Ibrah Kehidupan #75 :Ibnu Amr, Rodliyatan Mardliyyah (-4 habis)

0
83
Foto diambil dari FiqhIslam.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada suatu hari, ketika Ibnu Amr sedang duduk-duduk dengan beberapa sahabatnya di Masjid Rasul (masjid Nabawi), lewatlah Husein bin Ali bin Abi Thalib. Mereka pun bertukar salam. Tatkala Husein berlalu, berkatalah Ibnu Amr kepada para sahabat di sekelilingnya, “Sukakah kalian aku tunjukkan penduduk bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit? Dialah yang baru saja lewat di hadapan kita tadi, Husein bin Ali. Semenjak Perang Shiffin, ia tak pernah berbicara denganku. Padahal sungguh ridhanya terhadap diriku, lebih kusukai dari barang berharga apa pun juga.”

Ibnu Amr, berunding dengan Abu Said Al-Khudri (sebagai fasilitatos) untuk berkunjung kepada Husein. Demikianlah, akhirnya kedua orang mulia itu bertemu di muka rumah Husein. Ibnu Amr terlebih dahulu membuka percakapan, hingga menjurus ke Perang Shiffin. Ibnu Amr pun menjelaskan bahwa kepergiannya ke medan perang semata-mata karena ketaatannya kepada Ayahnya, bukan karena membela Mu’awiyah bin Abu Sufyan, atau membenci Ali bin Abi Thalib. Mendengar penjelasan itu akhirnya keduanya damai saling meridloi, keduanya pun akhirnya menangis terharu.

Ibnu Amr, menghafal Al-Qur’an bukan sekedar mengingat hingga ingatannya seolah-olah menjadi museum bagi sebuah buku tebal, melainkan menghafal dengan tujuan memupuk jiwanya, dan agar ia menjadi hamba Allah swt yang taat, menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Allah swt dan mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah swt, dan memenuhi setiap seruan Allah swt. Kemudian, ia selalu membaca, melagukan, dan merenungkan isinya, menjelajahi taman-tamannya yang indah, berbahagia saat melewati ayat-ayat yang mulia itu menceritakan kesenangan, dan menangis bila ayat-ayat yang dibaca membangkitkan hal-hal yang menakutkan.

Ibnu Amr, telah ditakdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadah. Tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu mengalih dari takdirnya itu dan petunjuk yang dianugerahkan kepadanya. Apabila tentara Islam menuju ke medan perang untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan permusuhan, kita akan menjumpainya berada di barisan terdepan, merindukan kesyahidan dengan semangat cinta dan rintihan rindu. Jika peperangan telah usai, di mana kita akan menemuinya? Di mana lagi, kalau bukan di masjid besar atau di musolla rumahnya (demikian komentar para sahabat dekatnya).

Ketika usianya yang telah diberkahi itu telah mencapai 72 tahun, saat ia sedang berada di tempat shalatnya untuk mendekatkan diri dan bermunajat kepada Allah Sang pencipta alam semesta, bertasbih, dan bertahmid, tiba-tiba ia dipanggil untuk perjalanan abadi. Ia pun memenuhi panggilan itu karena sudah sangat merindukannya untuk bertemu dengan para sahabatnya yang telah mendahuluinya mendapatkan kebaikan. Rohnya terbang dan mencari tempat tinggalnya. Sementara itu, suara pemberi kabar gembira (Allahu Jallun Jalaalah) memanggil:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (Wahai jiwa yang tenang. QS:Al-Fajr , ayat: 27).
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. QS:Al-Fajr , ayat: 28).
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku, QS:Al-Fajr , ayat: 29).
وَادْخُلِي جَنَّتِي (Dan masuklah ke dalam surga-Ku. QS: al-Fajr, ayat 30).

Ibrah dari Kisah ini:

Tak mampu lagi mengungkapkan dengan kata-kata, keagungan Ibnu Amr. Sahabat Nabi saw yang demikian mulia di hadapan Allah swt dan di hadapan manusia.
Hasil didikan Nabi Muhammad saw, menjadikan Ibnu Amr ‘seorang ‘Abid sejati” ibnu Amr adalah manusia biasa sebagaimana para sahabat-sahabatnya yang lain. Tetapi karena telah mendapat sinar hidayah dan keutamaan dari Allah swt, lewat sentuhan “tangan dingin” didikan Rasulullah saw, telah menjadikan seorang yang gagah berani di medan perang, tetapi memiliki jiwa yang khusyu’ dan tawadlu’.

Sobat kader 1912 Beliau memiliki jiwa yang bersih dan besar, tidak menaruh dendam apapun terhadap sesama. Ibnu Amr telah menjadi : Roodliyatan Mardliyyah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here