Ibrah Kehidupan #91: Abu Dzar al-Ghiffari, Menerima 7 nasihat dari Nabi (-4 habis).

0
185
Foto diambil dari Republika.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Jundub bin Junadah bin Sakan atau lebih dikenal dengan nama Abu Dzar al-Ghiffari atau Abi Dzar al-Ghiffari adalah sahabat Nabi Muhammad saw yang sangat setia. julukan Al-Ghiffari disematkan pada Namanya, berasal dari suku asal beliau yang dikenal sebagai salah satu suku arab yang terkenal senang bepergian menempuh perjalanan jarak jauh tiada tara. Suku Ghiffar, adalah nisbah dari seorang tokoh perampok dan pembegal terkenal “Ghiffar”.

Abu Dzar terkenal dengan wataknya yang menentang kebatilan, karena itu ketika ia mendengar tentang agama baru yang dibawa Rasulullah saw, Abu Dzar langsung bergegas menempuh jarak ribuan kilo dan akhirnya mengucapkan kalimat syahadat di hadapan beliau. Menjadi seorang muslim yang taat.

Mendapat kepercayaan Nabi saw., Abi Dzar ditugaskan mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Meskipun tak sedikit rintangan yang dihadapinya, misi Abi Dzar tergolong sukses. Bukan hanya ibu dan saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diislamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang penyiar Islam fase pertama dan terkemuka yang sukses. Rasulullah saw sendiri sangat menghargainya.

Dari periwayat Imran bin Muslim berkata, sesungguhnya Abu Dzar berkata, “Telah memberikan wasiat kepadaku kekasihku Muhammad Saw yang tidak akan aku meninggalkannya; pertama, Beliau bewasiat untuk mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, kedua, Agar aku melihat kepada orang-orang yang lebih bawah dariku dan tidak memandang orang-orang yang berada di atasku, Ketiga, Agar aku menyambung tali silaturahim meski ia menolak dan memutus silaturahim, Keempat, Agar aku memperbanyak zikir laa haula wa laa quwwata illa billah karena itu adalah harta karun surga, Kelima, Agar tidak meminta-minta kepada manusia, Keenam, Agar aku tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela karena Allah, dan Ketujuh, Agar aku mengatakan yang benar walaupun itu pahit. (HR. Ahmad & Tirmizi).

Abu Dzar, tetaplah Abu Dzar dengan kehidupannya yang sederhana. Harta kekayaannya telah dihabiskannya untuk kepentingan agama. Dia sendiri akhirnya tinggal di luar kota Madinah, di sebuah desa terpencil ditemani putri dan budaknya. Budak perempuan itupun dimerdekakannya dan kemudian dinikahinya.

Ketika Abu Dzar sakit menjelang ajal, sang isteri menangis memikirkan suaminya karena seandainya suaminya meninggal dia tidak punya persediaan kain kafan untuk membungkus janazahnya. Ketika hal itu dikemukakan kepada beliau. Maka sang suami menjawab : wahai isteriku, jangan khawatir dan jangan menangis. Nabi saw, yang aku cintai pernah membisikkan sesuatu kepadaku : bahwa pasca kematianku nanti akan diurus oleh serombongan orang yang datang dari tempat yang jauh.

Benar adanya, ketika beliau sakarotul maut, tiba-tiba datanglah serombongan kafilah dan berhenti di gubuk Abu Dzar. Setelah berdialog sebentar maka Abu Dzar menemui ajalnya, dan orang-orang itupun mengurus janazahnya, kemudian dibawa ke pekuburan Baqi’ untuk dimakamkan. Putri beliau yang setia mendampingi bersama isteri almarhum diboyong ke istana di Madinah untuk hidup bersama keluarga Khalifah Utsman bin Affan.

Ibrah dari Kisah ini:

Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Nabi yang termasuk fenomenal. Keluar dari sarang perampok, menjadi seorang muslim yang taat dan amat setia berdakwah demi terwujudnya “Izzul Islam wal Muslimin” Bersama Rasulullah saw. Sahabat Nabi yang anti kapitalis ini, selalu menyerukan kepada umat Islam agar tidak main-main dengan harta benda yang dimilikinya.

Semuanya akan dimintai pertanggung jawaban di akherat kelak.
Abu Dzar, dikenal sebagai tokoh filantropisme, pelopor egalitarianism, dan penentang faham kapitalisme. Mengakhiri hidupnya dalam suasana kesederhanaan dan kesendirian.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here