Ibrah Kehidupan #34: Ammar Bin Yassir, “Aba Al-Yaqzhan” (-1)

0
129
Foto ilustrasi Ammar Bin Yassir diambil youtube.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Nama lengkapnya adalah Ammar Bin Yassir Bin Amir. Ammar adalah seorang anak yang dilahirkan dari pasangan suami isteri yakni Yassir bin Amir dan Sumayyah Binti Khayyat.

Yassir bin Amir adalah anak perantau dari negeri Yaman yang kemudian tinggal di Makkah menumpang di rumah sahabat barunya Abu Hudzaifah ibnul Mughiroh. Oleh Ibnul Mughiroh, Yassir bin Amir dinikahkan dengan sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyat. Akhirnya mereka menjadi keluarga mandiri dengan satu anak bernama Ammar. Di kalangan sahabat, beliau lebih popular dengan sebutan “Ammar Bin Yassir”. Nabi Muhammad saw memberikan julukan “Abal Yaqzhan” makna harfiahnya adalah Bapak dari Kesadaran.

Maksudnya bahwa Ammar bin Yassir memiliki tingkat kesadaran akan keteguhan iman dan kesabarannya pada tingkat yang tinggi dan sempurna.
Ammar Bin Yassir, termasuk kelompok “Assabiquun al-Awwaluun” kelompok generasi awal pemeluk islam. Keluarga Ammar bin Yassir adalah termasuk kalangan keluarga miskin dan masuk strata rendah secara social dalam lingkungan masyarakat Makkah.

Terhadap keluarga dengan kategori miskin seperti ini jika diketahui masuk Islam, maka tokoh-tokoh kafir akan menyiksanya secara fisik dengan harapan mereka kembali kepada keyakinan nenek moyang mereka.

Sedangkan terhadap kalangan keluarga kaya, jika masuk Islam, maka tokoh-tokoh kafir quraisy akan mengancamnya dengan gertakan-gertakan secara psikologis, misalnya embargo ekonomi, atau ditutupnya berbagai akses untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Dalam catatan sejarah, keluarga Ammar bin Yassir termasuk yang paling menderita menerima siksaan demi siksaan dari kaum kuffar quraisy akibat keimanan dan keislamannya.

Hampir setiap hari keluarga ini disiksa, dipukul dengan besi, dikeler di padang pasir, dicelup tenggelamkan ke dalam kolam sampai nafasnya hampir terputus, kulit badannya banyak bersisik dan mengelupas berdarah-darah akibat siksaan yang mereka terima.

Abu Jahal seorang tokoh Quraisy yang seram lagi bengis, suatu saat memakaikan baju besi kepada Sumayyah (Ibunda Ammar bin Yassir) untuk menyiksanya. Kemudian Abu Jahal membawanya di tengah-tengah tanah lapang dan terik matahari yang sangat menyengat dan membakar. Di sana, Sumayyah dianiaya oleh Abu Jahal, dengan pemaksaan untuk kembali kepada agama nenek moyang. Akan tetapi, manisnya iman telah merasuk di dalam hati Ibu Ammar bin Yassir rodhiallohu anha, sehingga ia tetap bersabar dan menahan siksa yang menimpanya.

Kesabaran Sumayyah rodhiallohu anha membuat kesal dan putus asa Abu Jahal. Dia pun naik pitam dan mengambil tombak, lalu menancapkannya pada tubuh Sumayyah rodhiallohu anha. Akhirnya beliau pun wafat dalam keadaan syahidah.
Rasulullah SAW selalu mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yassir.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, Ammar berkata, “Wahai Rasulullah, azab yang kami derita telah sampai ke puncak.”
Rasulullah SAW berkata, “Sabarlah, wahai Abal Yaqzhan… Sabarlah wahai keluarga Yassir, tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah surga!”.

Siksaan yang diami oleh Ammar dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat. Berkata Amar bin Hakam, “Ammar bin yassir itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya.”

Ammar bin Maimun melukiskan, “Orang-orang musyrik membakar Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah SAW lewat di tempatnya, memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, ‘Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim!”

Ibrah dari Kisah ini :

Tidak ada perjalanan hidup ini yang mulus-mulus saja tanpa adanya rintangan dan cobaan. Begitu juga para pejuang atau mujahid dakwah, bahwa rintangan dan cobaan adalah bagian dari kelengkapan dalam kehidupan ini. Keimanan seseorang tidaklah cukup dengan ucapan dan retorika, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan atau perilaku. Dan jangan lupa harus siap menghadapi ujian dan cobaan.
Firman Allah SWT:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman” padahal mereka belum lagi diuji?” (QS Al-Ankabut: 2)

Apakah kalian mengira akan dapat masuk surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang tabah?” (QS Ali Imran: 142)

Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta.”(QS Al-Ankabut: 3)

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here