Ibrah Kehidupan #39: Abu Hurairah, Bapak-nya Kucing (- 2)

0
152
Foto ilustrasi diambil dai sahabatamrullah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun  Jayadi*

Awal perkenalan Abu Hurairah dengan Nabi Muhammad saw terjadi saat Abu Hurairah tiba di Madinah malam hari melalui perjalanan panjangnya dari Ad-Daus, Yaman.

Tetapi tibanya beliau di malam itu tidak dapat di sambut oleh Rasulullah saw dan para sahabat karena mereka semua sedang berada di medan perang Khaibar.
Sampailah waktu Subuh, kemudian para sahabat berkumpul untuk melaksanakan shalat subuh yang di pimpin oleh Siba bin Urfutoh Radhiallahu anhu yang telah di tunjuk oleh Rasulullah menjadi imam kala Rasulullah saw berperang saat itu.

Setelah shalat subuh selesai tak lama terdengar suara suara yang menandakan tibanya tentara kaum Muslimin berserta panglimanya yaitu Rasulullah saw , sebagaimana biasanya Rasulullah langsung menuju masjid shalat dua rakaat dan menemui beberapa sahabat, kemudian dilihatlah oleh Rasulullah saw seseorang yang mempunyai kulit agak gelap, lebar pundaknya serta memiliki celah diantara dua gigi depannya dan langsung membaiat Rasulullah.

Kemudian, Rasulullah saw mengatakan : “Dari mana engkau?”, Abu Hurairah menjawab, “Aku berasal dari Ad-Daus”, Rasulullah mengatakan, “Sungguh aku dulu tidak menyangka ada kebaikan di Daus”.
Abu Hurairah yang merupakan tamu baru di kota Madinah, juga dikenal pada saat itu seorang sahabat yang sangat miskin. Namun, kaum muslimin saat itu telah menyediakan tempat untuk tamu Allah yang tidak mempunyai harta dan keluarga. Mereka akan di tempatkan di masjid, seraya belajar Islam kepada Rasulullah saw.

Ahlu suffah, merupakan sebutan untuk mereka para penghuni masjid Nabawi saat itu, dan sahabat Abu Hurairah merupakan orang yang paling fakih di antara ahlu Suffah yang lain, karena jarangnya ia absen dalam mendengarkan Rasullah saat menyampaikan pelajaran.

Para Ahlu Suffah mendapatkan makanan jika Rasulullah mendapatkan makanan, dan mereka juga tak makan jika keluarga Rasulullah tak makan maka laparnya Ahlu Suffah berarti laparnya Rasulullah serta keluarganya Rasulullah saw.

Abu Hurairah pernah berceritera tentang kelaparan : “Aku pernah merasakan lapar sampai aku hampir pingsan, agar aku mendapatkan makanan, aku berpura-pura seperti orang yang kejang diantara mimbar Rasul dan rumah Aisyah sampai orang-orang datang kepadaku kemudian meruqyahku, aku langsung mengangkat kepalaku lalu aku katakan: aku bukan orang kesurupan seperti yang kalian lihat, aku begini ini karena lapar.

Abu Hurairah pernah berceritera: Dalam kondisi lapar aku duduk di tepi jalan yang biasa di lewati oleh para sahabat. Tak lama berselang lewatlah Sahabat Abu Bakar Radhiallahu Anhu di hadapanku, akupun langsung menghampiri Abu Bakar bertanya-tanya tentang masalah agama, aku berharap pertanyaan yang ia layangkan dapat membawanya diundang makan bersama Abu Bakar, namun tidak seperti yang aku harapkan, lalu Beliaupun berlalu.
Kemudian lewatlah Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu , maka aku melakukan seperti apa yang aku lakukan terhadap Abu Bakar dengan harapan yang sama, namun tidak juga seperti yang aku harapkan.

Beliaupun kemudian berlalu.

Berikutnya, lewatlah Rasulullah saw , melihat aku yang sedang duduk-duduk di jalan, Rasulullah mengetahui bahwa aku sedang kelaparan, lalu Rasulullah memanggil aku untuk datang kerumahnya, ternyata di dalam rumah Rasulullah ada satu bejana susu.

Kemudian Rasulullah saw berkata, “wahai Abu hurairah panggilah para ahli suffah”. Mendengar perintah tersebut akupun pergi memanggil ahli suffah sambil berkata dalam hati, “kenapa tidak saya dikasih minum dulu?, jika ahlu suffah datang maka akan habis susu itu, tapi biarlah kelaparan ku ini tak menghalangi ku untuk taat kepada Allah dan RasulNya”.

Datanglah Ahlu Suffah dengan perasaan senang, begitu mereka duduk, Rasulullah saw memerintahkan aku untuk menuangkan kepada setiap ahlu suffah susu tersebut sampai semua kenyang. Kemudian Rasulullah senyum sambil melihat bejana susu lalu melihat kepadaku yang kelaparan. Beliau berkata “ wahai Abu hurairah tinggal aku dan kamu”. Akupun menjawab, “benar wahai Rasulullah”. Rasulullah berkata, “minumlah”. Dan akupun langsung meminumnya, sampai aku tidak mendapatkan ruang kosong dalam lambungku, setelah aku kenyang barulah Rasulullah meminum susunya”.
Subhanallah, terllihat sekali kelembutan, kebaikan, kepedulian Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya, dan lihatlah ketaatan Abu Hurairah Radhiallahu Anhu akan perintah Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam .

Ibrah dari Kisah ini:
Abu Hurairah, perantau dari desa Ad-Daus, negeri Yaman, berkulit coklat kehitam-hitaman, bertekad melakukan perjalanan jauh nan panjang ke Madinah untuk bertemu dengan Rasulullah saw menyatakan keislamannya. Meskipun dia termasuk kalangan miskin papa, tetapi justeru menjadikannya sebagai kesempatan meraih cita-cita menjadi hamba Allah swt dan mencintai Rasulullah saw serta berjihad di jalan Allah.

Sering kali orang menganggap bahwa kekurangan finansial atau kemiskinan menjadi alasan untuk tidak ikut berjihad dalam agama Allah. Abu Hurairah telah membuktikan bahwa keterbatasan dan serba kekurangan dalam hidup justeru menjadi modal mengukuhkan kesabaran dan ketahanan mentalnya.Kader 1912 mari  kita  eratkan barisan kita

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota  Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here