Ibrah Kehidupan #58: Ibnu Abbas, Mufassir Ulung (-1).

0
96
Foto ibnu-abbas-ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya adalah, Abdullah bin Abbas bin Abdul-Muththalib. Lahir di Makkah tahun 619, dan wafat di Thaif pada tahun 687 M. ayahnya bernama Abbas bin Abdul Muthallib, dan Ibunya bernama Ummu Fadl Lubaba.

Abdullah bin Abbas (عبد الله بن عباس ) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad saw sekaligus saudara sepupunya. Nama Ibnu Abbas (ابن عباس) juga digunakan untuknya untuk membedakannya dari Abdullah yang lain, dan panggilan “Ibnu Abbas” ini lebih popular di masyarakat. Maklum, ada 5 sahabat Nabi dengan nama yang sama “Abdullah” dan semuanya terkenal dalam sejarah Islam yakni, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amru bin Ash, dan Abdullah bin Mas’ud. Insyaallah akan saya tampilkan semuanya secara berurutan.

Ibnu Abbas, merupakan salah satu sahabat Nabi saw yang berpengetahuan luas, dan banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta dia juga menurunkan seluruh Khalifah dari Bani Abbasiyah.

Dia merupakan anak dari keluarga yang kaya dari seorang pedagang bernama Abbas bin Abdul-Muththalib, maka dari itu dia dipanggil Ibnu Abbas, anak dari Abbas. Ibu dari Ibnu Abbas adalah Ummu al-Fadl Lubaba, yang merupakan wanita kedua yang masuk Islam, melakukan hal yang sama (masuk islam) dengan teman dekatnya yakni Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Muhammad saw.

Ayah dari Ibnu Abbas dan ayah dari Nabi Muhammad merupakan anak dari orang yang sama, yaitu Syaibah bin Hâsyim, lebih dikenal dengan nama Abdul-Muththalib. Ayah orang itu adalah Hasyim bin Abdulmanaf, penerus dari Bani Hasyim klan dari Quraisy yang terkenal di Mekkah. Ibnu Abbas juga memiliki seorang saudara bernama Fadl bin Abbas.
Dikisahkan, suatu saat Rasulullah saw menimang bayi Ibnu Abbas dan mendoakan Ibnu Abbas dengan cara meletakkan air liurnya ke mulut Ibnu Abbas. Ibnu Abbas didoakan khusus agar kelak menjadi ahlul hikmah dan ahli ilmu dan kelak suatu saat nanti Abdullah Ibnu Abbas akan menjadi orang yang sangat dikagumi dan dijadikan sandaran atau rujukan khususnya Alqur’an, tafsir, dan hadis.

Semasa hidupnya, Ibnu Abbas pernah berpesan agar dimakamkan di Thaif, bukan di Madinah atau di Makkah. Bagi Ibnu Abbas, Madinah dan Makkah merupakan kota suci yang hanya layak untuk orang-orang yang benar-benar bersih. Ibnu Abbas yang berjuang bersama Rasulullah merasa tidak pantas dimakamkan di tempat suci ini. Karena itu, di masa senjanya, Ibnu Abbas memilih tinggal di Thaif sampai meninggal pada 78 Hijriyah saat berusia 81 tahun.
Selain terkenal dalam jalur periwayatan hadis, Ibnu Abbas juga dikenal dengan banyak julukan antara lain Hibrul Ummah (pemimpin umat), Faqihul Ashr (orang yang paling pandai memahami agama di masanya), Imam Tafsir (ahli tafsir), al-Bahr (lautan karena luasnya ilmu), dan banyak julukan lain.

Ibnu Abbas yang dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah, semenjak kecilnya sudah menunjukkan kecerdasan dan kesungguhannya terhadap suatu masalah. Rasulullah saw sering terlihat berdua bersama si kecil Abdullah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah saw mengajak Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya kepada pemuda cilik ini: “Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?” tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil. “Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu.”

Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepada-Nya. Jika kamu butuh pertolongan, memohonlah kepada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis.” (Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi). Abdullah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan ALlah dan Rasul-Nya.

Ibrah dari Kisah ini :

Abdullah bin Abbas, atau yang lebih popular dengan panggilan Ibnu Abbas, adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw, termasuk sepupu Nabi Muhammad saw sendiri. Sejak kecil sudah nampak aura kecerdasannya, bahkan dido’akan oleh Nabi agar kelak menjadi manusia berilmu yang luas dan mendalam, bahkan menjadi rujukan bagi umat Islam, khususnya dalam bidang tafsir, hadits, dan fiqih.

Berusaha dan Berdo’a adalah dua hal penting dalam meraih kesuksesan dalam hidup ini. Dan Ibnu Abbas telah melakukannya, bahkan didoakan oleh Nabi Muhammad saw sendiri.
Tidak layak seseorang khususnya kader 1912 yang ketika merasa sukses dalam hidup kemudian lupa dengan do’a dan dzikir kepada Allah swt. itu merupakan suatu kesombongan. Na’udzubillahi min dzalik.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

Foto ibnu-abbas-ilustrasi diambil dari Republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here