Ibrah Kehidupan #68: Ibnu Zubair, Pahlawan Perang, Pahlawan Ibadah (-2)

0
188
Foto Ilustrasi diambil dari Syahida.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Anak kecil itu (Ibnu Zubair) tumbuh dengan cepat. Vitalitas, kecerdasan, dan keuletannya yang luar biasa. Masa mudanya dilaluinya tanpa noda sebagai seorang suci, tekun ibadah, hidup sederhana, dan perwira gagah perkasa.

Demikianlah, hari-hari dan peruntungan itu dijalaninya dengan tabiatnya yang tidak berubah dan semangat yang tidak pernah kendur. Ia benar-benar seorang lelaki yang mengenal tujuannya dan menempuhnya dengan kemauan yang keras membaja dan keimanan kokoh dan luar biasa.

Ketika terjadi penaklukan di Afrika, Andalusia, dan Konstantinopel, ia, yang waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun, tampil sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terukir sepanjang masa. Dalam pertempuran di Afrika, kaum Muslimin yang jumlahnya hanya 20 ribu personil itu menghadapi musuh yang berkekuatan sebanyak 120 ribu orang.

Pertempuran berkecamuk dan pasukan Islam terancam bahaya besar. Abdullah bin Zubair mengamati kekuatan musuh dan segera menangkap di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan itu tidak lain ialah dari Raja Barbar yang menjadi tentara panglima tentaranya sendiri. Raja itu tidak putus-putusnya berteriak kepada tentaranya dan membangkitkan semangat mereka dengan cara istimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa rasa takut.

Abdullah menyadari bahwa pasukan berani mati itu tidak mungkin ditaklukan, kecuali dengan kematian panglima yang menakutkan tersebut. Tetapi, bagaimana cara untuk menemuinya, padahal untuk sampai kepadanya terhalang oleh tembok kokoh yang terdiri dari susunan tentara musuh yang bertempur laksana badai itu?
Namun, keberanian dan kenekatan Ibnu Zubair tidak akan pernah berhenti pada pertanyaan-pertanyaan saja. Ketika itulah ia memanggil sebagian rekan-rekannya, lalu berkata, “Lindungilah aku dari belakang dan mari menyerbu bersamaku.” Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, mereka berkibar di tempat panglima Barbar berdiri, menyampaikan perintah, dan mengatur siasat, mereka tahu bahwa kemenangan telah tercapai.

Secara serentak mereka menyerbu ke gelanggang dan segala sesuatu pun berakhir dengan kemenangan di pihak kaum Muslimin.

Panglima tentara Islam pada waktu itu, Abdullah bin Abu Sarah , mengetahui peranan penting yang telah dilakukan oleh Ibnu Zubair . Sebagai imbalannya, ia memintanya agar menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah, terutama kepada Khalifah Utsman bin Affan .

Kepahlawanannya dalam medan perang memang unggul dan luar biasa, tetapi hal itu tidak bisa mengungguli kepahlawanannya dalam beribadah. Orang yang keunggulannya bisa membangkitkan rasa bangga dan ujub dengan berbagai alasannya itu akan membuat kita takjub, karena ia selalu ditemukan dalam lingkungan orang-orang saleh dan rajin beribadah.

Jadi, reputasi, usia muda, kedudukan yang tinggi, kejayaan, dan kekuatannya tidak mampu sama sekali menghalangi Abdullah bin Az-Zubair untuk menjadi seorang lelaki yang ahli ibadah yang berpuasa pada siang hari dan qiyamul lail pada malam hari dengan kekhusyukan yang menakjubkan hati.

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ibnu Abu Mulaikah , “Ceritakanlah kepada kami kepribadian Abdullah bin Az-Zubair .”

Ibnu Abu Mulaikah berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat jiwa yang menyatu dalam raga seperti jiwanya (Ibnu Zubair). Ia tekun melakukan shalat dan mengakhiri segala sesuatu dengannya. Ia selalu rukuk dan sujud yang lama hingga burung-burung pipit bertengger di atas bahu dan punggungnya, menyangkanya tembok atau kain yang tergantung. Sebuah peluru dengan pelontar manjaniq pernah lewat di antara janggut dan dadanya saat ia shalat. Tetapi, Demi Allah, ia tidak peduli dan tidak pula memutus bacaan atau mempercepat waktu rukuknya.”

Ibrah dari Kisah ini :

Berjuang menegakkan kalimah Allah, adalah suatu kewajiban. Berjuang mencukupi kebutuhan hidup pun juga kewajiban. Dan, beribadah kepada Allah swt selain sebuah kewajiban juga merupakan kebutuhan manusia sebagai hamba Allah swt.

Ibnu Zubair, sejak usia muda belia sudah kelihatan bakat kecerdasan, keberanian, keperwiraannya, serta kegigihannya dalam hal Ibadah kepada Allah. Ta’at dan takutnya kepada Allah luar biasa. Tetapi dia tak punya rasa takut kepada siapapun termasuk kepada musuh yakni orang-orang kafir.

Ibnu Zubair, benar-benar “Pahlawan perang, dan Pahlawan ibadah”. Mari kader 1912 kita teladani sosok yang luarbiasa melebihi karakter superhero dalam sekuel film The Avenger 

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here