Ibrah Kehidupan #89: Abu Dzar al-Ghiffari, Pelopor Egalitarianisme dan Pengkritik Penguasa (-2)

0
233
Foto diambil dari Republika.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Semasa hidupnya, Abu Dzar al-Ghiffari sangat dikenal sebagai penyayang kaum dhu’afa. Kepedulian terhadap golongan fakir miskin ini bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abi Dzar. Sudah menjadi kebiasaan penduduk Giffar pada masa jahiliah merampok kafilah yang lewat. Abi Dzar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok orang-rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum duafa. Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama damai yakni Islam ini.

Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum miskin itu tetap ia pegang di tempat barunya, di Syria. Namun di tempat baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia (Mu’awiyah) malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas elit borjuis yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara besar-besaran. Ajaran egalitarianism dan filantropisme Abi Dzar membangkitkan massa melawan penguasa dan kaum borjuis itu. Keteguhan prinsipnya itu membuat Abi Dzar sebagai ‘duri dalam daging’ bagi penguasa setempat.

Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi saw yang tinggal di serambi Masjid Nabawi, Abi Dzar) ini mengkritik khalifah : “Kalau Anda membangun istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan ‘israf’ (pemborosan).” Muawiyah hanya terpesona dan tidak menjawab kritikan itu.
Muawiyah berusaha keras agar Abi Dzar tidak meneruskan kritikannya. Tapi penganjur egalitarianisme itu tetap pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abi Dzar dan ahli-ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak memengaruhinya.

Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati demikian, rakyat tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Utsman. Ia mengatakan bahwa Abi Dzar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.

Keberanian dan ketegasan sikap Abi Dzar ini mengilhami tokoh-tokoh besar selanjutnya, seperti Hasan Basri, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Karena itulah, tak berlebihan jika sahabat Ali Ra, pernah berkata: “Saat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abu Dzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali.”

Ibrah dari Kisah ini:

Seorang yang berakhlaq mulia, jujur, amanah, pemaaf, cerdas. Tidak berarti “abu-abu” dalam bersikap. Abu Dzar al-Ghiffari adalah contoh konkrit dalam hal ini.

Abu Dzar al-Ghiffari selalu tegas dalam bersikap. Bahkan tidak segan-segan mengkritik penguasa jika menurutnya penguasa itu telah menyimpang dari nilai-nilai kebenaran. Sikap tegas bukan berarti “keras”, tetapi teguh memegangi kebenaran di manapun berada. Sikap ini beliau bawa sampai akhir hayatnya. Mu’awiyah seorang khalifah Bani Umayah-pun dipanggil untuk dinasehati tentang kebenaran.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here