Ibrah Kehidupan #67: Abdullah Bin Zubair, Anak ingusan Tak Kenal Takut (-1).

0
270
Foto Ilustrasi diambil dari Syahida.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya, Abdullah bin Zubair bin Awwam, bin Khuwailid, bin Asad, bin Abdul ‘Uzza bin Qushay Al Asadi, Almadaniy. Lebih popular dengan panggilan “Abdullah bin Zubair” atau juga lebih popular lagi lebih singkat dipanggil “Ibnu Zubair”.
Ibnu Zubair, lahir di Madinah tahun 624 M, dan meninggal di Makkah pada tahun 692 M. tetapi jenazahnya dibawa oleh Ibunya (Asma’ binti Abu Bakar) ke Madinah dan dikubur di madinah.

Abdullah bin Zubair atau Ibnu Zubair (624 – 692) (Arab:عبدالله بن الزبير ) adalah putera dari Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar, di mana Zubair juga merupakan keponakan dari istri pertama Nabi Muhammad, Khadijah.

Ibnu Zubair masih berupa janin dalam rahim ibunya ketika sang ibu menempuh perjalanan di padang pasir yang panas dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Abdullah bin Az-Zubair memang ditakdirkan untuk melakukan hijrah bersama kaum Muhajirin selagi belum muncul ke alam dunia, namun masih tersimpan dalam perut ibunya.

Ibunya, Asma’ binti Abu Bakar Assiddiq radliallohu ‘anhu ketika telah tiba di Quba’, suatu dusun di luar Madinah, saat melahirkan pun tiba dan jabang bayi yang “muhajir” itu pun masuk ke bumi Madinah bersamaan waktunya dengan masuknya Muhajirin lainnya dari para shahabat Rasulullah saw lainnya.

Bayi yang pertama lahir pada saat hijrah itu dibawa kepada Rasulullah saw di tempat tinggalnya di Madinah. Beliau menciumi kedua pipinya dan mengecup mulutnya, hingga yang pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Az-Zubair itu ialah air liur Rasulullah saw yang mulia.

Ibnu Zubair merupakan bagian dari dzurriyyah/ klan Bani Asad. Sebagai anak muda ingusan, Abdullah bin Zubair berpartisipasi secara aktif dalam berbagai “kampanye” peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, seperti Pertempuran Badar dan Pertempuran Uhud, malah di peperangan Uhud, dia termasuk salah seorang yang melindungi Nabi Muhammad saw pada saat kekalahan pihak muslim, di mana sahabat-sahabat yang lain melarikan diri.

Ada kisah menarik antara Abdullah bin Zubair dengan Umar bin Khaththab. cerita ini bermula ketika Umar sedang berjalan-jalan di kota Madinah. ketika itu banyak anak kecil yang sedang bermain di jalan, namun ketika mereka melihat Umar bin Khattab, mereka lari tunggang langgang meninggalkan jalanan tersebut.

Namun ada satu anak yang tidak lari. Umar bin Khattab lalu mendekati anak tersebut dan bertanya, ” Hai anak, kenapa kau tidak ikut lari bersama mereka ? ” lalu anak kecil itu menjawab, ” Kenapa aku harus lari, sedang aku tidak bersalah padamu ya Amirul mukminin..” Umar lalu menepuk-nepuk pundak anak itu, dan berkata ” bagus, bagus. Sungguh suatu saat nanti, engkau akan menjadi seorang yang besar “.
Dialah Abdullah bin Zubair, seorang sahabat yang shalih, mujahid fi sabilillah sekaligus anak dari seorang sahabat yang dijamin masuk surga, yaitu Zubair bin ‘Awwam.

Dengan sentuhan cinta Asma’ binti Abu Bakar lahirlah ksatria pemberani yang keharuman namanya banyak membuat orang menaruh simpati, cinta dan telah menginspirasi jutaan kaum muslimin untuk berjuang menegakkan Islam.

Ibnu Zubair adalah sosok ahli ibadah, sangat tekun shalat malam dan berpuasa, disamping meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, sebanyak 33 hadits. Beliau piawai menunggang kuda, tangkas di medan laga, menyukai kata-kata indah, serta suaranya yang lantang menggelegar penuh wibawa. Suaranya yang lantang berwibawa itulah yang membuat orang-orang kafir ciut nyalinya dan ketakutan.

Ibrah dari Kisah ini :

Abdullah bin Zubair, atau lebih dikenal dengan “Ibnu Zubair”, adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw, merupakan bagian dari generasi awal yang mendapat bimbingan langsung dari Nabi saw.
Ibnu Zubair, sejak anak ingusan sudah dikenal taat dan tekun beribadah kepada Allah swt. dan yang tak kalah pentingnya, Ibnu Zubair “tidak kenal takut” menghadapi siapapun, selama dia tidak punya masalah dan tidak salah. Ibnu Zubair termasuk provokator (dalam arti positive) ketika genderang perang akan dilakukan, atas komando Nabi Muhammad saw.

Menjadi seorang pemberani itu memang penting, tetapi lebih penting lagi menjadi seorang pemberani serta mengumandangkan kebenaran di depan umum. Ini tidak semua orang bisa melakukan. Dan, Ibnu Zubair telah melakukannya.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here