Ibrah Kehidupan #86: Abu Darda’ , Anggap Enteng Urusan Dunia (-3)

0
237
Ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Pada saat balatentara Islam berperang, baik menang ataupun kalah di beberapa penjuru bumi, di kota Madinah berdiam seorang ahli hikmah dan filsuf yang mengagumkan. Dari dirinya memancar mutiara yang cemerlang dan bernilai. Dialah Abu Darda’.

Ia senantiasa mengucapkan kata-kata indah kepada masyarakat sekelilingnya, “Maukah kamu sekalian, aku kabarkan amalan-amalan yang terbaik. Amalan yang terbersih di sisi Allah dan paling meninggikan derajat kalian. Lebih baik dari memerangi musuh dengan menghantam batang leher mereka, dan malah lebih baik dari emas dan perak?”
Para pendengarnya menjulurkan kepala mereka ke depan karena ingin tahu, lalu bertanya, “Apakah itu wahai, Abu Darda‘?” Abu Darda’ menjawab: “Dzikrullah!”

Ahli hikmah yang mengagumkan ini bukannya menganjurkan orang menganut filsafat dan mengasingkan diri. Ia juga tidak bermaksud menyuruh orang meninggalkan dunia, dan tidak juga mengabaikan hasil agama ini yang telah dicapai dengan jihad fi sabilillah.
Abu Darda’ bukanlah tipe orang semacam itu, karena ia telah ikut berjihad mempertahankan agama Allah bersama Rasulullah SAW hingga datangnya pertolongan Allah dengan pembebasan dan kemenangan merebut kota Makkah.

Abu Darda’ adalah ahli hikmah yang besar di zamannya. Ia adalah sosok yang telah dikuasai oleh kerinduan yang amat besar untuk melihat hakikat dan menemukannya. Ia menyerahkan diri secara bulat kepada Allah, berada di jalan lurus hingga mencapai tingkat kebenaran yang teguh. Pernah ibunya ditanyai orang tentang amalan yang sangat disenangi Abu Darda’. Sang ibu menjawab, “Tafakur dan mengambil i’tibar (pelajaran).”

Pada saat memeluk Islam dan berbaiat pada Rasulullah saw, Abu Darda’ adalah seorang saudagar kaya yang berhasil di antara para saudagar kota Madinah. Dan sebelum memeluk Islam, ia telah menghabiskan sebagian besar umurnya dalam perniagaan, bahkan sampai Rasulullah dan kaum Muslimin lainnya hijrah ke Madinah. Tidak lama setelah memeluk Islam, kehidupannya berbalik arah.

Abu darda’ menjelaskan sikapnya : “Aku tidak mengharamkan jual-beli. Hanya saja, aku pribadi lebih menyukai diriku termasuk dalam golongan orang yang perniagaan dan jual-beli itu tidak melalaikannya dari dzikir kepada Allah,” ujarnya.

Abu Darda’ sangat terkesan hingga mengakar ke dasar jiwanya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi bantahan terhadap, “Orang yang mengumpul-ngumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.” (QS Al-Humazah: 2-3).
Ia juga sangat terkesan sabda Rasulullah SAW, “Yang sedikit mencukupi, lebih baik daripada yang banyak namun merugikan.”

Ibrah dari Kisah ini :

Seorang hamba Allah, jika qalbunya telah dipenuhi iman dan taqwa, otaknya dipenuhi Mahabbatullah serta “rindu dendam” hanya ingin selalu berada dalam pangkuan kasih sayang Allah, maka baginya “urusan dunia” harganya sangat murah dan kurang begitu berarti. Dunia sekedar tidak dilupakan. Tetapi urusan akherat harus menjadi focus sepanjang hayat.

Wahai kader 1912, sosok Abu darda’, adalah contoh inspiratif bagi para pejuang dan aktifis. Jangan silau terhadap kemewahan dunia sehingga melupakan Jihad di jalan Allah, dan melupakan Dzikrulloh (ingat kepada Allah).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here