Ibrah Kehidupan #70 : Ibnu Zubair, Keteladanannya mirip dongeng (bagian-4 habis).

0
241
Foto Ilustrasi diambil dari Syahida.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Berita-berita yang sebenarnya yang diceritakan oleh sejarah tentang ibadahnya Ibnu Zubair memang mirip dongeng. Karena, ia memang tiada tanding, tiada banding dalam ibadah puasa, shalat, haji, zakat, demikian juga ambisinya yang tinggi, kemuliaan dirinya, menghabiskan malam sepanjang hidupnya untuk bersujud dan beribadah, Menahan lapar waktu siang, sepanjang usianya untuk berpuasa dan berjihad, keimanannya yang teguh kepada Allah, dan ketakutannya kepada-Nya yang dahsyat.

Ibnu Abbas pernah ditanyai orang mengenai Ibnu Zubair. Walaupun diantara dua orang ini terdapat perselisihan paham, Ibnu Abbas menjawab, “Ia adalah seorang qari’ Kitab Allah dan pengikut sunnah Rasul-Nya, tekun beribadah kepada-Nya, serta puasa pada siang hari karena takut kepada-Nya. Ia adalah seorang putra pengikut Rasulullah saw, ibunya ialah Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, sedangkan bibinya ialah A’isyah istri Rasulullah saw. Tidak ada seorang pun yang tidak mengakui keutamaannya, kecuali orang yang dibutakan matanya oleh Allah.”

Soal kekuatan akhlak dan kekonsistenan sifat, Abdullah bin Az-Zubair menandingi kekokohan gunung. Ia merupakan pribadi yang terbuka, mulia, tangguh, dan selalu dalam kondisi siap mempertaruhkan nyawanya sebagai tebusan keterusterangan dan lurusnya jalan yang sedang ditempuhnya.

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ibnu Abu Mulaikah , “Ceritakanlah kepada kami kepribadian Abdullah bin Az-Zubair .” Ibnu Abu Mulaikah berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat jiwa yang menyatu dalam raga seperti jiwanya (Ibnu Zubair). Ia tekun melakukan shalat dan mengakhiri segala sesuatu dengannya. Ia selalu rukuk dan sujud yang lama hingga burung-burung pipit bertengger di atas bahu dan punggungnya, menyangkanya tembok atau kain yang tergantung. Sebuah peluru dengan pelontar manjaniq pernah lewat di antara janggut dan dadanya saat ia shalat. Tetapi, Demi Allah, ia tidak peduli dan tidak pula memutus bacaan atau mempercepat waktu rukuknya.”
Asma’ berkata kepada anaknya (Ibnu Zubair) : “Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu. Bila menurut keyakinanmu, engkau berada dijalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, bersabarlah dan bertawakal dalam melaksanakan tugas itu hingga engkau mati di jalan kebenaran itu. Tetapi, bila menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan dunia, engkau adalah seburuk-buruk hamba. Engkau akan mencelakakan dirimu sendiri dan orang-orang yang berperang bersamamu.”

Asma’ berkata lagi, “Aku memohon kepada Allah, semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku yang mendahuluimu. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, puasanya sepanjang siang, dan kebaktian kepada kedua orang tuanya Engkau terima dengan rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah, berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Az-Zubair ini, pahalanya orang-orang yang bersabar dan bersyukur.”

Ibrah Dari Kisah Ini :

Ibnu Zubair, pemilik kepribadian luhur, kokoh dalam pendirian, tidak mudah luntur lantaran berbagai bujuk rayu. Beliau mewanti-wanti kepada para pendukungnya, jangan sampai mencela dan meremehkan para sahabat Nabi Muhammad saw karena mereka itu adalah penegak kebenaran yang disaksikan oleh Rasulullah saw, selama hidup Beliau. Ibnu Zubair kemudian melantunkan syair:
Tidak ada kelembutan kepada selain kebenaran……
Kecuali bila geraham dapat mengunyah batu menjadi lembut……
Ibnu Zubair telah menyatukan dua kebutuhan, dunia dan akhirat.
Sosok figure teladan bagi para aktifis dan kader 1912.Semoga

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here