Ibrah Kehidupan #90: Abu Dzar al-Ghiffari, Menolak Kapitalisme (-3).

0
189
Foto diambil dari Republika.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Saat Rasul saw itu akan meninggal dunia, beliau memanggil Abi Dzar. Sambil memeluknya, Rasulullah berkata: “Abi Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya.” Ucapan Nabi ternyata benar, Abi Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.

Bagi Abi Dzar, masalah prinsip adalah masalah yang tak bisa ditawar-tawar. Itu sebabnya, hartawan yang dermawan ini gigih mempertahankan prinsip egaliter Islam. Penafsirannya mengenai “Ayat Kanz” (Hadza maa Kanaztum li anfusikum: tentang pemusatan kekayaan), dalam surah Attaubah ayat 35, menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Utsman, khalifah ketiga.

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ
“Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun.”

Atas dasar pemahamannya inilah, Abizar menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun Abi Dzar tak mau kompromi dengan kapitalisme di kalangan kaum muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah, saat itu.

Atas dasar sikapnya yang super idealis itu dia ingin berbuat sesuatu untuk menentang sikap hidup kapitalis, dia sampai-sampai pernah menawarkan diri kepada Nabi untuk suatu jabatan. Sebagai tanggapan, Rasulullah saw memberinya gambaran apa itu jabatan. “Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu amanah. Sesungguhnya jabatan akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerimanya, kecuali ia mengambilnya dengan cara yang benar dan menunaikan amanah jabatan tersebut juga dengan benar.”

Setelah Rasulullah saw wafat, Abu Dzar menjadi penyendiri. Ekspresi kesedihan dan rasa kehilangan Rasul yang dicintainya sangat tampak pada wajahnya. Wataknya yang begitu keras membuatnya demikian memegang teguh wasiat Rasulullah saw.
Di kalangan shahabat, Abu Dzar merupakan seorang yang memiliki pendapat nyeleneh dan begitu kuat pendiriannya. Baginya, menyimpan harta yang lebih dari keperluan adalah haram. Sementara mayoritas shahabat berpendapat boleh menyimpan harta dengan syarat sudah ditunaikan zakatnya.

Ibrah dari Kisah ini:

Abu Dzar al-Ghiffari, mantan perampok, berubah total menjadi muslim sejati, sahabat setia Rasulullah saw, kekayaannya dihabiskan untuk membantu sesame di jalan Allah.
Dia mengkritik habis-habisan orang-orang yang hanya menumpuk harta benda dan hidup mewah tetapi lupa membelanjakan hartanya untuk akherat.

Dia benar-benar berhadapan dengan kelompok kapitalis yang menurutnya bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Seperti yang pernah diucapkan Nabi Muhammad saw, bahwa Abu Dzar akan tetap sebagai manusia yang hidup sederhana sepanjang masa bahkan sampai akhir hayatnya. Begitulah hakekat sebagai manusia pejuang, dan sebagai aktifis petarung, tidak mudah menyerah pada keadaan di manapun berada dan dalam suasana apapun. Subhanalloh.

*ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here