Ibrah Kehidupan #74: Ibnu Amr, Pencatat Hadits Profesional (-3) .

0
143
Foto diambil dari FiqhIslam.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ibnu Amr, adalah seorang dari “Abadilah” (para sahabat Nabi yang sama-sama bernama Abdillah/ Abdullah) yang faqih, ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya masuk islam, kemudian hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Ibnu Amr seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan shalat, sambil menekuni mencatat hadits Rasulullah Saw. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 700 hadits, Sesudah minta izin Nabi Saw untuk menulis, ia mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi. Mengenai hal ini Abu Hurairah berkata “Tak ada seorangpun yang lebih hafal dariku mengenai hadits Rasulullah saw, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash, Karena ia mencatat sedangkan aku mengandalkan hafalan”.

Ibnu Amr, meriwayatkan hadits dari Umar Ibnul Khattab, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin Auf, dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan darinya antara lain Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab, as-Sa’ib bin Yazid, Sa’ad bin Al-Musayyab, Thawus, dan Ikrimah.

Sanad paling shahih yang berpangkal Ibnu Amr ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya Abdullah.
Ibnu Amr, mempunyai kebiasaan mencatat apapun yang disabdakan Nabi saw, dalam sebuah catatan yang disebut Shadiqah, hal ini dimaksudkan agar ia mudah menghafalkannya. Rasulullah saw memang pernah melarang para sahabat untuk mencatat sabda-sabda beliau karena dikhawatirkan akan tumpang tindih dengan ayat-ayat Al Qur’an. Tetapi kemudian Nabi saw, secara khusus menugaskan beberapa orang sahabat untuk mencatat firman-firman Allah tersebut, dan Ibnu Amr bin Ash tidak termasuk yang dilarang itu. sehingga beliau membiarkannya mencatat semua sabda Nabi saw.

Beberapa sahabat pernah menasehati Ibnu Amr tentang kebiasaannya mencatat semua sabda Nabi, : “Rasulullah saw juga manusia biasa, terkadang beliau marah, dan dalam marahnya ini beliau mengatakan sesuatu. begitu juga terkadang beliau hanya bercanda dalam ucapannya itu. karena itu jangan engkau mencatat apapun yang beliau sabdakan”.
Karena nasehat mereka ini, Abdullah bin Amr sempat menghentikan kebiasaannya tersebut. Tetapi tampaknya ia merasa ‘gatal’ jika sesaat saja tidak ‘merekam’ apa yang dilakukan Rasulullah saw. Karena itu ia bertanya kepada Nabi saw tentang apa yang dilakukannya, termasuk nasehat beberapa orang sahabat, maka beliau bersabda, : “Teruskanlah menulis, demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, setiap perkataanku adalah kebenaran, walaupun aku dalam keadaan marah, ataupun senang.”

Ibrah dari Kisah ini

Umat Islam meyakini, bahwa hidup ini harus berbekal ilmu. Ingin sukses hidup di dunia harus dengan ilmu, dan ingin sukses di akherat juga harus dengan ilmu (demikian sabda Nabi saw). Salah satu media intelektualitas dalam kehidupan ini adalah “literasi”. Menulis dan membaca bukan hanya “jendela dunia” tetapi juga “jendela Jiwa”. Seorang muslim sejati yang banyak menulis dan membaca, akan mampu mensetabilkan syahwat keduniawian dan kekeringan jiwa.

Amazing, Ibnu Amr, adalah pencatat hadits yang professional. Ia merupakan contoh teladan yang baik, dia mampu mendaya gunakan kemampuan intelektualnya untuk dua kepentingan, fisik dan jiwanya, kecerdasan otak dan kelembutan hatinya, kebutuhan dunia dan akhiratnya.Soo, mari kader terbaik 1912, kita amati, tiru dan modifikasi beliau sesuai jaman now.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here