Ibrah Kehidupan #64 : Ibnu Umar, Guru dan Penyantun Dhu’afa (-2).

0
764
Foto Ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Ibnu Umar, sejatinya seorang pedagang yang sukses. Tetapi dengan kekayaannya itu tidak pernah lupa diambil sebagiannya untuk amal jariyah, sedekah, infak, dan zakat.

Menurut kesaksian Aisyah bahwa Ibnu Umar adalah seorang pedagang sukses dan kaya raya, tetapi juga banyak berderma. Ia hidup sampai 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw. Ia kehilangan pengelihatannya pada masa tuanya. Ia wafat dalam usia lebih dari 80 tahun, dan merupakan salah satu sahabat yang paling akhir yang meninggal di kota Makkah.

Sebagaimana yang sudah penulis tampilkan pada bagian pertama, bahwa Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) adalah sahabat Rasulullah yang dikenal sebagai periwayat hadis terbanyak kedua setelah Abu Hurairah yakni sebanyak 2.630 hadis.

Abdullah bin Umar dapat meriwayatkan banyak hadis karena dia senantiasa menghadiri majelis ilmu dan mengikuti Rasulullah saw.

Dia selalu mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah dalam keseharian. Oleh karena itu Abdullah bin Umar menjadi orang yang disegani dan dihormati. Bahkan, pujian terhadap Abdullah bin Umar datang dari orang-orang saleh. “Tidak ada di antara kami yang disenangi dunia dan dunia senang kepadanya, kecuali Umar dan putranya Abdullah,” demikian Jabir bin Abdillah memujinya.

Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan: “Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar Ibnul Khattab. Umar bin Khattab hidup pada masa dimana banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibnu Umar hidup pada masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia”.

Ibnu Umar telah membuktikan betapa cintanya kepada kaum dhu’afa, fakir, miskin, dan yatim. Abu Nu’aim meriwayatkan dari Muhammad bin Qais, ia berkata, “Tidaklah Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma makan kecuali bersama orang-orang miskin, hingga hal tersebut mempengaruhi kesehatan tubuhnya.” Dan dari Abu Bakar bin Hafsh, “Bahwasanya tidaklah Abdullah bin Umar makan dengan suatu makanan kecuali bersama seorang anak yatim.”

Dari Said bin Hilal berkata, “Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma sangat menginginkan makan ikan, namun orang-orang tidak menemukan ikan tersebut kecuali satu ekor saja, lalu istrinya menghidangkannya untuk dirinya, namun setelah masakan ikan itu diletakkan di hadapannya, datanglah seorang miskin di depan pintu, lalu Ibnu Umar berkata, ‘Berikanlah ikan tersebut kepadanya,’ istrinya pun berkata, ‘Subhanallah, kita dapat memberinya (orang miskin itu) satu dirham, sedangkan engkau, makan saja ikan tersebut.’ Dia berkata, ‘Tidak, karena Abdullah bin Umar (maksudnya adalah dirinya sendiri) menyukai ikan tersebut, dan tatkala Ibnu Umar telah menyukai sesuatu niscaya dia tinggalkan hal itu untuk Allah sebagai suatu sedekah’.”

Ibrah dari Kisah ini :

Profil seorang sahabat Nabi saw yang patut dijadikan contoh dalam kehidupan. Abdullah bin Umar Ibnul Khattab (Ibnu Umar) adalah salah satu dari profil sahabat tersebut.

Ibnu Umar, sosok sahabat Nabi saw yang selalu mengikuti peperangan melawan kaum kafir sejak perang Khandak. seorang ilmuan, ahli agama khususnya ilmu hadits, pedagang yang sukses, dermawan sejati, sangat mencintai kaum dhu’afa’, fakir, miskin, dan yatim. Ibnu Umar sangat terbiasa makan bersama mereka, bahkan dengan suka hati memberikan makanan yang sebenarnya ia sendiri menyukainya, kepada fakir, miskin dan yatim.

Barangkali Ibnu Umar adalah salah satu contoh profil “klasik yang Utopis”. Tetapi setidak-tidaknya menjadi inspirasi bagi kalangan muda muslim dalam menapaki kehidupan ini.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here