Ibrah Kehidupan: Abdullah bin Rawahah, Seorang Seniman dan Panglima Perang (1)

0
236
Foto diambil dari internet

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah Al-Anshari Al-Khazraji. ia merupakan paman dari sabahat besar Nu’man bin Basyir. Abdullah bin Rawahah sering dipanggil Ibnu rawahah, atau Abu Muhammad.

Ibnu Rawahah, atau Abu Muhammad merupakan salah satu dari dua belas pemimpin anshar setelah tercapainya Bai’at ‘Aqabah kedua.
Dalam salah satu riwayat disebutkan, bahwa setelah tercapainya kesepakatan dengan utusan kaum anshar, Rasulullah saw meminta kepada kaum Anshar untuk memilih 12 orang di antara mereka sebagai pemimpin kaum mereka.

Ke-duabelas orang inilah yang nantinya akan bertanggung jawab untuk merealisasikan butir-butir yang tertera dalam kesepakatan bai’at Aqabah kedua. Pada saat itu terpilih dua belas orang pemimpin, sembilan orang dari suku Khazraj dan tiga orang dari suku Al-Aus.
Saat Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, Ibnu rawahah adalah orang yang mula-mula menyambut kedatangan beliau. Ia menuntun kendaraan (unta) beliau dan berkata, “Kemarilah, wahai Rasulullah saw, Anda akan mendapat penghormatan dan perlindungan.”
Suatu hari, Nabi Muhammad saw melintas di depan majlis Abdullah bin Ubay, pemimpin orang-orang munafik. Kemudian Rasulullah saw duduk di majlis tersebut dan membaca Al Quran. Ibnu Ubay mengatakan kepada Nabi Muhammad saw, “Hei, lebih baik kamu tinggal di rumahmu saja daripada kamu membaca Al Quran di sini.
Lebih lanjut Ibnu Ubay bilang : Jika ada orang yang datang kepadamu, maka sampaikanlah Al Quran itu kepada mereka, tapi kalau tidak ada orang yang datang kepadamu, maka janganlah kamu mendatangi majlisnya dengan sesuatu yang mereka benci kepadamu.
Nabi Muhammad saw tetap tenang, tidak bereaksi secara negative kepada Abdullah bin Ubay.

Mendengar ucapan Abdullah bin Ubay ini, Ibnu Rahawah bangkit sambil menghunus pedangnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya apa yang Anda katakan adalah kebenaran dan tidak ada kebatilan yang datang dari arah depan dan belakangnya. Demi Allah, sesungguhnya apa yang Anda bacakan tadi adalah sesuatu yang paling aku sukai. Maka, datanglah Anda ke majlis dan rumah kami, karena bacaan Al Quran itu sesuatu yang paling kami sukai.”
Suatu saat pernah terjadi, ketika Rasulullah saw sedang thawaf di Baitullah pada ibadah umrah, Ibnu Rawahah berada di depan beliau sambil bersyair:

“Oh… Ya Robb, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya kami tidaklah akan mendapat petunjuk,
Juga tidak akan bersedekah dan shalat. Maka mohon turunkan sakinah atas kami,
Dan, teguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.
Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami,
Bila mereka membuat fitnah, akan kami tolak dan kami tentang.” (demikian untaian syairnya).

Abdullah bin Rawahah, diberi keistimewaan oleh Allah yaitu pandai menulis dan bersya’ir. Beliau adalah seorang seniman yang disukai oleh Nabi Muhammad saw, bahkan Nabi Muhammad saw pernah mengatakan kepada Ibnu Rawahah bahwa kepandaian bersya’ir-nya tidak akan menjadikan orang lain merasa iri kepadanya, karena hal itu adalah karunia dari Allah swt.

Di samping itu Ibnu rawahah adalah seorang perwira, pemberani dan memiliki jiwa kepemimpinan yang handal, sehingga pernah ditunjuk oleh Nabi menjadi panglima perang dalam perang Mu’tah. Perang Mu’tah adalah perang melawan imperium Romawi.

IBRAH DARI KISAH INI:

Abdullah bin rawahah, atau dikenal dengan panggilan Ibnu rawahah, adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad saw dari kaum anshar.
Di samping memiliki jiwa seniman, yaitu kepandaian menggubah sya’ir , Ibnu Rawahah ternyata juga seorang mujahid sejati, perwira dan pemberani, bahkan memiliki jiwa kepemimpinan yang handal. Itulah sebabnya di kemudian hari karir militernya memuncak, dan ditunjuk oleh Nabi Muhammad saw menjadi komandan/ panglima perang dalam “perang Mu’tah”.

Bagi Ibnu rawahah, seni adalah bagian dari kehidupannya, dan Jihad adalah “ruh” bagi dakwah Islam. keduanya (seni dan Jihad) diperlukan oleh setiap muslim yang beriman sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai hamba Allah swt.

Allah berfirman dalam surah al-Ankabut ayat 6 :
وَمَن جَٰهَدَ فَإِنَّمَا يُجَٰهِدُ لِنَفْسِهِۦٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya : Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Maksud ayat ini adalah, Barangsiapa bersungguh-sungguh dengan membawa dirinya kepada ketaatan dan menjauhi larangan serta berjuang di jalan Allah, sebenarnya perjuangannya itu untuk dirinya sendiri, karena manfaatnya itu kembali kepada dirinya, dan Allah tidak butuh kepada seluruh makhluk, sehingga ketaatan mereka tidak menambah-Nya dan kemaksiatan mereka tidak mengurangi-Nya.
Abdullah bin rawahah, seorang seniman, dan juga panglima perang. Subhanallah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammmdiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here