Ibrah Kehidupan #69: Ibnu Zubair, Bakat Politisinya muncul (-3).

0
101
Foto Ilustrasi diambil dari Syahida.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi

Ibnu Zubair, di samping keberanian dan kecerdasannya, ternyata dia punya bakat di bidang militer. Pada masa Khulafaur Rasyidin, ia mengikuti berbagai kampanye pertempuran baik melawan Kekaisaran Byzantium maupun melawan Kekaisaran Sassaniyah. Dia juga bersama dengan ayahnya, Zubair bin Awwam dan Aisyah bertempur dalam perseteruan “fitnah politik” di internal umat Islam melawan Ali bin Abi Thalib pada Pertempuran “Perang Jamal”.

Pada umur 36 tahun, masa khalifah ke-4, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Zubair bersama dengan tantenya, Aisyah binti Abu Bakar, ayahnya Zubair bin Awwam serta sepupu ibunya Thalhah bin Ubaidillah mereka terlibat fitnah besar dan terjadilah Pertempuran Unta atau “Perang Jamal” di daerah Basrah. Peperangan ini mengakibatkan hampir 20.000 orang muslimin meninggal, termasuk ayahnya sendiri, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubadillah.

Ibnu Zubair tidak aktif dalam politik selama masa kekuasaan Muawiyah, tetapi ketika Yazid-I, naik menjadi khalifah, ia menolak untuk berbaiat terhadap khalifah yang baru.

Setelah kematian Husain bin Ali di Pertempuran Karbala, Ibnu Zubair kembali ke Hejaz, di mana ia menyatakan dirinya sebagai khalifah yang sebenarnya, dan dia mulai membentuk pasukan. Secepatnya ia mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengirim seorang gubernur ke Kufah. Segera, Ibnu Zubair memantapkan keuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan bagian terbesar Syam, serta sebagian Mesir. Ibnu Zubair memperoleh keberuntungan yang besar karena ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Salah seorang pendukungnya adalah Muslim bin Syihab, ayah dari Ibnu Syihab al-Zuhri yang kemudian menjadi cendekiawan muslim terkenal.

Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu Mekkah pada tahun 64 H, ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh Husain bin Numair. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan katapel, di mana peluru katapel ini pernah menghancurkan Ka’bah. Tetapi karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke Damaskus. Maka Ibnu Zubair dapat terbebaskan dan ia membangun kembali Ka’bah yang berantakan karena serbuan pasukan Umayyah. Kematian Yazid yang tiba-tiba ini mengakibatkan pula makin berantakannya kekuasaan Bani Umayyah dan perang saudara antar Bani Umayyah.

Kekalahan Ibnu Zubair terjadi di ketika kekhalifahan Umayyah dipegang oleh Abdul-Malik, di mana Abdul-Malik mengirim Hajjaj bin Yusuf untuk menggabungkan kekaisaran Islam. Hajjaj memerintahkan pengepungan terhadap Mekkah, pusat kekuasaan Ibnu Zubair saat itu, selama 8 bulan dan 17 hari dengan terus melemparkan bola api melalui katapel, yang membakar tutup Ka’bah dan kayu-kayu penyangga, Ibnu Zyubair tertangkap dan dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf pada tanggal 17 Jumadil Awwal 73 H atau 4 Oktober 692.

Ibrah dari Kisah ini :

Abdullah Bin Zubair, yang popular dengan panggilan Ibnu Zubair, benar-benar sebuah contoh klasik yang utopis. Sosok yang nyaris mendekati sempurna dalam perilaku kehidupannya.

Ibnu Zubair, seorang yang “Multi Talenta” sehingga pantas dijadikan sebagai teladan bagi setiap muslim di manapun berada.
Terlepas soal karir politiknya, yang mengantarkannya pada kematian yang tragis, maka Ibnu Zubair tetaplah harum Namanya sebagai pahlawan Perang, sekaligus sebagai Pahlawan Ibadah.

Sering kali kita jumpai anak muda yang nyaris sebagai aktifis organisasi, berilmu tinggi, luas wawasannya, tetapi sangat lemah dalam hal ibadah. Sungguh sangat ironis.

Ibnu Zubair, seorang multi talenta, adalah termasuk “sedikit orang” yang telah menggabungkan sisi dunia dan sisi akherat. Mari Kader 1912 contoh salah satu generasi terbaik ini

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here