Ibrah Kehidupan #42: Abdurrahman bin ‘Auf, Pebisnis Handal (-1)

0
237
Foto ilustrasi abdurrahman bin rauf diambil dari kesebelasan.web.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Nama lengkapnya adalah: Abdul Ka’bah, bin ‘Auf, bin `Abdi `Auf, bin `Abdil Hârits, Bin Zahrah, bin Kilâb, bin al-Quraisyi, az-Zuhri, Abu Muhammad. Setelah masuk Islam, Nabi Muhammad saw memberi perubahan nama awal “Abdul Ka’bah” menjadi “Abdurrahman”. (akhirnya lebih popular dipanggil “Abdurrahman bin ‘Auf”) .

Abdurrahman bin Auf dilahirkan sekitar sepuluh tahun setelah tahun Gajah (yakni tahun kelahiran Nabi Muhammad saw), dan termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia berhijrah sebanyak dua kali dan ikut serta dalam perang Badar, Uhud, dan beberapa peperangan lainnya. Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah.

Abdurrahman bin Auf termasuk garda terdepan (assaabiquunal awwaluun) penerima ketauhidan yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Ia adalah sahabat Abu Bakar Assiddiq dan termasuk orang kelima yang di Islamkan oleh Abu Bakar Assiddiq. Sebagai seorang pengusaha, ia tidak pernah absen dengan peperangan. Ia punya tanda kenangan perang yakni mendapatkan 20 kali hujaman pedang / tombak, dan giginya pernah rontok dalam perang Uhud. Ia menyadari, pengorbanan yang harus diberikan kepada Islam bukan hanya harta tetapi juga jiwa.

Dengan kemampuannya dalam berbisnis, Abdurrahman bin Auf juga membawa seluruh kekayaannya ketika berhijrah ke Madinah. Di tengah perjalanan kekayaannya dirampok dan dirampas semuanya oleh kawanan Quraisy, penguasa Mekkah. Ia dan Suhaib Ar-Rumi kehilangan seluruh harta kekayaannya.
Abdurrahman bin ‘Auf, adalah pebisnis ulung, sangat sukses, sehingga merasa heran dengan dirinya sendiri. Ia pernah berkata, “Aku heran terhadap diriku sendiri. Seandainya aku mengangkat batu, di bawahnya aku akan temukan emas dan perak.” (maksudnya, bahwasanya apa saja yang dia lakukan selalu bernilai bisnis ekonomis, dan pastinya mendatangkan keuangan dan keuntungan yang besar).

Padahal, bisnis yang ia lakukan bukan sebagai ajang untuk menumpuk-numpuk harta, atau pelampiasan kerakusan. Baginya, bisnis adalah profesi dan tanggungjawab, juga sebagai jalan kesuksesan dunia dan akhirat.

Abdurrahman bin Auf adalah tipe lelaki yang penuh semangat dan tanggungjawab, dan sifat itu ia buktikan dalam bisnisnya. Ketika berlaga di medan perang, ia sangat bersemangat seperti singa menerkam mangsanya, tatkala sedang khusyuk beribadah, ia begitu syahdu, dan ketika sedang berbisnis seakan-akan ia akan hidup selamanya sehingga bisnisnya sukses besar.

Padahal dahulu, dia berangkat ke Madinah dan meninggalkan Makkah dalam keadaan miskin papa (habis dirampok), hartanya hanya yang melekat pada badannya. Bahkan sesaat setelah hijrah dan tiba di Madinah, Rasulullah saw mempersaudarakan dirinya dengan salah satu kaum Anshar. Persaudaraan yang begitu dahsyat penuh makna dan sejarah.
Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’d bin Rabi’.

Sebagaimana dipaparkan oleh Anas bin Malik. Sa’d memberi tawaran yang menggiurkan pada Abdurrahman, Saudaraku, aku seorang terkaya di Madinah. Ambillah separuh hartaku yang kau suka, aku juga memiliki dua istri, pilih yang kau suka, dan nikahilah! Abdurrahman bin Auf menjawab, Semoga Allah melimpahkan berkahNya padamu juga pada keluarga dan hartamu. Saya tidak butuh semua yang kau tawarkan, tapi aku mohon agar engkau tunjukkan arah pasar.

Ia pun lau berangkat ke pasar, melakukan jual-beli, hingga mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Begitulah sosok Abdurrahman, tidak pendek akal, tetapi hidupnya penuh dengan misi dan kemandirian. Dan semua kewajiban agama ia laksanakan, sehingga sukses dalam berjuang dan berdakwah, sebuah teladan agung bagi umat.

Bisnisnya sukses karena sangat memperhatikan kehalalan hartanya, serta proses mendapatkannya. Ia tidak mau melakukan yang syubhat alias tidak jelas kehalalannya. Ia pun semakin sukses dan berkah. Harta yang ia peroleh tidak untuk ditumpuk-tumpuk sebanyak mungkin, tapi demi perjuangan agama, termasuk sebagai logistik pasukan perang kaum Muslimin.
Nabi pernah bersabda padanya, Wahai Putra Auf, kamu ini orang kaya-raya. Kamu akan masuk surga dengan merangkak. Karena itu, pinjamkan kekayaanmu pada Allah. Allah pasti memudahkan langkah kakimu.

Sejak ia mendengar nasihat Nabi saw itu, ia tak pernah lupa menginfakkan hartanya di jalan Allah. Dan, kekayannya pun makin melimpah. Tercatat, ia pernah menjual tanahnya senilai 40 ribu dinar. Uang itu, lalu ia bagikan pada keluarganya, dari keturunan Bani Zuhrah.

Ibrah dari Kisah ini :

Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat yang masuk “assabiquunal awwalun” gelombang pertama yang menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah saw.
Salah satu keistimewaan Abdurrahman bin Auf, adalah kepiawaiannya dalam berbisnis sehingga mampu mengumpulkan harta benda yang cukup banyak.

Tetapi juga kesungguhannya dalam ikut membela agama Allah (Islam) tidak diragukan lagi. Ini dibuktikan dengan keikut sertaannya dalam berbagai peperangan Bersama Rasulullah saw.

Logika bisnis Abdurrahman bin Auf sangat simple, Bisnis harus dilakukan secara sungguh-sungguh (professional), keuntungan dari bisnis berbanding lurus dengan seberapa infaq yang diberikan di jalan Allah, artinya semakin banyak berinfaq untuk memperjuangkan agama Allah maka rizqi akan semakin bertambah dan berkah. Para Kader 1912 harus berupaya menduplikasi semangat beliau

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here