Ibrah Kehidupan #71 : Abdullah bin Amr, Rajin Beribadah, Taat kepada Rasul (-1).

0
232
Foto diambil dari FiqhIslam.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Setelah kita mencermati tiga sahabat Nabi yang sama-sama bernama Abdullah yakni Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Zubair. Maka berikut ini saya kutipkan salah satu sahabat Nabi yang lain yang juga bernama Abdullah, yakni Abdullah bin Amr bin Ash.

Nama lengkapnya : Abdullah bin Amr bin al-Ash. Lebih dikenal dengan sebutan “Abdullah bin Amr”, bahkan lebih popular dipanggil dengan singkat “Ibnu Amr” saja.
Bapaknya Ibnu Amr, (Amr bin al-Ash) adalah seorang shahabat senior dan ahli strategi perang dan seorang Negarawan yang ulung. Amr bin al-Ash pernah menjadi diplomat (juru runding) mewakili Mu’awiyah dalam perselisihan fitnah besar antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Mu’awiyah bin Abu Sufyan, di Daumatul Jandal, sebuah arbitrase untuk mengakhiri perang siffin.

Ibnu Amr (Abdullah bin Amr) lebih dulu masuk Islam ketimbang bapaknya, Amr bin Ash. Dan semenjak ia dibaiat dengan menaruh telapak tangan kanannya di telapak tangan kanan Rasulullah SAW, hatinya tak ubahnya seperti cahaya Subuh yang cemerlang diterangi nur Ilahi dan cahaya ketaatan.
Sejak awal masuknya Islam, Ibnu Amr, memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur’an. Setiap turun ayat al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, maka dihafalkan dan diusahakan untuk memahaminya, sehingga setelah semuanya selesai dan sempurna, ia pun telah hafal seluruhnya.

Ibnu Amr, telah ditakdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadah. Tak satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi terbentuknya bakat yang suci ini dan tertanamnya nur Ilahi yang telah ditakdirkan bagi dirinya.
Dalam usianya yang masih muda, aktivitas ibadahnya begitu tinggi, siang berpuasa, malam dihabiskan dengan tahajud dan membaca Al Qur’an sehingga ia mampu mengkhatamkannya dalam sehari. Ia begitu zuhud, bahkan tidak pernah ia membicarakan masalah duniawiyah sejak ia berba’iat kepada Nabi saw, padahal lingkungan keluarga termasuk kalangan bangsawan dan kaya-raya. Ketika ia dinikahkan, beberapa hari kemudian ayahnya datang mengunjungi dan bertemu istrinya. Amr bin Ash berkata, “Bagaimana keadaan kalian?” Istrinya berkata, “Sungguh aku tidak mencela akhlak dan kesalehannya, tetapi sepertinya ia tidak membutuhkan seorang wanita di sisinya!!”
Amr bin Ash kemudian menatap dalam kebingungan, tidak mengerti maksudnya, tetapi kemudian ia mendapat penjelasan, kalau Abdullah bin Amr sama sekali belum menyentuhnya dalam beberapa hari setelah menikah itu. Ia begitu intens beribadah seperti biasanya, sehingga tidak ada sedikitpun waktu untuk istrinya.

Hal itu memaksa Amr bin Ash melaporkannya kepada Rasululah SAW, sehinggabeliau campur tangan untuk ‘mengerem’ semangat ibadahnya. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr justru berkata, “Ya Rasulullah, ijinkanlah saya menggunakan sepenuh tenaga saya untuk beribadah kepada Allah?”
Nabi SAW bersabda, “Jika engkau melakukan semua itu, badanmu akan lemah, matamu akan sakit karena tidak tidur semalaman. Sesungguhnya badanmu punya hak, keluargamu juga punya hak, dan para tamupun punya hak atas dirimu…!” demikian kegigihan seorang Ibnu Amr.

Apabila tentara Islam maju ke medan laga untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan permusuhan, maka ia akan dijumpai berada di barisan terdepan. Ketika perang telah usai, ia akan ditemui di mana lagi, kalau tidak masjid atau mushola rumahnya. Ia berpuasa di waktu siang dan mendirikan shalat di waktu malam. Lidahnya tak kenal akan percapakan soal dunia, walaupun yang tidak terlarang. Sebaliknya, lidahnya tiada henti berdzikir kepada Allah, bertasbih dan memuji-Nya.

Ibrah dari Kisah ini :

Seorang Ibnu Amr, memang bukan kelas kita kebanyakan kaum muslimin. Dalam soal ibadah, umumnya kita mengharapkan atau memilih penawaran yang ringan (rukhsoh) atau yang mudah-mudah saja. Hal ini tidak berlaku pada diri Ibnu Amr. Sudah diingatkan oleh Rasulullah saw agar tidak terlalu larut dalam ibadah yang akan mengkhawatirkan kesehatan badannya, justru Ibnu Amr “menawar” yang lebih berat, akan mengerahkan seluruh kekuatan dirinya untuk tetap beribadah seperti yang selama ini dilakukannya.
Bagi kita “sebuah utopia” jika bisa mencontoh persis seperti Ibnu Amr. Tetapi setidak-tidaknya, kita mampu menangkap spiritnya, bahwa Ibnu Amr adalah contoh konkrit bagaimana seharusnya seorang hamba Allah benar-benar harus bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya.

*ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here