Ibrah Kehidupan: Abdullah bin rawahah, Tegas Bersikap, Menolak Segala Macam Suap (-3)

0
194

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Dalam salah satu riwayat disebutkan, Rasulullah bersabda: “ لَعَنَ اللهُ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي “ , Allah melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap,” demikian sabda Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.
Abdullah bin Rawahah, adalah sahabat Nabi Muhammad saw. dari kalangan Anshar. Beliau adalah seorang penyair yang cakap. Rangkaian kata-kata dalam syair-syair yang dibuatnya begitu indah dan kuat sehingga Nabi Muhammad saw. sangat menyukai dan menikmatinya.
Nabi Muhammad saw. bahkan mendorongnya agar lebih tekun membuat syair. Semenjak masuk Islam, dia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk kejayaan Islam.

Abdullah bin Rawahah berbaiat kepada Nabi Muhammad saw pada saat Baiat Aqabah Pertama (Ula). Pada saat itu, Abdullah bin Rawahah bersama 12 orang dari Madinah datang ke Makkah secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kafir Quraisy. Mereka kemudian menyatakan diri untuk menerima ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Mereka inilah yang nantinya menjadi pendakwah Islam pertama di Madinah dan membukakan jalan bagi hijrahnya Nabi Muhammad saw. Seiring dengan berjalannya waktu, Islam berkembang pesat di Madinah, terutama setelah Nabi Muhammad saw menetap di kota ini.

Abdullah bin Rawahah, menjadi salah satu sahabat kepercayaan Nabi Muhammad saw. Dia ditugaskan untuk melakukan banyak hal. Salah satunya adalah untuk mengecek harta benda masyarakat Khaibar untuk keperluan penarikan jizyah (pajak).
Dari suatu sumber, (Al-Bukhari dan Muslim, Mun’im al-Hasyimi, 2018), suatu ketika Nabi Muhammad saw. menugaskan Abdullah bin Rawahah datang ke wilayah Khaibar untuk menaksir jumlah kurma yang dimiliki masyarakat di sana. Pengecekan itu dimaksudkan untuk keperluan penetapan jumlah jizyah (pajak bagi penduduk non-Muslim).
Khaibar, adalah wilayah yang mayoritas penduduknya yahudi. Sesuai kesepakatan, mereka harus membayar pajak (jizyah) karena tinggal di wilayah kekuasaan Islam. Sesuai dengan perintah Nabi Muhammad saw., Abdullah bin Rawahah memeriksa jumlah kurma yang masih menggantung di atas pohon di Khaibar.

Namun tidak disangka-sangka, penduduk Khaibar yang notabennya etnis Yahudi mengumpulkan perhiasannya dan menemui Abdullah bin Rawahah. Penduduk Khaibar menyerahkan perhiasannya itu kepada Abdullah bin Rawahah dengan harapan utusan Nabi itu mengurangi taksirannya dan memberikan keringanan dalam hal jizyah.
Abdullah bin Rahawah dengan tegas langsung menolak suap yang ditawarkan penduduk Khaibar itu. Dia menegaskan, harta suap adalah harta haram. Oleh karena itu, dia tidak mau mengambilnya barang sedikitpun.

“Harta sogokan (risywah) yang kalian tawarkan kepadaku adalah harta haram. Kami tidak akan memakannya,” tegas Abdullah bin Rawahah. Setelah penolakan itu, masyarakat Khaibar berpendapat kalau sikap tegas Abdillah bin Rawahah itulah yang menyebabkan bumi dan langit masih tegak.
Begitulah teladan dari Abdullah bin Rawahah, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dia menunjukkan sikap amanah meski dihadapkan pada godaan harta benda yang berlimpah.

IBRAH DARI KISAH INI :

Abdullah bin Rawahah, salah satu sahabat kepercayaan Nabi Muhammad saw dalam banyak hal, terutama ketika mendapat tugas mengurusi persoalan Jizyah (pajak bagi non muslin) bagi penduduk Khaibar.

Kelembutan jiwa seni-nya, tidak mengurangi kewibawaan sebagai prajurit dan panglima perang. Demikian juga kelembutan hati-nya tidak mengurangi kejujuran ketegasannya dalam bersikap meskipun menghadapi godaan materi dan berbagai rayuan.
Sebagaimana diketahui bahwa penduduk Khaibar mayoritas adalah beragama Yahudi. Tetapi karena berada di wilayah kekuasaan Islam maka mereka diwajibkan memberi pajak kontribusi sebagai hak perlindungan kaum non muslim yang dikenal dengan Jizyah.
Abdullah bin rawahah, menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya. Ketika masyarakat Khaibar sepakat memberikan hadiah kepada Ibnu rawahah dengan harapan pajak yang harus dibayar tidak besar.

Maka dengan tegas Ibnu rawahah menolak suap tersebut. Barang suap adalah barang haram, demikian penjelasan Ibnu rawahah secara tegas.
Inilah profil teladan yang telah ditunjukkan oleh Ibnu rawahah, salah satu kader terbaik yang telah dibina sendiri oleh Nabi Muhammad saw.

Wahai kader 1912, tentu kita ingat firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 188 :
وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here