Ibrah Kehidupan #97: Abu Ubaidah, dijamin Nabi masuk Syurga (-3 habis).

0
302
Foto diambil dari Hasmi.org

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menerangkan kepada kita tentang fenomena Abu Ubaidah. “Pada saat perang Uhud, ketika Rasulullah saw terkena lemparan sehingga dua bulatan besi menancap di dahinya, aku cepat-cepat menuju Rasulullah saw. Sementara ada seseorang yang datang dari arah timur berlari kencang seperti terbang, maka aku katakan, ‘Ya Allah, jadikanlah itu sebagai ketaatan.’ Ketika kami sampai pada Rasulullah saw, ternyata ia adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah datang lebih dulu daripadaku.

Abu Ubaidah berkata, ‘Aku meminta izin kepadamu, dengan nama Allah, wahai Abu Bakar, biarkan aku mencabutnya dari wajah Rasulullah saw.’ Aku pun membiarkannya. Abu Ubaidah mengambil dengan gigi serinya salah satu bulatan besi itu, lalu mencabutnya dan jatuh ke tanah, gigi serinya pun rontok bersamanya. Kemudian ia mengambil bulatan besi lainnya yang menancap di dahi Nabi Muhammad saw, dengan gigi serinya yang lain sampai rontok pula giginya”.

Karir Abu Ubaidah sungguh cemerlang, sehingga para ahli sejarah mengukir prestasi emasnya sebagai berikut:

Pertama, Abu Ubaidah meraih kemuliaan islam melalui usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu .

Kedua, Keislimannya berbarengan dengan keislaman Utsman bin Mazh’un, Ubaidah bin Harits bin Mutthalib, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu Salamah bin Abul Asad. Radhiallahu ‘anhum.

Ketiga, Abu Ubaidah kokoh dalam keislamannya walaupun diboikot oleh kaumnya.

Keempat, Abu Ubaidah meraih kemuliaan jihad fii sabilillah bersama Rasul disemua pertempuran

. Kelima, Abu Ubaidah meraih kemuliaan sanjungan dari Rasul dalam sabdanya, “Setiap umat memiliki seorang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah”.

Keenam, Abu Ubaidah meraih kemuliaan menjadi duta Rasul untuk negeri Yaman dan Najran dalam rangka mengajarkan syariat islam.

Ketujuh, Abu Ubaidah memimpin pasukan Syam untuk memerangi Yarmuk, membuka kota Damaskus, Ladziqiyah dan daerah-daerah di negeri Syam.

Pantaslah Nabi Muhammad saw memasukkan Abu Ubaidah sebagai “Asyarah al-Mubasyarah” yakni salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga.

Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya:

“Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.

Ibrah dari Kisah ini:

Para ahli sejarah, setelah membaca dan mencermati peri kehidupan Abu Ubaidah, seorang sahabat setia Rasulullah saw, dan selalu Bersama Rasulullah baik dalam suka maupun duka. Pernah menjadi bemper Rasul saat perang uhud, yakni mencabut bulatan besi yang menancap di dahi beliau, sampai kedua giginya rontok.

Wahai kader 1912, beliau adalah sosok pemberani dan berakhlaq mulia. Memiliki berbagai keistimewaan. Berwibawa di hadapan prajuritnya. Dan yang tak kalah pentingnya, selalu menasihati tentang ketaatan melaksanakan rukun Islam.
Pantas dia termasuk “Asyarah al-Mubasyarah” , yakni sepuluh orang jaminan syurga.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here