Ibrah Kehidupan #73: Ibnu Amr, Puasa Daud dan Selalu Taat kepada Orang Tua (-2)

0
237
Foto diambil dari FiqhIslam.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Suatu hari Rasulullah memanggil Ibnu Amr, dan menasihatinya agar tidak terlalu berlebihan dalam beribadah. Rasulullah SAW bertanya, “Kabarnya engkau selalu puasa di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat di malam hari tak pernah tidur? Cukuplah puasa tiga hari setiap bulan!”
Ibnu Amr menjawab, “Saya sanggup lebih banyak dari itu.”
Lalu Nabi bilang : “Kalau begitu, cukup dua hari dalam seminggu.” (maksudnya Senin Kamis).
Ibnu Amr pun menjawab : “Aku sanggup lebih banyak lagi.”
Kemudian Nabi saw menegaskan : “Jika demikian, baiklah kamu lakukan puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa sehari lalu berbuka sehari!”

Dan benarlah ketika Abdullah bin Amr dikarunia usia lanjut, tulang-belulangnya menjadi lemah. Ia selalu ingat nasihat Rasulullah dulu. “Wahai malang nasibku, kenapa dulu tidak melaksanakan keringanan dari Rasulullah saw.”
Pada saat terakhir, Rasulullah saw menasihatinya agar tidak berlebih-lebihan dalam beribadah sambil membatasi waktu-waktunya, Amr bin Ash, (bapaknya), kebetulan hadir. Rasulullah saw mengambil tangan Ibnu Amr dan meletakkannya di tangan bapaknya. “Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah bapakmu!” pesan Rasulullah SAW.
Dan sepanjang usianya, sesaat pun Ibnu Amr tidak lupa akan kalimat pendek itu, “Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah bapakmu!”

Ketika terjadi Perang Shiffin (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan), Amr bin Ash berpihak kepada Muawiyah. Dia pun mengajak anaknya, Ibnu Amr, untuk turut serta bersamanya membela Muawiyah.
Demikianlah, Ibnu Amr berangkat demi ketaatannya terhadap sang ayah. Namun ia berjanji takkan pernah memanggul senjata dan tidak akan berperang dengan seorang Muslim pun.
Husein bin Ali bin Abi Thalib pernah menanyakan kepada Ibnu Amr tentang sikapnya membela Mu’awiyah. Husein bertanya: “Apa yang membawamu hingga kau ikut berperang di pihak Muawiyah?” Ibnu Amr menjawab : begini wahai Husain, “Pada suatu hari, aku diadukan bapakku (Amr bin Ash) menghadap Rasulullah SAW. Kata bapakku, ‘Abdullah ini (Ibnu Amr) puasa setiap hari dan beribadah setiap malam.’ Rasulullah berpesan kepadaku, ‘Hai Abdullah (Ibnu Amr), shalat dan tidurlah, serta berpuasa dan berbukalah, dan taatilah bapakmu!’ Maka sewaktu Perang Shiffin itu, bapakku mendesakku dengan keras agar ikut bersamanya. Aku pun pergi, tetapi demi Allah aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah!”
Tatkala usianya mencapai 72 tahun, ia sedang berada di mushollaa-nya, beribadah dan bermunajat. Tiba-tiba ada suara memanggil untuk melakukan perjanalan jauh, yaitu perjalanan abadi yang takkan pernah kembali. Abdullah bin Amr (Ibnu Amr) wafat, menyusul mereka yang telah mendahuluinya menghadap Ilahi.

Ibrah dari Kisah ini :

Sekali lagi, Ibnu Amr, seorang figure ‘Abid Sejati, yakni seorang hamba Allah yang sebenar-benarnya. Ketaatannya kepada Allah swt dan Rasulnya saw telah benar-benar mengejawantah dalam seluruh perilaku kehidupannya.
Kesalehannya secara vertical telah dibuktikannya dengan kesalehannya secara horizontal. Hal ini bisa dilihat misalnya, dengan ketaatannya kepada Ortu-nya yang luar biasa. Tidak pernah membantah meskipun dalam suasana yang amat sulit. Bisa bersikap secara bijak meskipun berbeda pendapat. Dan inilah salah satu modal hidup bermasyarakat. Tidak semua orang bisa melakukan hal itu, dan Ibnu Amr telah melakukannya.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here