Ibrah Kehidupan #87: Abu Darda’ , Cinta Kematian (-4 habis).

0
187
Ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Syumaith bin Ajlân rahimahullah berkata, “Tatkala Abu Darda` Radhiyallahu anhu hendak meninggal dunia, beliau merasa gelisah. Ummu darda` Radhiyallahu anha berkata kepadanya, (Wahai Abu Darda`), bukankah engkau pernah memberitahuku bahwa engkau mencintai kematian?

Abu Darda` Radhiyallahu anhu menjawab : ‘Demi Allah, benar’, akan tetapi tatkala aku yakin akan meninggal dunia, aku menjadi benci kepada kematian (benci dalam arti merasa belum cukup bekal amal), kemudian Abu Darda` Radhiyallahu anhu menangis dan mengatakan, ‘Sekarang adalah detik-detik akhir hidupku di dunia ini. Bimbinglah aku mengucapkan lâ ilâha illallâh.’

Akhirnya Abu Darda` Radhiyallahu anhu senantiasa mengucapkan kalimat itu hingga meninggal dunia.” Beliau wafat dua tahun sebelum pembunuhan Khalifah Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu. Ada yang mengatakan tahun 23 atau 24 H. Yang masyhur dari kebanyakan para ahli sejarah adalah beliau wafat pada masa kekhalifahan Utsmân Radhiyallahu anhu . (Usudul Ghâbah 4/18-19, no. 4136).

Di antara pesan-pesan Abu darda’ adalah : “Seandainya kalian mengetahui apa yang akan kalian lihat setelah kematian, pasti kalian tidak akan berselera untuk makan, minum, dan berteduh di dalam rumah. Kalian akan keluar menuju tempat-tempat yang tinggi dan memukul-mukul dada kalian serta menangisi diri-sendiri. Sungguh, aku lebih senang menjadi sebatang pohon yang dikunyah kemudian ditelan. (Az-Zuhd,Ash-Shahâbah hlm. 465).

Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan sedikit gembira dan jarang berbuat hasad”
Beliau berkata, “Ada 3 hal yang membuatku tertawa dan 3 hal yang membuatku menagis. 3 hal yang membuatku tertawa yaitu:

Pertama : Orang yang cita-citanya adalah duniawi, padahal kematian selalu mengintainya.
Kedua: Orang yang lalai dari kematian, padahal kematian tidak pernah lalai kepadanya, dan
Ketiga: Orang yang terlalu banyak tertawa, ia tidak tahu apakah Allah swt murka atau ridha kepadanya.

Adapun 3 hal yang membuatku menangis adalah,
Pertama : Dahsyatnya kiamat,
Kedua : Terputusnya amal, dan
Ketiga : Nasibku di hadapan Allah swt , apakah akan dimasukkan di surga atau neraka.
Beliau juga pernah berkata, “Wahai manusia, injakkan kakimu ke tanah. Sesungguhnya sebentar lagi ia akan menjadi kuburmu. Wahai manusia, sesungguhnya hidupmu hanya beberapa hari, tiap kali waktu berlalu, berarti sebagian hidupmu telah pergi. Wahai manusia, engkau sekarang ini sejatinya sedang menghabiskan umurmu sejak lahir dari rahim ibumu.

Ibrah dari Kisah ini:

Abu Darda’ , sosok sahabat Nabi Muhammad saw yang memiliki keagungan jiwa, kecerdasan berfikir, dan keanggunan dalam perilaku. Dia sadar bahwa kehidupan dunia memang perlu tetapi sekadar agar bisa hidup. Tetapi makan supaya hidup saja tidaklah cukup. Baginya hidup untuk mengabdi dan berbakti kepada Allah swt pencipta kehidupan. Itu yang lebih penting.

Wahai Kader 1912, sosok Abu darda’ sejatinya pencinta kematian, tetapi mendadak membencinya. Mengapa? Karena adanya perasaan belum cukup bekal amal, dan juga ketakutan apakah bisa mengakhiri hidup ini dengan Husnul khotimah? Ataukah malah sebaliknya akan mengakhirinya dengan Su’ul khotimah? Inilah makna yang dalam sebuah Muhasabah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here