Ibrah Kehidupan #83: Ibnu Mas’ud, Bernyali dan Tidak takut Miskin (-4 habis).

0
505
Foto diambil dari alwaliyah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada suatu hari para sahabat Rasulullah berkumpul di Makkah. Mereka berkata, “Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca di hadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira yang dapat membacakannya kepada mereka?”

“Aku sanggup membacakannya kepada mereka dengan suara keras,” kata Ibnu Mas’ud.
“Tidak, jangan kamu! Kami khawatir dengan keselamatanmu jika kamu yang membacakannya. Hendaknya seseorang yang punya keluarga yang dapat membela dan melindunginya dari penganiayaan kaum Quraisy,” jawab mereka. “Biarlah, aku saja. Allah pasti melindungiku,” kata Ibnu Mas’ud tak gentar.

Keesokan harinya, kira-kira waktu Dhuha, ketika kaum Quraisy sedang duduk-duduk di sekitar Ka’Baha Ad-Daulah. Ibnu Mas’ud berdiri di Maqam Ibrahim, lalu dengan suara lantang dan merdu dibacanya surah Ar-Rahman ayat 1- 4.

Kaum kuffar Quraisy di sekitar Ka’bah terkesima saat mendengar dan merenungkan ayat-ayat Allah yang dibaca Ibnu Mas’ud. “Sialan, dia membaca ayat-ayat yang dibawa Muhammad!” kata mereka begitu tersadar. Lalu mereka berdiri serentak dan memukuli Ibnu Mas’ud. Namun Ibnu Mas’ud meneruskan bacaannya hingga akhir surah. Ia lalu pulang menemui para sahabat dengan muka babak belur dan berdarah-darah.
“Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu,” kata mereka. “Demi Allah, kata Ibnu Mas’ud, “Bahkan sekarang musuh-musuh Allah itu semakin kecil di mataku. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan baca lagi di hadapan mereka.” Ibnu Mas’ud benar-benar ber-Nyali. Semakin disakiti semakin berani.

Ibnu Mas’ud hidup hingga masa Khalifah Utsman bin Affan memerintah. Ketika ia hampir meninggal dunia, Khalifah Utsman datang menjenguknya. “Sakit apakah yang kau rasakan, wahai Abdullah?” tanya khalifah. “Dosa-dosaku,” jawab Ibnu Mas’ud. “Apa yang kau inginkan?” tanya Khalifah Utsman. “Rahmat Tuhanku” Jawab Ibnu Mas’ud
“Tidakkah kau ingin supaya kusuruh orang membawa gaji-gajimu yang tidak pernah kau ambil selama beberapa tahun?” tanya Khalifah. “Aku tidak membutuhkannya,” kata Ibnu Mas’ud. “Bukankah kau mempunyai anak-anak yang harus hidup layak sepeninggalmu?” tanya Khalifah Utsman. “Aku tidak khawatir”, jawab Ibnu Mas’ud, “Aku menyuruh mereka membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam. Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya!”

Saking seringnya Ibnu Mas’ud bergaul dengan Nabi saw dalam kesehariannya maka tak heran jika kebiasaan Ibnu Mas’ud sangat dipengaruhi oleh sunah-sunah Nabi saw. Sampai-sampai seorang sahabat Hudzaifah mengatakan, “Saya tidak melihat seseorang yang gerak-gerik dan tingkah lakunya lebih mirip dengan Nabi saw daripada Ibnu Mas’ud.”

Di masa Khalifah Umar, beliau diutus ke Kufah untuk mengajari masyarakat tentang agama. Sementara Ammar bin Yasir ditunjuk sebagai gubernur di Kufah. Umar berpesan kepada masyarakat Kufah, “Sesungguhnya, dua orang ini adalah dua sahabat Nabi saw yang merupakan pilihan, maka teladanilah keduanya.” Kemudian, beliau ditarik lagi ke Madinah dan meninggal di Madinah tahun 32 H, pada usia tujuh puluhan tahun. Beliau dikuburkan di Pemakaman Baqi’ di Madinah.

Ibrah dari Kisah ini:

Ibnu Mas’ud, sahabat Nabi yang cukup fenomenal. Seorang penggembala domba, berpostur tubuh kecil kurus kulit hitam legam. Telah dipoles oleh integritasnya yang tinggi, kejujurannya yang mantap, ketaatannya menjalankan syari’at, bacaan al-Qur’annya yang sangat merdu dan memukau, kefaqihannya dalam urusan agama, kedalamannya dalam memahami kalamulloh, ketegasannya dalam bersikap, dan tentu memiliki Nyali menghadapi kuffar quraisy. Amazing. Soo Bagaimana dengan kita Kader 1912?.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here