Ibrah Kehidupan #35: Ammar Bin Yassir, “Abal Yaqzhan” (bagian-2).

0
120
Foto ilustrasi Ammar Bin Yassir diambil youtube.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Pada suatu saat, ketika Ammar bin Yassir telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, para kuffar quraisy itu berkata kepadanya, “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”

Ammar pun mengikuti perintah mereka tanpa menyadari apa yang keluar dari bibirnya. Ketika siuman (tersadar) akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sangat menyadari akan apa yang telah diucapkannya, maka memuncaklah kegalauan akalnya dan terbayanglah di matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi.
Ketika Rasulullah SAW menemui sahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya berkata, “Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?” “Benar, wahai RasuIullah,” ujar Ammar.

Rasulullah tersenyum berkata, “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa-apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!” keterpaksaan telah menghalalkan ucapan yang tidak patut oleh Ammar bin Yassir lantaran menghadapi siksaan yang luar biasa bengisnya.

Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini: “Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan…” (QS An-Nahl: 106)

Kembalilah Ammar diliputi oleh ketenangan dari dera yang menimpa tubuhnya. Ia tak lagi merasakan sakit. Jiwanya tenang. Ia menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah, bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang begitu kokoh.

Setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya. Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini, Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi. Rasulullah amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketakwaan Ammar kepada para shahabat.

Rasulullah bersabda, “Diri Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya!”
Dalam perjalanan hidup yang aman tenteram di Madinah, pernah suatu ketika terjadi selisih paham antara Khalid bin Walid dengan Ammar. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Dan siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!” Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.

Jika Rasulullah SAW telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan.

Demikian halnya Ammar, berkat nikmat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh. Hingga disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh teladan bagi para sahabat.

Beliau bersabda, “Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti, Abu Bakar dan Umar. Dan ambillah pula hidayah yang dipakai Ammar untuk jadi bimbingan!”

Ibrah Dari Kisah ini:

Perjuangan atau jihad itu jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tingkat keikhlash-an yang tinggi serta tawakkal kepada Allah ‘Azza Wajalla, maka akhirnya akan mendapatkan apa yang dicita-citakannya.

Bahkan firman Allah:

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, maka sungguh Kami (Allah) pasti akan menunjukkan berbagai jalan kami kepadanya untuk mencapai cita-citanya itu” (QS al-ankabut : 69).

Cita-cita atau ujung dari proses kehidupan ini bukanlah seonggok kumpulan “keinginan”, tetapi benar-benar disertai “Azzam” atau komitmen memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh dan disertai keteguhan, kesabaran, dan tawakkal kepada Allah swt.
Para aktifis persyarikatan seharusnya demikian juga semangat kejuangannya. Ammar bin Yassir adalah teladan yang inspiratif. Bagaimana Kader 1912, sudahkah ke Ikhlasan kita dalam berjuang seperti sahabat Ammar bin Yassir?

Membakar: Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya Kyai Mahsun Jayadi ( berdiri) memberi energi kepada peserta Turba di Muhammadiyah Kenjeran (30/10). (Foto: Habibie)

* Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here