Ibrah Kehidupan #47: Zaid bin Tsabit, Juru Tulis Nabi (-3)

0
432
Foto Ilustrasi Zaid Bin Tsabit diambil dari kelaspena.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Peristiwa Besar Pemeliharaan Al-Qur’an.
Setelah Rasulullah saw wafat, kaum muslimin dibuat sibuk dengan konflik melawan orang-orang murtad. Sehingga banyak korban jatuh dari kaum muslimin. Dalam Perang Yamamah (perang menghadapi nabi palsu, Musailimah al-Kadzab) misalnya, sejumlah besar sahabat penghafal Alquran gugur. Umar bin al-Khattab khawatir para penghafal Alquran terus berguguran karena konflik belum juga usai. Ia mendiskusikan ide membukukan Alquran dengan Khalifah Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar beristikharah. Bermusyawarah dengan para sahabat. Setelah itu, ia memanggil Zaid bin Tsabit, “Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda yang cerdas. Aku akan memberimu tugas penting”. Abu Bakar memerintahkanya membukukan Alquran.
Zaid pun memegang tanggung jawab besar. Ia diuji dengan amanah yang berat dalam proyek besar ini. Ia mengecek dan menelaah hingga terkumpullah Alquran tersusun dan terbagi-bagi berdasarkan surat masing-masing. Tentang tanggung jawab besar ini, Zaid berkata, “Demi Allah! Kalau sekiranya kalian bebankan aku untuk memindahkan bukit dari tempatnya, tentu hal itu lebih ringan daripada kalian perintahkan aku untuk membukukan Alquran.”
Ia juga mengatakan, “Aku meneliti Alquran, mengumpulkannya dari daun-daun lontar dan hafalan-hafalan orang.” Namun dengan taufik dari Allah aku berhasil menjalankan amanah besar tersebut dengan baik.
Pada masa pemerintah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu jumlah orang yang memeluk Islam semakin hari semakin bertambah. Hal itu terjadi di berbagai daerah. Tentu saja hal ini sangat positif. Namun, hal ini bukanlah tanpa celah. Daerah-daerah tersebut menerima riwayat qira-at yang berbeda-beda. Dan mereka belum mengenal variasinya. Sehingga mereka menyangka orang yang berbeda bacaan Alqurannya membuat-buat bacaan baru. Muncullah masalah baru.
Melalui usul sahabat Hudzaifah bin al-Yaman, Khalifah Utsman bin Affan pun membuat kebijakan menyeragamkan bacaan Alquran. Utsman mengatakan, “Siapakah orang yang paling dipercaya untuk menulis?” Orang-orang menjawab, “Juru tulis Nabi” (maksudnya Zaid bin Tsabit). Utsman kembali mengatakan, “Siapakah yang paling fasih bahasa Arabnya?” Orang-orang menjawab, “Said bin al-Ash. Ia seorang yang dialeknya paling mirip dengan Rasulullah.” Utsman kembali mengatakan, “Said yang mendikte dan Zaid yang menulis.”
Zaid bin Tsabit meminta bantuan sahabat-sahabat yang lain. Para sahabat pun membawakan salinan Alquran yang ada di rumah Ummul Mukminin Hafshah binti Umar radhiallahu ‘anha. Para sahabat saling membantu dalam peristiwa besar dan bersejarah ini. Mereka jadikan hafalan Zaid bin Tsabit sebagai tolok ukur. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Pastilah para penghafal Alquran dari para sahabat Nabi Muhammad saw tahu bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang sangat mendalam ilmunya.”

Ibrah dari Kisah ini :

Sosok Zaid bin Tsabit sungguh sangat fenomenal. Beliau diberi anugerah oleh Allah swt memiliki otak yang cerdas, hafalan yang kuat, tawadlu’ nya juga luar biasa.

Pembukuan al-Qur’an pada zaman khalifah Abu Bakar Assiddiq, melibatkan seorang jenius Zaid bin Tsabit karena dikenal sebagai juru tulis Nabi, bahkan Zaid bin Tsabit ditunjuk sebagai ketua tim-nya.
Proyek Penyeragaman bacaan al-Qur’an, dan menentukan al-Qur’an standar, di zaman Khalifah Utsman bin Affan, juga kembali melibatkan sosok jenius Zaid bin Tsabit. Lagi-lagi sebagai ketua tim-nya. Seorang pribadi yang taat, tawadlu’ cerdas, dan bersungguh-sungguh berjihad di jalan Allah, sejak muda sampai masa tuanya, sampai dipanggil Allah swt. Kader 1912 Yuk, kita jadikan model sosok fenomenal ini.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here