IBRAH KEHIDUPAN : Ibnu Abbas, Pembelajar sejak kecil (-2)

0
83
Foto ibnu-abbas-ilustrasi diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara Rasulullah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya: ummahatul mu’minin, Maimunah bint al-Harist. Ketika itu ia melihat Rasulullah bangun tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana Rasulullah berwudhu. Rasulullah – sang murobbi agung itu – tidak menyepele kan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo’akan: “Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu.”

Kemudian Rasulullah saw berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang Rasulullah saw; tetapi Rasulullah saw kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya. Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan Rasulullah saw, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, Rasulullah mempertanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan Allah SWT. Rasulullah saw ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do’anya ketika berwudhu tadi.

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, Rasulullah saw wafat. Demi untuk mendapatkan ilmu, Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau da’wahnya.
Menginjak usia dewasa, beliau menjadi seorang pemuda yang berwawasan luas, yang lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro-nya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas, dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior.

Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau bergabung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan Abdullah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam pertempuran dan juga dalam da’wah di sana. Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk menemui dan berda’wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.

Ibrah dari Kisah ini:

Jika hidup anda ingin “bersinar”, maka dekatilah sumber sinar yang ada. Mungkin ini pepatah yang sesuai dengan seorang pembelajar. Jika kita ingin mendapatkan ilmu maka dekatilah para ilmuwan. jika kita ingin menjadi orang pintar maka harus banyak bergaul dengan para pemilik kecerdasan yang kita ketahui.

Dalam hal ini Abdullah bin Abbas , atau Ibnu Abbas telah melakukan hal itu. Dia selalu berguru kepada para sahabat senior tentang agama Islam. bahkan Ibnu Abbas selalu menguntit Nabi Muhammad saw dan mencermati bagaimana cara beribadah yang baik dan benar. Tidak ada kata malu atau gengsi dalam menuntut ilmu.

Abdullah bin Abbas, yang dikenal dengan panggilan “Ibnu Abbas” , yang tadinya selalu berguru kepada para sahabat seniornya, di kemudian hari (atas kehendak Allah) terjadi sesuatu yang sebaliknya, yakni para sahabat senior malah banyak yang meminta pendapat kepada Ibnu Abbas tentang berbagai masalah agama. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh dalam kehidupan ini.
Mari  kader 1912 menjadi pembelajar yang baik

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here