Ibrah Kehidupan #48: Zaid bin Tsabit, Juru Tulis Nabi (habis)

0
117
Foto Ilustrasi Zaid Bin Tsabit diambil dari kelaspena.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Para ahli sejarah sepakat bahwa Zaid bin Tsabit memiliki beberapa keutamaan, antara lain:

Pertama, Zaid bin Tsabit termasuk sosok atau figure yang memiliki kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat. Kaum muslimin sangat menghormatinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu hari Zaid bin Tsabit mengendarai hewan tunggangannya. Kemudian Abdullah bin Abbas mengambil tali kekangnya dan menuntunnya. Melihat hal itu, Zaid bin Tsabit berkata, “Biarkan saja aku pegang tali ini wahai anak paman Rasulullah”. Abdullah bin Abbas pun menjawab “Tidak”. Seperti inilah selayaknya kita menghormati ulama kita,” jawab Ibnu Abbas.

Kedua, Zaid bin Tsabit adalah orang pertama yang membaiat Abu Bakar Assiddiq menjadi khalifah menggantikan Rasulullah saw.

Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengisahkan: Ketika Rasulullah saw wafat, orang-orang Anshar angkat bicara. Salah seorang di antara mereka mengatakan, ‘Wahai orang-orang Muhajirin, sesungguhnya jika Rasulullah saw menugaskan salah seorang di antara kalian, beliau akan menjadikan salah seorang di antara kami sebagai pendampingnya. Karena itu, kami memandang setelah beliau, kepemimpinan ini dipegang oleh dua orang. Satu dari muhajirin dan satu dari anshar. Orang-orang Anshar pun menyuarakan demikian. Lalu berdirilah Zaid bin Tsabit. Ia berkata, sesungguhnya Rasulullah saw berasal dari Muhajirin. Dan kepemimpinan itu pada Muhajirin dan kita adalah penolong mereka. Sebagaimana kita telah menjadi Anshar-nya Rasulullah saw.

Abu Bakar pun berdiri dan berterima kasih atas ucapan Zaid bin Tsabit yang menenangkan suasana. Abu Bakar berkata, ‘Wahai orang-orang Anshar, benarlah apa yang teman kalian ucapkan. Seandainya kalian melakuakn selain itu, tentu kami tidak membenarkannya’.

Zaid bin Tsabit menggapai tangan Abu Bakar, kemudian berkata, ‘Ini adalah sahabat kalian. Baiatlah dia’.

Ketiga, Zaid bin Tsabit juga diberi amanah membagi ghanimah di Perang Yarmuk. Ia juga merupakan salah seorang dari enam orang ahli fatwa: Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ubay, Abu Musa, dan Zaid bin Tsabit. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan tidak melebihkan seorang pun dalam permasalah kehakiman, fatwa, faraidh, dan qiroa-ah dibanding Zaid bin Tsabit.

Keempat, Zaid bin Tsabit selain dikenal sebagai ahli fatwa, juga dikenal sangat alim tentang ilmu fara’idh (ilmu pembagian warisan). Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Alqurannya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. at-Turmudzi 3791).

Seorang tokoh tabi’in, Muhammad bin Sirin, mengatakan, “Zaid bin Tsabit mengalahkan orang-orang dalam dua hal: Alquran dan faraidh.”

Kelima, Zaid bin Tsabit dikenal luas ilmunya sehingga diibaratkan sebagai “tintanya umat” (tinta adalah lambang dari ilmu, karena ilmuwan zaman dulu pasti menulis).

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu wafat pada tahun 45 H di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu. Di hari wafatnya Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah berkata, “Pada hari ini telah wafat tintanya umat ini. Semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya.”

Ibrah dari Kisah ini :

Zaid bin Tsabit, sejak muda sudah menunjukkan tanda-tanda akan menjadi orang yang hebat pada zamannya. Memiliki kedudukan yang tinggai di hadapan masyarakat, sikap tawadlu’nya juga luar biasa. Seorang yang alim dengan berbagai bahasa selain bahasa arab. Alim tentang ilmu faraidh atau pembagian warisan, juga sebagai orang pertama yang membai’at Abu Bakar Assiddiq menjadi khalifah pertama dari khulafaurrasyidin.

Bacaan al-Qur’annya meyakinkan, bahkan sebagai sosok atau figure penentu pada proyek pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an zaman khalifah Abu Bakar Assiddiq, maupun proyek pembakuan dan penyeragaman bacaan al-Qur’an pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

Kecerdasan dan kealimannya, benar-benar telah dipersembahkan sepenuhnya untuk Izzul Islam wal Muslimin.

Foto Kyai Mahsun Jayadi Ketika memimpin Apel Milad Muhammadiyah diambil dari Google

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here