Ibrah Kehidupan #88: Abu Dzar Al-Ghifari, Keluar dari Sarang Perampok (-1)

0
252
Foto diambil dari Republika.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Nama lengkapnya adalah Jundab bin Junadah bin Sakan al-Ghiffari. Setelah masuk Islam menggunakan nama Abu Dzar al-Ghiffari. Al-Ghiffari menunjuk pada nama suku Ghiffar. Suku ghiffar dikenal sebagai kampung perampok, sarang penyamun, dan basis para begal, sebelum datangnya Islam, yang amat ditakuti oleh masyarakat sekitar. Nama panggilan yang dikenal adalah “Abu Dzar al-Ghiffari”, tetapi juga dikenal dengan panggilan singkat “Abu Dzar” , dan juga dia sering dipanggil dengan “Abi Dzar”.

Abu Dzar al-Ghiffari memeluk Islam dengan sukarela. Ia salah seorang sahabat yang terdahulu dalam memeluk Islam (assabiquunal awwaluun). Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekah untuk menyatakan keislamannya. Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk mengabarkan bahwa ia kini adalah seorang Muslim, hingga memicu kekhawatiran serta kemarahan kaum kafir Quraisy dan membuatnya menjadi bulan-bulanan kaum Quraisy. Berkat pertolongan Abbas bin Abdul Muthalib, ia selamat dan suku Quraisy membebaskannya setelah mereka mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghiffar.

Tidak diketahui pasti kapan Abu Dzar lahir. Sejarah hanya mencatat, ia lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Mekkah, Syria. Riwayat kelam masa lalu Abizar tak lepas dari keberadaan keluarganya. Abu Dzar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga perampok besar Al Ghiffar saat itu, menjadikan aksi kekerasan dan teror untuk mencapai tujuan sebagai profesi keseharian. Itu sebabnya, Abu Dzar yang semula bernama Jundab, juga dikenal sebagai perampok besar yang sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di sekitarnya.

Kendati demikian, Jundab pada dasarnya berhati baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh aksinya kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya: Insyaf dan berhenti dari aksi jahatnya tersebut. Bahkan tidak saja ia menyesali segala perbuatan jahatnya itu, tetapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya memeluk islam. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kelahirannya.

Abu Dzar al-Ghiffari selalu mengikuti hampir seluruh pertempuran-pertempuran atau peperangan selama Nabi Muhammad saw hidup. Orang-orang yang masuk Islam melalui dia, adalah : Ali-al-Ghiffari, Anis al-Ghiffari, Ramlah al-Ghiffariyah. Dia dikenal sangat setia kepada Rasulullah. Kesetiaan itu misalnya dibuktikan sosok sederhana ini dalam satu perjalanan pasukan Muslim menuju medan Perang Tabuk melawan kekaisaran Bizantium. Karena keledainya lemah, ia rela berjalan kaki seraya memikul bawaannya. Saat itu sedang terjadi puncak musim panas yang sangat menyengat.

Dia keletihan dan roboh di hadapan Nabi saw. Namun Rasulullah heran kantong airnya masih penuh. Setelah ditanya mengapa dia tidak minum airnya, tokoh yang juga kerap mengkritik penguasa semena-mena ini mengatakan, “Di perjalanan saya temukan mata air. Saya minum air itu sedikit dan saya merasakan nikmat. Setelah itu, saya bersumpah tak akan minum air di kantung ini sebelum Nabi SAW meminumnya.” Dengan rasa haru, Rasulullah berujar, “Engkau datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal dalam kesendirian. Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak akan mengurus pemakamanmu.” Abu Dzar Al Ghiffari, sahabat setia Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.

Ibrah dari Kisah ini:

Jundab bin Junadah bin Sakan al-Ghiffari. Setelah masuk Islam bernama Abu Dzar al-Ghiffari, atau cukup dipanggil Abu Dzar, atau Abi Dzar. Seorang yang berasal dari suku Ghiffar yaitu suku Komplek perampok, penyamun, dan basis para begal yang terkenal. Dia berhasil keluar dari sarang perampok dan begal. Menemui Rasulullah, menyatakan masuk Islam. dan kemudian menjadi pengabdi dakwah sepanjang hidupnya.

Masa lalu Abu Dzar yang kelam, telah berubah laksana matahari di waktu fajar. Dia menjadi seorang muslim sejati, yang sangat taat kepada Rasulullah saw, dan telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Islam.
Sungguh teladan yang baik bagi aktifis 1912 dalam berdakwah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here