Ibrah Kehidupan #150 : Abdullah bin Rawahah, Kesengsem Seorang Budak dan Mnikahinya (-2)

0
200
Foto diambil dari Gontornews

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Ibnu Rawahah memiliki seorang budak perempuan hitam. Suatu hari ia memarahinya. Karena cemas, ia melaporkan kepada Nabi Muhammad saw tentang budak yang dimilikinya. Nabi Muhammad saw kemudian menanyakan tentang budak tersebut. Ibnu Rawahah menjawab, “Budak itu suka berpuasa, shalat, dan berwudhu’ dengan baik dia juga bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Anda adalah utusan-Nya.”
“Kalau begitu dia adalah seorang mukminah dong” demikian kata Nabi.

Di luar dugaan, Ibnu Rawahah bersumpah “Demi dzat yang mengutusmu menjadi Nabi, aku akan memerdekakan dan menikahi dia.” Ibnu Rawahah pun akhirnya menepati sumpahnya dan menikahi budak tersebut setelah memerdekakannya.
Setelah itu, orang-orang musyrik mengejeknya sambil berkata, “Ibnu Rawahah menikahi seorang budak, padahal mereka (para budak) mau dinikahi hanya karena mereka ingin memperoleh keturunan yang baik.” Lalu turunlah firman Allah, “Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (Al-Baqarah: 221)

Nabi Muhammad saw pernah menugasi Abdullah bin Rawahah sebagai salah satu komandan/ panglima perang dalam perang Mu’tah. Nabi Muhammad saw mendokan agar mereka pulang dari medan tempur dengan selamat.

Ibnu Rawahah pamit kepada Nabi saw sambil berkata, “Wahai Rasulullah, suruhlah aku dengan sesuatu yang dapat aku hafalkan!” Beliau mengatakan, “Besok, kamu akan mendatangi wilayah yang penduduknya sedikit yang bersujud. Setelak kamu datang, mayoritas penduduknya akan bersujud.” Beliau juga berpesan “Berdzikirlah kamu mengingat Allah karena dzikir akan menjadi penolong atas apa yang kamu mohon.”
Tatkala pasukan kaum muslimin berhadapan dengan pasukarn Romawi, ia berdiri di hadapan para pasukan dan berkata, “Wahai pasukan kaum muslimin, demi Allah, kita berperang melawan mereka dengan jumlah dan persenjataan yang sangat minim;
Lebih lanjut Abdullah bin Rawahah menegaskan, Kita tidak berperang kecuali untuk menegakkan agama Allah. Allah swt telah memuliakan kita dengannya. Berangkatlah kalian! Sebab hal itu termasuk salah satu di antara dua kebaikan, perang melawan mereka atau gugur sebagai pahlawan syahid.”

Setelah dua panglima perang sebelumnya gugur di medan perang, Zaid dan Ja’far, ia menerima panji-setelah sebelumya sempat ragu.

Untuk memupuk dan mengukuhkan kepercayaan dirinya, kemudian Abdullah bin Rawahah melantunkan sya’ir:

Aku telah bersumpah,
wahai jiwaku, kamu maju ke medan tempur atau kamu tidak menyukainya,
Jika kuhimpun semua prajurit dan mereka semua lari dari medan tempur,
Maka aku tak kan melihatmu tidak menginginkan surga.
Sudah lama kamu tidak tenteram dan kamu bukan apa-apa melainkan,
berasal dari setetes air mani yang hina.
Ibnu Rawahah akhirnya tampil sebagai panglima perang dan menyerang pasukan Romawi.
Pada akhirnya ia pun gugur di medan perang sebagai pahlawan syahid.

IBRAH DARI KISAH INI:

Abdullah bin Rawahah, salah satu sahabat Rasulullah saw yang memiliki kepribadian yang agung. Kelembutan jiwa, berakhlaq mulia, penyayang, adalah bagian dari perisai dirinya.
Di balik itu Abdullah bin Rawahah, adalah seorang prajurit pemberani, tangkas, dan hilang syaraf “takut”-nya menghadapi musuh-musuh Allah. Dia pernah menjadi panglima perang atas perintah Rasulullah saw dalam perang Mu’tah. Perang ini adalah pertama kali umat Islam menghadapi imperium Romawi.

Abdullah bin Rawahah, pernah mendapat reaksi nyinyir dari beberapa orang lantaran dia kesengsem dengan budak miliknya, yang kemudian dimerdekakannya dan dinikahinya.
Mesipun demikian Abdullah bin Rawahah tetap tenang dan bahkan merasa bangga bisa memerdekakan budak dan mengangkat derajatnya yakni menjadi istri pendampingnya.

Bagi aktifis 1912, Abdullah bin Rawahah adalah fenomenal dan inspiratif. Perpaduan antara keta’atan, seni, dan keberanian, menjadikan Abdullah bin Rawahah tampil sebagai sosok yang berwibawa, bermartabat, disukai oleh sesama sahabat, juga disukai oleh Rasulullah saw, Dan satu lagi yang secara khusus disukai oleh Rasulullah saw adalah kepandaiannya bersya’ir. Abdullah bin Rawahah dikenal sebagai seniman tetapi juga pejuang sejati.
Hidup memang harus bermakna, dan bisa memberi manfaat kepada sesama. Hidup juga harus menjadi pejuang. Tetapi hidup juga harus diiringi dengan seni agar hidup menjadi indah dan bergairah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here