Ibrah Kehidupan #76: Abbas bin Abdul Muthallib, Lebih Tua secara Biologis (-1)

0
910
Foto diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya adalah Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Beliau adalah seorang paman Nabi saw, dengan nama panggilan Abu Fadhel, ia termasuk pemuka Quraisy baik semasa jahililiyah maupun setelah Islam, ia memeluk Islam sebelum Hijrah secara diam diam dan tetap berdiam di Makkah guna dapat mengirimkan berita tentang kaum Musryikin kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.

Dalam sebuah riwayat pernah ditanyakan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, perihal siapa di antara keduanya yang lebih tua, apakah dia sendiri ataukah Rasulullah Muhammad saw ?
Maka jawabannya adalah : Abbas lebih tua secara biologis, dan Rasulullah saw lebih tua secara ideologis.

Penghormatan Abbas bin Abdul Muthallib terhadap keponakannya “Nabi Muhammad saw” sangatlah tinggi. Sebenarnya Abbas jauh lebih tua dari umur Rasulullah saw. Hanya saja, ia memberikan jawaban dengan sangat bijak dan santun. Abbas dengan sengaja telah menunjukkan kelebihan Nabi saw atas diri beliau sendiri. Jadi bila ada yang bertanya padanya, beliau menjawab dengan cerdas,“Rasulullah saw lebih tua dariku, tetapi aku lebih dahulu lahir darinya.” (Adzkiya ash-shahabah, 2005).

Rasa hormat Nabi Muhammad saw juga begitu tinggi terhadap Abbas. Ia adalah paman Rasulullah saw dan salah seorang yang paling akrab di hatinya dan yang paling dicintainya. Oleh sebab itu, beliau senantiasa berkata, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.”
Pada zaman Jahiliyah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pernah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam “Baiat Aqabah” menghadapi kaum Anshar dari Madinah.

Abbas adalah saudara bungsu ayah Nabi SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Makkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah.
Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pernah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau putranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama kemudian, Abbas ditemukan, maka ia pun menepati nazarnya itu.

Abbas kemudian menikah dengan Lubabah binti Harits, yang juga dikenal dengan sebutan Ummu Fadhl, yang dalam sejarah Islam menjadi wanita kedua yang masuk Islam. Lubabah masuk Islam pada hari yang sama dengan sahabatnya, Khadijah binti Khuwailid, yang tidak lain adalah istri Nabi Muhammad saw.  Abbas bin Abdul Mutthallib, dan Lubabah adalah orang tua dari Al-Fadhl, Abdullah, Ubaidillah dan Qasim bin Abbas.

Ibrah dari Kisah ini:

Abbas bin Abdul Muthallib, yang lebih popular dengan panggilan “Abbas”, atau juga dipanggil “Abu Fadl”. Dia adalah paman Rasulullah saw dan tokoh quraisy yang sangat disegani di Kawasan Makkah dan sekitarnya. Dia sangat sayang kepada keponakannya yakni Nabi Muhammad saw.

Begitu juga Nabi Muhammad saw sangat hormat kepada pamannya itu. Nabi Muhammad saw hormat kepada Pamannya sejak sebelum Islam maupun setelah Islam.
Pada tahun-tahun awal perjuangan Nabi saw menyampaikan dakwah Islam, Abbas selalu melindungi Rasulullah saw dari orang-orang Quraisy yang hendak mencelakakan beliau. walaupun pada saat itu, ia sendiri belum masuk Islam.

Kader 19122 mari kita ambil pelajaran, bahwa kebaikan dan penghargaan kita kepada orang yang lebih “tua” baik tua secara ideologis maupun tua secara biologis, dari sudut pandang “dakwah Islam” insyaallah akan berdampak positive.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here