Ibrah Kehidupan #37: Ammar Bin Yassir, “Abal Yaqzhan” (3-habis).

0
88
Foto ilustrasi Ammar Bin Yassir diambil youtube.com

KLIKMU CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Ammar berdiri di samping menantu Rasulullah tersebut. Bukan karena fanatik atau berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali Bin Abi Thalib adalah khalifah kaum Muslimin, dan berhak menerima baiat sebagai pemimpin umat.

Ketika meletus Perang Shiffin yang mengerikan itu, Ammar bin Yassir ikut bersamanya. Padahal saat itu usianya telah mencapai 93 tahun. Orang-orang dari pihak Muawiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari Ammar bin Yassir, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga menjadi manusia “golongan pendurhaka” (Nabi Muhammad saw pernah mengatakan bahwa Ammar Bin Yassir nanti akan mati dibunuh oleh golongan pendurhaka).

Tetapi keperwiraan Ammar bin Yassir yang berjuang di fihak pasukan tantara Ali Bin Abi Thalib. Hal ini menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka (tentara Muawiyah). Maka sebagian dari anak buah Muawiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya. Hingga setelah kesempatan itu terbuka, mereka pun membunuh Ammar bin Yassir.

Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu, yaitu golongan yang membunuh Ammar bin Yassir, yang tidak lain dari pihak Muawiyah!.

Jasad Ammar bin Yassir kemudian dipangku Khalifah Ali bin Abi Thalib, dibawa ke sebuah tempat untuk dishalatkan bersama kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya. Setelah itu, para sahabat kemudian berkumpul dan saling berbincang. Salah seorang berkata, “Apakah kau masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu bersabda, “Surga telah merindukan Ammar?” “Benar,” jawab yang lain. “Dan waktu itu juga disebutnya nama-nama lain, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Salman al-Farisi, dan Bilal Bin Rabbah” timpal seorang sahabat lainnya.

Bila demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan Ammar bin Yassir. Dan jika demikian, maka telah lama surga merindukannya, sedang kerinduannya tertangguhkan, menunggu Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi tanggungjawabnya. Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan hati gembira.

Ibrah dari Kisah ini :

Ammar Bin Yassir, sahabat Nabi saw yang teguh keimanannya, menjadi contoh teladan bagi seluruh umat. Menjadi teladan tentang teguhnya keimanan, teguhnya pendirian, dan teguhnya kesabaran. Ammar bin Yassir salah satu sahabat dari keluarga miskin, yang secara terang-terangan menyatakan keislamannya sejak di Makkah.

Ibunda Ammar bin Yassir (Sumayyah) termasuk juga keluarga miskin yang secara terang-terangan menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah dan masyarakat Makkah pada umumnya. Sikapnya yang terus terang ini menjadikan kaum kuffar quraisy memusuhinya, menyiksanya, dan bahkan sampai upaya membunuhnya. Sumayyah menemui ajalnya di tangan Abu Jahal, lewat tusukan tombaknya kearah kemaluannya, mengantarkan Sumayyah menjadi “Syahidah” pertama dari kaum muslimin.

Perjuangan memang tidaklah mulus jalannya. Perjuangan menegakkan agama Allah swt membutuhkan kesungguhan, keteguhan iman, dan juga kesabaran. Perjuangan tidak bisa ditarget sehari, seminggu, sebulan, setahun. Tetapi sepanjang hayat.

Hakekat hidup adalah perjuangan dan tegaknya aqidah Islam.
Hidup manusia ini ibarat “Akad Kontrak” yang harus ditunaikan sesuai dengan akad yang disepakati. Dalam akad kontrak kehidupan itu harus jelas program serta kinerjanya. Harus tuntas sebelum berakhirnya kontrak kehidupan.

Ammar Bin Yassir, adalah contoh salah satu sahabat Nabi saw yang telah mengikat kontrak kehidupan. Telah menunaikan seluruh tugas kehidupan serta kinerjanya secara tuntas. Dan akhirnya Ammar bin Yassir mengakhiri hidupnya pun dalam keadaan berjuang. Allah swt sesungguhnya tidak menyia-nyiakan sebesar apapun amal perbuatan hambanya, kesungguhan perjuangannya, serta tingkat kesabarannya.

,”Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS.Az-Zumar : 10).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here