Ibrah Kehidupan #96: Abu Ubaidah, Petarung yang juga arsitek (-2).

0
340
Foto diambil dari Hasmi.org

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Abu Ubaidah masuk Islam lewat perantaraan Abu Bakar Ash-Shiddiq di masa-masa awal Islam sebelum Rasulullah saw masuk Darul Arqam. Ia berhijrah ke Habasyah yang kedua. Kemudian kembali untuk berdiri di samping Rasulullah saw dalam Perang Badar. Ia mengikuti peperangan seluruhnya, kemudian melanjutkan berbagai peperangan bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar ibnul Khattab.

Dalam Perang Badar, Abu Ubaidah berhasil menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati. Namun tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya. Kemana pun ia lari, tentara itu terus mengejarnya dengan beringas. Abu Ubaidah menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan pengejarnya. Ketika si pengejar bertambah dekat, dan merasa posisinya strategis, Abu Ubaidah mengayunkan pedang ke arah kepala lawan. Sang lawan tewas seketika dengan kepala terbelah.

Ternyata, Abu Ubaidah memiliki darah seni yang bagus. Beliau arsitek terkenal. bahwa yang membangun masjid di Damaskus tersebut adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Ia adalah sahabat Rasulullah saw dari kaum Muhajirin dan tercatat sejarah sebagai salah satu manusia yang paling awal mengakui keislamannya (Assabiquunal Awwaluun).
Masjid Damaskus tersebut dikenal juga dengan nama Masjid Umayyah atau Masjid Umawi. Masjid ini disebutkan sebagai salah satu bangunan paling mengangumkan yang diwariskan oleh peradaban islam. Sampai saat ini, masjid tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu situs sejarah yang penting tak hanya bagi umat muslim tetapi juga bagi masyarakat dunia.

Masjid Agung Damaskus ini sendiri dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (disebut juga Al-Walid I). Sebenarnya, Masjid agung Damaskus tersebut adalah bangunan Basilika Kristen St. Yohanes Pembaptis, kemudian diubah menjadi masjid oleh Abu Ubaidah bin Jarrah yang berperan sebagai arsiteknya.

Orang yang mendapatkan gelar “kepercayaan umat Muhammad” ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar, bagaikan magnet yang menarik logam di sekitarnya.
Pada suatu ketika, utusan kaum Nasrani datang menghadap Rasulullah seraya berkata, “Wahai Abul Qasim (Nabi Muhammad saw), kirimlah kepada kami seorang sahabat anda yang pintar menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum Muslimin.”

Datanglah sore nanti, saya akan mengirimkan kepada kalian ‘orang kuat yang terpercaya‘,” kata Nabi Muhammad. Umar bin Al-Khathab yang waktu itu ada di situ berujar, “Aku ingin tugas itu tidak diserahkan kepada orang lain, karena aku ingin mendapatkan gelar ‘orang kuat yang terpercaya‘.”

Selesai shalat, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Umar sengaja menonjolkan diri agar dilihat Rasulullah. Namun beliau tidak menunjuknya. Ketika melihat Abu Ubaidah, beliau memanggilnya dan berkata, “Pergilah kau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan!” . Abu Ubaidah menjawab “SIAP LAKSANAKAN” dan berangkat bersama para utusan tersebut dengan menyandang gelar “orang kuat yang terpercaya“.

Ibrah dari Kisah ini:

Sungguh semuanya ini atas kehendak Allah. Abu Ubaidah telah dikaruniai oleh Allah beberapa kelebihan, dan karunia itu telah dimanfaatkan oleh Abu Ubaidah secara maksimal untuk kejayaan Islam dan umat Islam secara keseluruhan.
Sebagai orang kuat yang dipercaya Rasul, merupakan sosok petarung yang tidak kenal takut menghadapi musuh Islam. meskipun begitu tetaplah dia dikenal selalu berpenampilan necis, lembut, peramah, bahkan pemaaf.

Wahai Kader 1912, satu hal lagi, ternyata, di samping pernah menyandang panglima perang, Dia juga seorang arsitek yang mengagumkan. Sungguh dia telah memiliki dua sifat “Asyiddaa’u alal kuffari Ruhamaa’u bainahum” tegas menghadapi orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama saudara seiman.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here