Ibrah Kehidupan #209: Harun Al-Rasyid Khalifah Kharismatik itupun Wafat, Meninggalkan Prestasi gemilang

0
236

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Kehidupan Harun diwarnai dengan jihad fi sabilillah, terlebih ketika beliau menjadi khalifah. Terdapat tulisan di lilitan sorban yang beliau pakai di atas kepala bertuliskan “غازٍ حاجاً”. Beliau berjanji untuk menegakkan kalimatullah dan menghilangkan segala ancaman di wilayah Daulah Abbasiyah.

Beliau menolak untuk lemah dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Setiap kali beliau mendengar hadis Rasulullah “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggamannya sesungguhnya aku sangat senang berperang di jalan Allah hingga aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi hingga aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi hingga aku terbunuh” beliau menangis tersedu-sedu dengan kencang.

Harun Ar-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada September 786 M, pada usianya yang sangat muda, 23 tahun. Jabatan khalifah itu dipegangnya setelah saudaranya yang menjabat khalifah, Musa Al-Hadi wafat. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Harun Ar-Rasyid didampingi Yahya bin Khalid dan empat putranya.

Ke-Shaleh-an Khalifah Harun Al-Rasyid bukan hasil jerih payahnya sendiri melainkan disupport oleh masyarakat dan negara. Tidak heran jika banyak ulama hebat pada saat itu. Sebab para Ibunda mereka hidup dengan visi yang jelas, sehingga Ibunda tahu bagaimana anak harus di didik, kemana sang anak harus di arahkan. Tidak ada lagi istilah krisis multidimensi pada pemuda atau istilah generasi strawberry yang menggambarkan penampakkan pemuda yang indah dari luar tapi rapuh di dalamnya.

Al-Khatib al-Baghdadi menyebutkan dalam Tarikh Baghdad, “Sebagian sahabat Harun bercerita bahwa ia shalat setiap hari sebanyak 100 rakaat. Hal itu ia lakukan dengan istiqomah hingga wafat. Kecuali ada sebab yang menghalanginya. Ia bersedekah dengan mendermakan 1000 dirham setiap hari. Apabila ia menunaikan haji, turut serta bersamanya 100 ahli fikih (ulama) dan anak-anak mereka. Jika ia tidak berhaji, maka ia menghajikan 300 orang dengan bekal baju besi, kiswah, dan yang lainnya.” (Tarikh Baghdad Bab al-Ha-u)

Al-Mas’udi mencatat tahun-tahun dimana Harun al-Rasyid menunaikan ibadah haji. Dari catatannya Harun al-Rasyid berhaji pada tahun 170, 173, 174, 175, 176, 177, 178, 179, 181, 186, dan 188 H. Adz-Dzahabi mengatakan dalam Tarikhnya, “Tahun 179, Harun al-Rasyid ber-umrah di bulan Ramadhan. Ia senantiasa dalam ihramnya hingga musim haji tiba. Ia berjalan dari rumahnya menuju Arafah.” (Siyar A’lam Nubala, Juz: 7 al-Rasyid).

Khalifah Harun Ar-Rasyid meninggal dunia di Khurasan pada 3 atau 4 Jumadil Tsani 193 H/809 M setelah menjadi khalifah selama lebih kurang 23 tahun 6 bulan. Seperti ditulis Imam As-Suyuthi, ia meninggal saat memimpin Perang Thus, sebuah wilayah di Khurasan. Saat meninggal usianya 45 tahun, bertindak sebagai imam shalat jenazahnya adalah anaknya sendiri yang bernama Shalih. Daulah Abbasiyah dan dunia Islam saat itu benar-benar kehilangan sosok pemimpin yang shalih dan adil, sehingga tak seorang pun yang teraniaya tanpa diketahui oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid dan mendapatkan perlindungan hukum yang sesuai.

Harun Al-Rasyid, seorang khalifah yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang luar biasa di hadapan rakyatnya. Tidak ada satupun rakyat yang punya keluhan atau kesulitan melainkan setelah sampai ke telinga sang khalifah pasti segera mendapat solusinya.

Kekuatan dan kebesaran daulah Bani Abbasiyah telah menjadikan dunia barat (eropa) benar-benar ketakutan bahkan hormat kepada imperium islam ini, terutama kepada sang khalifah Harun Al-Rasyid.

IBRAH DARI KISAH INI:

Cukup sudah dengan kalimat “Mumtaz” untuk zaman keemasan peradaban Islam di zaman dinasti Bani Abbasiyah, khususnya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid ini. Sedemikian majunya peradaban Islam sampai-sampai orang barat (eropa dan amerika) terkagum-kagum menyaksikan kemajuan peradaban ini.

Khusus mengambil Ibrah dari pribadi Harun Al-Rasyid, bahwa kemajuan suatu negara berbanding lurus dengan kemajuan Lembaga pendidikannya. Dan Lembaga Pendidikan yang baik tentu ditentukan juga oleh siswa yang baik, dan tak kalah pentingnya guru-guru atau dosen-dosen yang berkualitas.

Jangan lupa bahwa “Rumah” adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Di Madrasah pertama itu peran orang tua sebagai guru utama sangat penting dan menentukan. Lewat madrasah pertama itulah orang tua mendisain anak-anaknya “bagaimana harus melangkah” dan juga kemana “arah yang hendak dituju”, sehingga benar-benar menjadi anggota keluarga yang berkualitas.

Keluarga yang berkualitas menjadi modal kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang berkualitas juga. Jadi Negara yang berkualitas ditentukan oleh keluarga dan pribadi-pribadi anggota keluarga yang juga berkualitas. Semoga.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here