Ibrah Kehidupan #62: Ibnu Abbas, Umar bin Khattab, Bangga Pada Pemuda Cerdas Ini (-4 Habis)

0
859
Foto ibnu-abbas-ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: Umar Ibnul Khattab pernah mengajakku dalam sebuah majlis orang dewasa, sehingga sebagian sahabat bertanya:
لِمَ تُدْخِلُ هَذَا الفَتَى مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ؟” Mengapa si anak kecil ini kau ikut sertakan, kami juga punya anak-anak kecil seperti dia?” lalu Umar menjawab:
«إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ» “Sesungguhnya ia seperti yang telah kalian ketahui” .

Maka suatu hari Umar mengundang mereka dan mengajakku bersama mereka. Seingatku, Umar tidak mengajakku saat itu selain untuk mempertontonkan kepada mereka kualitas keilmuanku. Lantas Umar bertanya;
مَا تَقُولُونَ فِي إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ
Bagaimana komentar kalian tentang ayat “Jika pertolongan Allah dan kemenangan datang, dan kau lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, -hingga ahkir surat (An-Nashr 1-3)-”.

Sebagian sahabat berkomentar: “Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampunan kepada-Nya, tepatnya ketika kita diberi pertolongan dan diberi kemenangan.”
Sebagian lagi berkomentar; “kalau kami nggak tahu.” Atau bahkan tidak berkomentar sama sekali.

Lantas Umar bertanya kepadaku; “Wahai Ibnu Abbas, beginikah kamu berkomentar mengenai ayat tadi? Aku menjawab: Tidak! Umar bertanya: Lalu komentarmu? Ibnu Abbas menjawab;
هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَهُ اللَّهُ لَهُ: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ فَتْحُ مَكَّةَ، فَذَاكَ عَلاَمَةُ أَجَلِكَ: فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Surat tersebut (An-Nashr) adalah pertanda wafat Rasulullah saw sudah dekat, Allah memberitahunya dengan ayatnya: “Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan”, itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu (Muhammad), karenanya “Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat”.

Umar berkata:
«مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَعْلَمُ»
“Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang kamu (Ibnu Abbas) ketahui.” (Sahih Bukhari).

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:
«نِعْمَ تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ» [مصنف ابن أبي شيبة: صحيح]
“Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu ‘Abbas”. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: Sahih).

Diriwayatkan pula, bahwa Abdullah bin Abbas ra (Ibnu Abbas) bercerita, “Tanyakanlah kepadaku mengenai tafsir Alquran. Aku telah menghafalnya sejak kanak-kanak.” Di lain riwayat ia berkata, “Pada usia sepuluh tahun, aku sudah sampai juz terakhir dalam menghafal Alquran.” (HR. Bukhari – Fathul Bari).

Memang jika dibandingkan dengan para sahabat, hadits-hadits Nabi SAW tentang penafsiran Alquran yang diriwayatkan olehnya sangat sedikit. Namun Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Ahli tafsir terbaik ialah Ibnu Abbas.” Abu Abdurrahman berkata, “Jika para sahabat mengajar Alquran kepada kami, mereka selalu berkata, ‘Kami belajar Alquran dari Rasulullah SAW sebanyak sepuluh ayat, dan kami tidak akan menambah ayat lain, sebelum sepuluh ayat disesuaikan antara ilmu dengan amalnya.” (Muntakhab Kanz)

Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, Ibnu Abbas ra berusia 13 tahun. Pada usia yang sangat muda itu, jika dibandingkan dengan tafsir dan hadits yang telah ia hasilkan, jelas itu merupakan karamah dan kenikmatan yang patut dicemburui. Sehingga ia layak menjadi imam para ahli tafsir Alquran. Para tokoh sahabat pun sering menanyakan mengenai penafsiran Alquran kepadanya.

Ibrah dari Kisah ini :

Subhanalloh, sosok sahabat Nabi saw dan teladan umat Abdullah bin Abbas, yang lebih popular dengan panggilan “Ibnu Abbas”, telah terukir dengan tinta emas dalam sejarah Islam. sejak kecil telah muncul pertanda akan menjadi orang besar, menjadi pejuang dan mujahid intelektual. Bukan sekadar secara fisik siap berperang di jalan Allah, tetapi dengan kecerdasan otaknya telah melakukan pencerahan lewat keahliannya dalam bidang tafsir, hadits, dan fiqh.

Baik sahabat se usianya, maupun para sahabat senior hormat kepadanya, bahkan Umar Ibnul Khattab merasa memperoleh pencerahan darinya dalam hal menafsirkan ayat terkait “Fat-hu Makkah”. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita khususnya Kader 1912, aamiin.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here