Ibrah Kehidupan #84: Abu Darda’, Zahid Teladan Umat (-1)

0
292
Ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya adalah Abu Darda’ Uwaimir bin Amir bin Mâlik bin Zaid bin Qais bin Umayyah bin Amir bin Adi bin Ka`ab bin Khazraj bin al-Harits bin Khazraj. Panggilan populernya adalah Abu Darda’, atau Uwaimir.

Ada juga sebagian ahli sejarah yang berpendapat, namanya adalah Amir bin Mâlik, sedangkan Uwaimir adalah julukannya. Ibunya bernama Mahabbah binti Wâqid bin Amir bin Ithnâbah. Beliau termasuk Sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk Sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana. Nabi saw mengatakan, “Uwaimir adalah hakîmul ummah (seorang yang sangat bijaksana).” Beliau Radhiyallahu anhu mengikuti berbagai peperangan setelah perang Uhud.

Abu Juhaifah Wahb bin `Abdillâh Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi saw mempersaudarakan Salman al-Fârisi dan Abu Darda` Radhiyallahu anhuma.” Setelah itu Salmân Radhiyallahu anhu mengunjungi Abu Darda` Radhiyallahu anhu. Dia melihat Ummu Darda`Radhiyallahu anha memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. Salman Radhiyallahu anhu bertanya kepadanya, “Wahai Ummu Darda`, kenapa engkau berpakaian seperti itu?”

Ummu Darda` Radhiyallahu anha menjawab, “Saudaramu Abu Darda` Radhiyallahu anhu sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu shalat malam.”

Lantas datanglah Abu Darda` Radhiyallahu anhu dan menghidangkan makanan kepadanya seraya berkata, “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa”
Salman Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku tidak akan makan sehingga engkau juga makan.”

Lantas akhirnya Abu Darda` Radhiyallahu anhu pun ikut makan.
Tatkala malam telah tiba, Abu Darda` Radhiyallahu anhu pergi untuk mengerjakan shalat. Akan tetapi, Salman Radhiyallahu anhu menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah” dan dia pun tidur.

Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak shalat, dan Salman Radhiyallahu anhu berkata lagi kepadanya, “tidurlah.” Dan dia pun tidur lagi.
Ketika malam sudah lewat Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu , “Wahai Abu Darda`, sekarang bangunlah”. Maka keduanya pun mengerjakan shalat”.

Setelah selesai shalat, Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu, “Wahai Abu Darda` sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.”

Merasa banyak diceramahi oleh Salman, Abu Darda` Radhiyallahu anhu mendatangi Rasulullâh saw dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya.
Nabi Muhammad saw menjawab, “Salman benar” (HR. al-Bukhâri no. 1867., kitab Ash-Shahâbah hlm.462).

Ibrah dari Kisah ini:

Abu Darda’ salah satu sahabat Nabi Muhammad saw yang suci, memiliki semangat ibadah yang luar biasa, selalu mendambakan kebaikan. Sedemikian besar kezuhudannya dan kerasnya keinginan mendekatkan diri kepada Allah, sampai-sampai lupa memenuhi hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah maupun sebagai pemimpin rumah tangga.

Tetapi berkat kelembutan jiwanya, ketaatan menjalankan ajaran agama, sehingga ketika diingatkan oleh temannya tentang kebenaran serta hak dan kewajiban, beliau dengan lapang dada menerima taushiyah atau peringatan tersebut. Bagaimana menurut Kader 1912?

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here