Ibrah Kehidupan #95: Abu Ubaidah bin Jarrah, Kepercayaan umat (-1)

0
250
Foto diambil dari Hasmi.org

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya, Abu Ubaidah Amir bin Abdillah bin al-Jarrah bin Hilal bin Ahib bin Dhobbah bin Harits bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah al-Qurasyi al-Fihri. Lebih dikenal dengan panggilan “Abu Ubaidah bin Jarrah”, atau bahkan hanya dipanggil “Abu Ubaidah” saja.

Abu Ubaidah, lahir sekitar tahun 38 sebelum hijrah. Ayahnya, Abdullah dalam perang Fujar merupakan salah satu panglima Quraisy, dan dia wafat sebelum tahun bi’tsah. Ibu Abu Ubaidah Juga seorang Quraisy dimana akhirnya menjadi muslimah.
Diriwayatkan bahwasanya Abu Ubaidah bersama Arqam bin Abil Arqam dan Usman bin Mazh’un, menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah saw, namun pendapat lain mengatakan bahwa pada masa permulaan Islam dia menjadi muslim di tangan Abu Bakar. Dia termasuk orang-orang yang ikut hijrah ke Habasyah. (Ibnu Ishaq, as-Siyar wal Maghazi, hlm. 177).

Wajahnya selalu berseri, matanya bersinar, ramah kepada semua orang, sehingga mereka simpati kepadanya. Di samping sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu dan pemalu. Tapi bila menghadapi suatu urusan penting, ia sangat cekatan bagai singa jantan.
Abdullah bin Umar pernah berkomentar di akun-nya (belum ada Instagram) tentang orang-orang yang mulia ini.

Ada tiga orang Quraiys yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Dalam kehidupannya sebagai Muslim, Abu Ubaidah mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum Quraiys di Makkah sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama kaum Muslimin lainnya. Walau demikian, ia tetap teguh menerima segala macam cobaan, tetap setia membela Rasulullah SAW dalam tiap situasi dan kondisi apa pun.
Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama (Al-Yaum Ats-Tsaqifah) pasca wafatnya Rasulullah, Umar bin Al-Khathab mengulurkan tangannya kepada Abu Ubaidah seraya berkata, “Aku memilihmu dan bersumpah setia, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang paling dipercaya dari umat ini adalah engkau.”

Abu Ubaidah menjawab, “Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama khalifah.

Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah pindah ke tangan Umar ibnul Khathab. Abu Ubaidah selalu dekat dengan Umar dan tidak pernah menolak perintahnya. Pada masa pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukkan wilayah Syam (Suriah). Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk di bawah kekuasaan Islam, dari tepi sungai Furat di sebelah timur hingga Asia kecil di sebelah utara.

Ibrah dari Kisah ini:

Abu Ubaidah, sosok pribadi yang mantap baik iman maupun kecakapannya berinteraksi dengan umat. Dia begitu halus budi pekertinya, tetapi sangat garang ketika menghadapi kaum kuffar quraisy.

Wahai Kader 1912, kesetiaannya kepada Rasulullah saw tidak perlu diragukan, sehingga Rasulullah sendiri pernah memberi julukan kepadanya : orang kuat kepercayaan umat.
Sosok pribadi yang santun ini tidak gila jabatan, tetapi ketika mendapat tugas atau jabatan tertentu dia akan melaksanakannya sebagai amanah. Sungguh dia merupakan teladan bagi para pejuang.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here