siap.

Ia mengusulkan agar pasukan secepatnya bergerak untuk melancarkan serangan sebelum mereka mempersiapkan diri. Usamah setuju. Dengan cepat mereka bergerak. Seperti yang direncanakan, pasukan Usamah berhasil mengalahkan lawannya. Hanya selama empat puluh hari, kemudian mereka kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban seorang pun.

Perkataan Rasulullah saw terbukti, ditangan Usamah pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi. Bahkan pasukan Usamah membawa kemenangan yang gemilang melebihi perkiraan semua orang. Sampai para sahabat berkata: “belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh (tanpa satu korban pun)”.

Ibrah dari kisah ini:
Usamah Bin Zaid Bin Haritsah, dikenal dalam sejarah Islam sebagai panglima atau Djenderal termuda. Dan sukses dalam menjalankan tugas peperangan.

Diangkatnya Usamah bin Zaid sebagai panglima perang oleh Rasulullah saw memang sempat menjadikan sebagian sahabat meragukannya karena factor usia yang masih muda belia.

Tetapi Rasulullah saw sungguh telah memikirnya matang-matang dan visi yang jauh ke depan, bahwa anak muda ini sangat potensial dan punya bakat kepemimpinan militer. Inilah yang tidak difahami oleh semua sahabat. Hal ini terbukti dengan keberhasilan Usamah dalam memimpin peperangan dengan hasil yang cukup mencengangkan, belum pernah terjadi sebelumnya sebuah peperangan berakhir dengan kemenangan , dan seluruh prajurit kembali dengan utuh tak seorang pun meninggal.

Fakta sejarah, Pemuda, pemuda, dan pemuda. Kalian adalah harapan masa depan umat. Oleh sebab itu, wahai kader 1912 kalian harus sudah mulai berhitung sejak usia muda: “peran apa yang harus saya mainkan dalam jihad di jalan Allah ini?” .

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here